Kemenbud Siapkan Pemetaan Awal Revitalisasi Keraton Sumedang Larang
Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) segera memulai pemetaan sebagai langkah awal revitalisasi Keraton Sumedang Larang, guna mengembalikan kejayaan situs bersejarah ini sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) Republik Indonesia tengah mempersiapkan upaya pemetaan awal untuk revitalisasi Keraton Sumedang Larang di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Langkah strategis ini merupakan bagian dari visi besar Presiden Prabowo Subianto untuk menghidupkan kembali keraton dan kesultanan bersejarah di seluruh Indonesia. Proses pemetaan ini krusial sebagai fondasi perencanaan komprehensif sebelum pelaksanaan revitalisasi fisik dan pengembangan fungsi keraton.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon, saat berada di Sumedang pada hari Sabtu, menegaskan pentingnya pemetaan ini. Menurutnya, pemetaan akan menjadi dasar kuat untuk memahami kondisi aktual bangunan, koleksi, serta aspek sejarah yang perlu diperkuat. Hal ini sejalan dengan amanat Presiden untuk merevitalisasi situs-situs bersejarah yang memiliki nilai historis tinggi di seluruh Nusantara.
Pemetaan ini diharapkan dapat mengungkap detail kondisi Keraton Sumedang Larang, mulai dari struktur fisik hingga kekayaan koleksi budayanya. Dengan data yang akurat, Kemenbud dapat menyusun rencana perbaikan yang tepat serta mengembangkan keraton sebagai pusat kebudayaan yang dinamis. Tujuannya adalah agar Keraton Sumedang Larang dapat kembali berperan sebagai simbol peradaban dan kebanggaan nasional.
Potensi Budaya dan Mahkota Binokasih yang Legendaris
Keraton Sumedang Larang memiliki potensi budaya yang luar biasa besar, menjadikannya salah satu warisan peradaban yang patut dibanggakan. Salah satu bukti peradaban yang paling menonjol adalah Mahkota Binokasih, sebuah artefak bersejarah yang diperkirakan bernilai fantastis. Mahkota ini terbuat dari emas murni dengan berat mencapai delapan kilogram, memancarkan kemegahan dan sejarah panjang.
Mahkota Binokasih, yang juga dikenal sebagai Mahkota Sanghyang Pake, merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah Kerajaan Pajajaran. Mahkota ini diserahkan kepada Sumedang Larang sebagai simbol penerusan kekuasaan setelah runtuhnya era Pajajaran, menjadikannya pusaka dengan nilai historis yang mendalam. Kisah di balik mahkota ini menambah daya tarik Keraton Sumedang Larang sebagai destinasi budaya dan sejarah.
Menteri Fadli Zon berpendapat bahwa Mahkota Binokasih memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk budaya unggulan bertaraf dunia. Namun, pengembangan ini memerlukan dukungan kerangka cerita sejarah yang jelas, narasi yang kuat, dan literasi yang memadai. Dengan kemasan yang menarik, Mahkota Binokasih dapat menjadi ikon budaya global, setara dengan lukisan Monalisa yang terkenal.
Penguatan Narasi Sejarah dan Visi Sumedang sebagai Destinasi Budaya
Kemenbud tidak hanya fokus pada revitalisasi fisik, tetapi juga memperkuat narasi sejarah dan pengetahuan mengenai Sumedang Larang. Upaya ini dilakukan melalui penulisan ulang buku sejarah, yang bertujuan untuk memperkuat identitas dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya sejarah kerajaan di wilayah tersebut. Inisiatif ini merupakan bagian integral dari upaya pelestarian budaya.
Kementerian telah menyelesaikan sebelas jilid buku sejarah nasional, dan tahun ini akan memulai penulisan sejarah kerajaan-kerajaan besar. Sumedang Larang akan menjadi salah satu fokus utama dalam proyek ini, sebagai bagian dari kesinambungan sejarah Sunda yang kaya. Penulisan ini diharapkan dapat menyajikan informasi yang lebih akurat dan mendalam kepada publik.
Menteri Kebudayaan juga mengungkapkan harapannya agar Sumedang ke depan tidak lagi hanya dipandang sebagai daerah transit. Sebaliknya, ia membayangkan Sumedang berkembang menjadi destinasi budaya, sejarah, religi, alam, dan kuliner yang memiliki narasi kuat. Visi ini akan menjadikan Sumedang sebagai pusat yang menarik bagi wisatawan domestik maupun internasional, sekaligus melestarikan warisan leluhur.
Sumber: AntaraNews