Menkes Budi Ungkap Fakta Mengejutkan, Tiap 5 Menit Dua Orang di Indonesia Meninggal karena TBC
Menteri Kesehatan Budi mengungkapkan bahwa setiap tahunnya, Indonesia mencatat sekitar 1.080.000 kasus baru TBC, dengan angka kematian mencapai 134.000 orang.
Tuberkulosis (TBC) tetap menjadi masalah kesehatan yang serius di Indonesia. Setiap tahunnya, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis ini merenggut nyawa sekitar 134 ribu orang di seluruh Tanah Air.
"Setiap tahun ada 1.080.000 kasus TBC baru di Indonesia, dan 134.000 orang meninggal. Artinya, setiap lima menit, dua orang meninggal karena TBC," kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
Oleh karena itu, menurut Budi, penting untuk melakukan deteksi dini guna mengidentifikasi pengidap serta memberikan pengobatan yang tepat.
Budi mengatakan, pemerintah telah memperkenalkan metode pengobatan baru dengan pendekatan terapi singkat yang sesuai dengan rekomendasi dari World Health Organization (WHO), yaitu regimen Bipal atau Bipal-M.
"Setelah dua sampai tiga minggu mengonsumsi obat, pasien tidak lagi menularkan penyakit. Namun, kuncinya adalah tidak boleh berhenti mengonsumsi obat agar tidak mengalami resistensi," kata Budi mengutip informasi dari Kemenkes RI.
Selain itu, Budi menambahkan bahwa pasien tuberkulosis yang mengalami resistensi obat (RO) juga memiliki peluang untuk sembuh dengan regimen Bipal atau Bipal-M.
Contohnya, terdapat 14 pasien tuberkulosis yang berhasil sembuh setelah menjalani pengobatan di RS Paru dr. Ario Wirawan (RSPAW) Salatiga, Jawa Tengah. Mereka menerima sertifikat kesembuhan dari RS Paru dr. Ario Wirawan (RSPAW) Salatiga pada Sabtu (13/9).
Momen bersejarah ini disaksikan langsung oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Wali Kota Salatiga Robby Hernawan, serta menjadi tonggak penting dalam usaha penanganan salah satu penyakit menular paling mematikan di Indonesia.
RSPAW Menyediakan Layanan Terapi Pasien TBC Resisten Terhadap Obat
Direktur RSPAW, dokter Tarsisius Glory, mengungkapkan bahwa layanan terapi untuk TBC RO telah mengalami perkembangan yang pesat sejak tahun 2023. Kehadiran pasien yang telah sembuh disambut dengan meriah, menjadi simbol harapan bahwa penyakit TBC dapat dikelola dengan baik. Selain fokus pada penanganan TBC, RSPAW juga melayani ribuan pasien kanker.
Dari Januari hingga Agustus 2025, tercatat sebanyak 2.781 kunjungan untuk kemoterapi, yang menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan dengan 797 kunjungan pada tahun 2023 dan 2.089 kunjungan pada tahun 2024. Namun, masih terdapat keterbatasan pada fasilitas radioterapi, sehingga beberapa pasien harus dirujuk ke rumah sakit di luar daerah.
RSPAW juga berperan sebagai rumah sakit pengampu untuk regional respirasi dan paru, dengan melakukan pembinaan terhadap 14 rumah sakit di Jawa Tengah dan 9 rumah sakit di Kalimantan Timur.
"Kami melakukan visitasi, diskusi kasus sulit, pelatihan, hingga mentoring harian melalui platform daring," tambah Tarsisius.
Upaya ini menunjukkan komitmen RSPAW dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan di wilayah tersebut, terutama dalam penanganan penyakit yang memerlukan perhatian khusus seperti TBC dan kanker.
Pengertian TBC Resisten Obat?
Mengacu pada informasi dari Kemenkes RI, TBC Resisten Obat (TB RO) adalah kondisi di mana terdapat resistensi terhadap dua obat anti-TB lini pertama yang paling efektif, yaitu Isoniazide (INH) dan Rifampisin. TB RO dapat muncul selama proses pengobatan TB jika terapi yang diberikan tidak memadai. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan hal ini, antara lain:
- Pasien mungkin merasa lebih baik dan memutuskan untuk menghentikan pengobatan.
- Obat yang diperlukan mungkin tidak tersedia atau sulit didapat.
- Atau, pasien bisa saja lupa untuk mengonsumsi obat sesuai jadwal yang ditentukan.
Oleh karena itu, penting bagi pasien untuk menjalani pengobatan TB dengan disiplin dan terus berkomunikasi dengan tenaga medis agar pengobatan berjalan dengan efektif. Ketidakpatuhan terhadap pengobatan dapat berakibat fatal, tidak hanya bagi pasien itu sendiri, tetapi juga bagi masyarakat luas, karena dapat menyebabkan penyebaran lebih lanjut dari strain TBC yang resisten. Dalam menghadapi masalah ini, edukasi tentang pentingnya pengobatan yang konsisten dan pemahaman tentang penyakit TBC sangatlah penting.