Pemkab Donggala Ajak Lintas Sektor Perkuat Penanganan Stunting Terpadu
Pemerintah Kabupaten Donggala serius menggarap Penanganan Stunting dengan melibatkan berbagai pihak, menargetkan penurunan angka prevalensi secara signifikan. Simak strategi lengkapnya dalam upaya mewujudkan generasi mendatang yang lebih berkualitas.
Pemerintah Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, secara aktif mengajak seluruh lintas sektor untuk melakukan penanganan stunting di wilayahnya secara terpadu. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya serius pemerintah daerah untuk mengatasi masalah gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan anak. Langkah kolaboratif ini diharapkan dapat mempercepat penurunan angka prevalensi stunting di Donggala.
Bupati Donggala, Vera Elena Laruni, menegaskan pentingnya kerja sama semua pihak dalam penanganan stunting. Persoalan stunting ini harus menjadi perhatian seluruh pihak karena memang berdampak langsung pada kualitas generasi mendatang. Penanganan stunting memerlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Strategi penanganan yang diusung mencakup pelayanan kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi yang adekuat, penyediaan akses air bersih, serta sanitasi yang layak. Selain itu, penguatan peran keluarga dan edukasi masyarakat juga menjadi pilar utama dalam upaya ini. Koordinasi antar-perangkat daerah juga diperkuat melalui kegiatan pra-musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) tematik stunting.
Strategi Kolaboratif Lintas Sektor Atasi Stunting
Penanganan stunting di Donggala tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus dikerjakan secara bersama-sama oleh berbagai elemen. Pemerintah Kabupaten Donggala mengidentifikasi beberapa area kunci yang memerlukan intervensi terpadu. Ini termasuk peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak sejak masa kehamilan hingga balita.
Bupati Donggala Vera Elena Laruni di Banawa, Jumat (13/3), menyatakan, “Jadi penanganan stunting harus dikerjakan secara bersama-sama mulai dari pelayanan kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi, akses air bersih serta sanitasi hingga penguatan peran keluarga dan edukasi masyarakat.” Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya sinergi antara dinas kesehatan, dinas pekerjaan umum, dinas sosial, dan lembaga terkait lainnya.
Untuk memastikan program yang direncanakan tepat sasaran, kegiatan pra-Musrenbang tematik stunting menjadi forum penting. Forum ini berfungsi untuk memperkuat koordinasi antar-perangkat daerah, menyelaraskan program, dan mengidentifikasi kebutuhan spesifik di setiap wilayah. Dengan demikian, alokasi sumber daya dapat lebih efisien dan efektif dalam mencapai tujuan penurunan stunting.
Target Ambisius dan Capaian Penurunan Stunting di Donggala
Pemerintah Kabupaten Donggala telah menetapkan target ambisius untuk menurunkan angka prevalensi stunting dalam beberapa tahun ke depan. Saat ini, capaian prevalensi stunting di Donggala masih berada di angka 29,6 persen. Angka ini menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk mencapai target yang diharapkan.
Pemerintah daerah bertugas untuk segera menurunkan angka tersebut. Target prevalensi stunting di Donggala ditetapkan sebesar 24,3 persen pada tahun 2026. Lebih lanjut, pemerintah daerah juga menargetkan penurunan menjadi 23,8 persen pada tahun 2027. Ini menunjukkan komitmen jangka panjang Pemkab Donggala dalam mengatasi masalah stunting.
Meskipun demikian, ada kabar baik dari beberapa wilayah di Donggala. Terdapat sejumlah kecamatan di Donggala berhasil menekan angka stunting selama tahun 2025. Kecamatan-kecamatan tersebut meliputi Sojol, Sindue Tobata, dan Tanantovea. Keberhasilan ini menjadi motivasi dan contoh praktik baik bagi kecamatan lain untuk mengimplementasikan program penanganan stunting secara lebih intensif.
Sumber: AntaraNews