Nunggal Sang Petarung, Kisah Hidup Preman Legendaris di Kota Solo
Nunggal belajar bertarung otodidak dari perkelahian-perkelahian yang dijalani. Naluri, mental dan kemampuan berkelahi dia terus terasah.
Nunggal, nama yang cukup melegenda di Kota Solo. Ia bukan seorang pahlawan, bukan pula tokoh masyarakat terhormat, melainkan seorang preman yang disegani, pemimpin kelompok Gondhez's (GDZ's), sebuah organisasi besar yang anggotanya tersebar di Solo, Karanganyar, dan sekitarnya. Kematiannya pada usia 57 tahun meninggalkan warisan cerita yang hingga kini masih diperbincangkan, mengisahkan perjalanan hidup seorang petarung jalanan yang akhirnya menjadi figur berpengaruh di kotanya.
Berawal dari kepulangannya ke Solo dari Jakarta pada tahun 1984, Panunggal atau yang akrab dipanggil Nunggal membentuk GDZ's. Kelompok ini bukan sekadar kumpulan preman biasa. Mereka dikenal aktif dalam berbagai kegiatan, mulai dari berkumpul sederhana hingga melakukan touring dengan ratusan sepeda motor ke berbagai tempat wisata seperti Parangtritis dan Tawangmangu. Di balik kegiatan-kegiatan tersebut, tersimpan pula catatan perkelahian antar kelompok yang melibatkan GDZ's di bawah kepemimpinan Nunggal.
Meskipun terlibat dalam dunia kriminal, Nunggal dikenal sebagai pemimpin yang loyal terhadap anggotanya. Ia memiliki puluhan orang kepercayaan yang disebut 'panglima tempur', yang selalu siap membantunya. Kepemimpinannya yang kuat dan kesetiaannya pada kelompok membuat Nunggal disegani, bahkan oleh lawan-lawannya. Ia meninggalkan seorang istri, tiga anak, dan empat cucu yang kini mengenang sosok sang petarung legendaris.
Masa Muda dan Perjalanan Menuju Puncak Kekuasaan
Cerita yang beredar di Solo menggambarkan sosok Nunggal sejak muda telah terbiasa dengan perkelahian dan pertarungan jalanan. Kemampuan bertarungnya yang mumpuni menjadi modal awal bagi dirinya untuk membangun pengaruh dan kekuasaan di tengah hiruk pikuk kehidupan preman di Solo.
Setelah kembali ke Solo, Nunggal dengan cepat membangun jaringan dan merekrut anggota untuk GDZ's. Kemampuannya memimpin dan mengatur strategi dalam perkelahian antar kelompok membuat GDZ's menjadi salah satu kelompok preman terbesar dan disegani di Solo. Ia dikenal tegas dan disiplin dalam memimpin, tetapi juga mampu merangkul anggotanya dengan loyalitas yang tinggi.
Nunggal bukan hanya seorang petarung ulung, tetapi juga seorang pemimpin yang cerdas dalam strategi. Ia mampu memanfaatkan situasi dan kondisi untuk memperkuat posisinya dan pengaruh GDZ's. Kisah-kisah keberhasilannya dalam berbagai pertarungan dan negosiasi menjadi legenda yang terus diceritakan dari generasi ke generasi di kalangan preman Solo.
Nunggal si preman Solo ini mengaku tidak ingat berapa kali terlibat pertarungan fisik selama menjadi pemimpin GDZ's. Postur tubuhnya yang kekar, Nunggal selalu berhasil memenangi pertarungan itu, baik tangan kosong atau dengan senjata.Namun menariknya, Nunggal tidak pernah sekali pun belajar bela diri. Dia belajar secara otodidak dari perkelahian-perkelahian yang dijalani.
Naluri, mental dan kemampuan berkelahi dia terus terasah dari satu pertarungan ke pertarungan yang lain. Kebetulan sejak remaja Nunggal sudah sering berkelahi.“Saat berkelahi saya lihat lawan. Dia bawa senjata atau tidak. Kalau dia bawa senjata, saya pakai senjata juga. Kalau dia tangan kosong ya saya juga harus tangan kosong,” terang dia.
Kehidupan Pribadi dan Warisan Nunggal
Di balik sosok preman yang disegani, Nunggal juga memiliki kehidupan pribadi. Ia dikenal sebagai seorang suami dan ayah yang menyayangi keluarganya. Meskipun terlibat dalam dunia kriminal, ia berusaha melindungi keluarganya dari dampak negatif aktivitasnya. Sayangnya, detail kehidupan pribadinya tidak banyak diketahui publik.
Kematian Nunggal pada usia 57 tahun meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, anggota GDZ's, dan juga bagi mereka yang pernah berinteraksi dengannya. Meskipun aktivitasnya berada dalam konteks tindakan kriminal, kisah hidupnya tetap menjadi legenda di Solo, menggambarkan sosok preman yang disegani dan memiliki pengaruh besar di kotanya. Warisan yang ditinggalkan Nunggal berupa cerita-cerita tentang keberanian, kesetiaan, dan kepemimpinannya yang kuat.
Meskipun Nunggal dikenal sebagai preman legendaris, penting untuk diingat bahwa aktivitasnya tetap berada dalam konteks tindakan kriminal. Kisah hidupnya tidak dimaksudkan untuk membenarkan atau mengagung-agungkan tindakan kriminal, melainkan untuk menggambarkan sebuah fenomena sosial yang pernah terjadi di Solo.
Setelah kepergiannya, legenda Nunggal tetap hidup dalam cerita-cerita yang beredar di Solo. Ia menjadi simbol kekuatan, keberanian, dan juga sebuah peringatan tentang konsekuensi dari kehidupan di luar hukum.
Ribuan orang mengantarkan kepergian Panunggal, yang juga dikenal sebagai Nunggal ke pemakaman di TPU Purwoloyo Solo pada hari Senin (13/5/2024) siang. Mereka berkumpul di rumah duka di Perumahan Solo Bunga 2 Mojosongo, Jebres, sejak pagi hari. Panunggal atau Nunggal dikenal sebagai tokoh yang pernah membesarkan nama kelompok masyarakat Gondhez's (GDZ).
Selain itu, hadir juga tokoh-tokoh seperti Ketua DPC PDIP Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, dan Wakil Wali Kota Solo, Teguh Prakosa, serta beberapa pengusaha Solo. Informasi lain menyebutkan bahwa Nunggal sempat menjalani rawat inap di rumah sakit selama tiga hari sebelum meninggal dunia.
Dalam kesempatan itu, FX Rudy menyampaikan bela sungkawa mendalam kepada keluarga Nunggal. "DPC PDIP Solo benar-benar kehilangan salah satu sesepuh, karena Mas Nunggal jadi pengurus ranting zaman reformasi. Tahun 2000 sampai dua periode kalau tidak salah," ujar dia.