Kisah Perjuangan Mbah Diyem, Jualan Jamu Keliling Sejak 1970 Buat Mimpi ke Tanah Suci jadi Kenyataan
Jamu yang ia dorong bukan sekadar minuman tradisional. Jamu itu adalah harapan yang perlahan ia tukar dengan cita-cita berhaji.
Di bawah terik matahari Mojokerto, seorang perempuan tua menyusuri jalan, mendorong gerobak sederhana berisi botol-botol jamu. Setiap langkah adalah perjuangan. Setiap transaksi adalah doa.
Dari botol-botol jamu yang dijajakannya dengan menggunakan gerobak ini lah, mbah Diyem Wiryo Rejo akhirnya bisa menjejakkan kaki di Tanah Suci.
Dari hasil jerih payahnya menjual jamu keliling selama puluhan tahun ini bisa membuat mbah Diyem kini bersiap ke Baitullah.
"Alhamdulillah, setelah mendaftar haji pada tahun 2012, tahun 2025 ini saya dapat berangkat ke Tanah Suci. Senang dan bersyukur sekali rasanya," tutur mbah Diyem bercerita dengan mata berkaca-kaca.
Bagi Diyem, haji bukan hanya perjalanan spiritual, tetapi juga bukti ketekunan dan mimpi yang diperjuangkan sejak lama. Sebelum bisa mendaftar pada 2012, ia menabung sedikit demi sedikit di rumah. Setiap kali uangnya mencapai satu juta rupiah, ia menyimpannya di bank.
"Saya kumpulkan uang sedikit demi sedikit di rumah untuk ditabung. Kalau lagi ada rezeki, satu bulan sudah dapat terkumpul uang satu juta. Kalau belum ada, ya bisa berbulan-bulan baru bisa terkumpul satu juta. Kalau sudah satu juta, saya tabung ke bank," kenang ibu tiga anak itu.
Sepuluh tahun lamanya dia menyisihkan penghasilan dari jualan jamu, hingga akhirnya uangnya terkumpul Rp25 juta rupiah. Dia akhirnya bisa mendaftar haji bersama sang suami, yang juga menabung dari hasil berjualan nasi goreng.
Jamu yang ia dorong bukan sekadar minuman tradisional. Jamu itu adalah harapan yang perlahan ia tukar dengan cita-cita berhaji.
Sejatinya, keinginan itu sudah ada sejak lama, namun belum kuat. Hingga seorang teman menyarankannya, untuk menabung haji. "Kalau kamu ada tabungan, buat daftar haji saja," ujarnya meniru.
Mimpi ke Tanah Suci
Dan sejak saat itu, impian haji menjadi tujuan hidupnya. Setiap hari dengan gerobak sederhana, mbah Diyem menjajakan jamunya. Ia, mendapatkan keuntungan sekitar Rp100 hingga Rp200 ribu rupiah.
"Namanya juga jualan, kalau waktu sepi ya tidak segitu. Penting balik modal," katanya sembari tersenyum.
Tak ada yang lebih ia syukuri daripada kemampuan menabung dari hasil kerja kerasnya sendiri.
"Saya sangat bersyukur dengan apa yang sudah saya raih. Ingat waktu saya awal-awal jualan jamu pada usia sebelas tahun, sekitar tahun 1970. Saya lebih susah saat itu karena jualan jamu gendong. Anak-anak seusia saya masih senang main, saya sudah jualan jamu gendong keliling. Kalau lama tidak ada yang beli, saya duduk dulu. Berat kan," kenangnya, tertawa kecil mengenang perjuangannya dulu.
Kini, setelah 55 tahun mengabdi pada jamu, Bu Diyem mendapat hadiah terbesar dalam hidupnya, yakni menjadi tamu Allah di Baitullah.
"Sampai sekarang masih jualan. Ini libur karena naik haji. Kalau tidak jualan badan rasanya pegal semua. Anak-anak sudah melarang tetapi Alhamdulillah badan saya masih sehat dan bisa mandiri. Semoga di Tanah Suci nanti saya dan suami juga diberikan kemudahan dalam beribadah," harapnya.
Dengan haru dan penuh syukur, Diyem dijadwalkan terbang ke Tanah Suci pada Kamis (15/5) ini. Perjalanan panjang dari gerobak jamu ke panggilan suci telah membawanya pada impian yang kini menjadi nyata.