Pakar Ummat Dorong Penguatan Etika Informasi Digital untuk Dakwah Berkemajuan
Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat) menekankan pentingnya Etika Informasi Digital di tengah derasnya arus informasi. Bagaimana prinsip tabayyun relevan dalam dakwah dan komunikasi publik yang bertanggung jawab?
Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat) melalui Kuliah Pakar dan Festival Ramadhan 1447 Hijriah mendorong penguatan etika informasi sehat. Kegiatan ini berlangsung pada hari Jumat di kampus Ummat, Nusa Tenggara Barat. Tujuannya adalah menghadapi derasnya arus informasi digital yang semakin cepat dan tanpa batas.
Prof. TGH. Fahrurrozi, seorang Pakar Komunikasi Dakwah, menyoroti perubahan besar dalam metode penyampaian dakwah. Ruang digital kini menjadi medium baru yang sangat luas, melengkapi ruang fisik seperti mimbar masjid atau majelis taklim. Ini membuka peluang besar bagi dakwah Islam untuk menjangkau generasi muda secara lebih luas dan lintas wilayah.
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik NTB, Ahsanul Khalik, menyoroti tantangan komunikasi publik. Ia menekankan bahwa kecepatan informasi harus diimbangi dengan kualitas dan tanggung jawab dalam penyampaiannya. Pentingnya Etika Informasi Digital menjadi sorotan utama dalam diskusi ini untuk memastikan informasi yang disampaikan membawa kebenaran dan kemaslahatan.
Transformasi Dakwah di Era Digital
Perkembangan teknologi komunikasi telah membawa perubahan signifikan dalam metode penyampaian dakwah. Jika sebelumnya dakwah lebih banyak berlangsung di ruang-ruang fisik, kini ruang digital menjadi medium baru yang sangat luas. Media sosial dan platform digital memungkinkan pesan keagamaan menjangkau masyarakat secara lebih luas dan lintas wilayah, termasuk generasi muda.
Prof. Fahrurrozi menegaskan bahwa perkembangan media digital membuka peluang besar bagi dakwah Islam. Namun, pesan dakwah tetap harus disampaikan dengan pendekatan yang bijak serta memperhatikan etika komunikasi. Hal ini penting agar dakwah digital tidak hanya viral, tetapi juga membawa nilai kebenaran dan kemaslahatan bagi umat.
Literasi media menjadi kemampuan krusial bagi para komunikator dakwah di era digital ini. Kemampuan ini memastikan pesan yang disampaikan tidak sekadar menarik perhatian, melainkan juga memiliki integritas dan dampak positif. Penguatan literasi media adalah kunci untuk menjaga kualitas Etika Informasi Digital dalam konteks dakwah.
Tantangan dan Risiko Informasi Digital
Ahsanul Khalik menyoroti tantangan komunikasi publik di era ledakan informasi, di mana hampir setiap individu dapat menjadi produsen informasi. Perkembangan ini membawa dua sisi sekaligus, yaitu peluang besar bagi penyebaran pengetahuan dan risiko meningkatnya hoaks.
Selain hoaks, risiko lain yang muncul adalah manipulasi opini publik dan polarisasi sosial. Kecepatan pergerakan informasi di era digital harus diimbangi dengan kualitas dan tanggung jawab dalam penyampaiannya. Oleh karena itu, penguatan Etika Informasi Digital sangat diperlukan untuk menanggulangi dampak negatif ini.
Pentingnya verifikasi informasi menjadi semakin mendesak di tengah arus informasi yang tak terbendung. Tanpa tanggung jawab dan kualitas yang memadai, informasi dapat dengan mudah menyesatkan dan merugikan masyarakat. Diskusi ini menekankan perlunya kesadaran kolektif terhadap tantangan ini.
Etika Islam dan Verifikasi Informasi
Dalam perspektif Islam, komunikasi publik memiliki fondasi etika yang kuat melalui prinsip tabayyun. Tabayyun adalah kewajiban untuk memverifikasi informasi sebelum disebarkan kepada masyarakat, suatu prinsip yang sangat relevan di era digital.
Firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 menegaskan pentingnya memeriksa kebenaran suatu berita agar tidak menimbulkan kesalahan informasi yang merugikan. Prinsip ini memiliki relevansi yang sangat kuat dengan praktik jurnalistik modern yang menekankan verifikasi fakta sebelum publikasi.
Tradisi keilmuan Islam, khususnya metodologi ilmu hadis, telah mengembangkan sistem pengujian kredibilitas informasi yang sangat ketat. Hal ini menunjukkan bahwa etika informasi merupakan bagian integral dari fondasi peradaban Islam. Penerapan prinsip tabayyun adalah bentuk nyata dari Etika Informasi Digital yang bertanggung jawab.
Peran Mahasiswa KPI dan Modal Sosial Keagamaan NTB
Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) memiliki peran strategis sebagai generasi komunikator masa depan. Mereka diharapkan mampu memadukan kecakapan teknologi dengan integritas moral untuk menyebarkan informasi yang benar dan bermanfaat.
Mahasiswa dapat berperan sebagai agen literasi digital melalui produksi konten edukatif dan dakwah digital. Selain itu, mereka juga dapat mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya memverifikasi informasi di tengah arus media sosial yang masif. Ini adalah kontribusi nyata dalam membangun Etika Informasi Digital.
Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki modal sosial keagamaan yang kuat untuk membangun komunikasi publik yang beretika di tengah transformasi digital. Masjid, pesantren, perguruan tinggi, serta komunitas media dapat menjadi pusat penguatan literasi informasi yang sehat bagi masyarakat. Kolaborasi ini penting untuk menciptakan ekosistem informasi yang positif dan bertanggung jawab.
Sumber: AntaraNews