Menag Respons Prediksi BRIN Potensi Beda Awal Ramadan: Kalau Ada yang Lihat Bulan, Kenapa Harus Ditunda?
Nasarudin menyatakan, keputusan terkait jatuhnya awal Ramadan bakal diputuskan setelah sidang isbat yang dilaksanakan besok Jumat (28/2).
Menteri Agama Nasaruddin Umar menanggapi soal peneliti BRIN yang menyebut ada potensi awal Ramadan jatuh pada 2 Maret 2025. Menurutnya, siapapun berhak untuk memprediksi.
"Ya semua orang bisa memprediksi (jatuhnya puasa)," kata Nasaruddin di Kantor Kemenko PMK, Jakarta Pusat, Kamis (27/2).
Meski demikian, Nasarudin menyatakan, keputusan terkait jatuhnya awal Ramadan bakal diputuskan setelah sidang isbat yang dilaksanakan besok Jumat (28/2).
"Tapi keputusan rapat menentukan (awal puasa) esok. Kalau ada yang yang menyaksikan bulan, kenapa harus ditunda. Kalau enggak (ada yang melihat hilal) baru kita diskusi," ucapnya.
Analisis Peneliti BRIN soal Awal Ramadan 2025
Sebelumnya, Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaludin, menjelaskan bahwa posisi bulan di Banda Aceh saat Maghrib 28 Februari 2025 memiliki tinggi toposentrik 4,5° dan elongasi geosentrik 6,4°.
"Ini sedikit melebihi kriteria MABIMS, yaitu tinggi lebih dari 3° dan elongasi lebih dari 6,4°," ujar Thomas, dikutip dari kanal YouTube pribadinya, Senin (24/2).
Namun, di Surabaya, tinggi bulan hanya 3,7° dengan elongasi 5,8°, yang masih di bawah batas kriteria MABIMS.
"Posisi bulan yang terlalu dekat dengan matahari dan ketinggiannya cukup rendah ini menunjukkan kemungkinan besar hilal sulit dirukyat," jelasnya.
Selain faktor astronomi, kondisi cuaca juga berpotensi mengganggu pengamatan hilal.
"Potensi gagal rukyat cukup besar, selain hilal sangat tipis, faktor cuaca kemungkinan besar juga menjadi kendala," tambahnya.
Ketidakpastian hasil rukyat ini berpotensi memicu perdebatan dalam sidang isbat. Thomas menyebutkan ada dua kemungkinan keputusan yang bisa diambil.
"Pertama, sidang isbat tetap konsisten dengan kriteria MABIMS dan merujuk fatwa MUI 1981. Dengan hasil hisab di Aceh yang memenuhi kriteria, maka 1 Ramadan jatuh pada 1 Maret 2025," ujarnya.
Namun, opsi kedua adalah sidang isbat mengambil keputusan berdasarkan hasil rukyat.
"Karena di sebagian besar wilayah Indonesia hilal tidak mungkin dirukyat, maka 1 Ramadan bisa ditetapkan pada 2 Maret 2025," katanya.
Kemenag Gelar Sidang Isbat BesokKeputusan resmi awal Ramadan akan ditentukan dalam sidang isbat yang digelar pemerintah pada Jumat, 28 Februari 2025. Sidang isbat akan berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jakarta.
"Saya pribadi akan ikut keputusan pemerintah pada sidang isbat apa pun hasilnya. Keputusan ikut pemerintah pada sidang isbat karena sidang dihadiri pakar astronomi, pakar fiqih, perwakilan ormas. Selain itu, sidang juga mempertimbangkan aspek astronomis, aspek fiqih, aspek kemaslahatan umat," pungkasnya.