Kemenag: Kemah Lintas Agama Jadi Ruang Kolaborasi Berkelanjutan Pemuda Lintas Iman
Kementerian Agama menegaskan Kemah Lintas Agama Interfaith Harmony Camp 2025 bukan sekadar simbol, melainkan wadah kolaborasi berkelanjutan bagi pemuda lintas iman.
Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan bahwa gelaran Kemah Lintas Agama Interfaith Harmony Camp 2025 bukan sekadar perjumpaan simbolik. Acara ini menjadi ruang tumbuh bagi kolaborasi yang berkelanjutan di antara para pemuda lintas iman di Indonesia.
Plt. Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Ahmad Zayadi, menyampaikan pernyataan tersebut saat menutup kegiatan di Bogor, Jawa Barat, Minggu (23/11). Ia menekankan, "Di tangan anak muda, harmoni antarwarga bangsa akan menemukan bentuk-bentuk kreatif dan solutif."
Penutupan camp ini ditandai dengan prosesi penanaman pohon dan pembacaan deklarasi bersama lintas agama serta organisasi kepemudaan. Hal ini menjadi simbol komitmen nyata untuk merawat harmoni yang membumi dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Kolaborasi Pemuda Lintas Iman untuk Harmoni Bangsa
Ahmad Zayadi menyoroti peran strategis generasi muda dalam menjaga kerukunan. Menurutnya, harmoni antarumat beragama harus terus dirawat melalui aksi nyata yang dekat dengan masyarakat, bukan hanya sekadar pertemuan formal.
Interfaith Harmony Camp dirancang untuk tidak hanya menyediakan ruang dialog, tetapi juga menumbuhkan jejaring kolaboratif yang kuat. Jaringan ini diharapkan dapat diterjemahkan menjadi program berkelanjutan di berbagai daerah, menciptakan dampak positif yang lebih luas.
Peserta Kemah Lintas Agama diarahkan untuk menjadi duta harmoni di komunitas masing-masing. Nilai kebersamaan yang terbangun selama dua hari kegiatan diharapkan dapat terus diperkuat dalam agenda-agenda lintas iman berikutnya, memperkokoh persatuan.
Ekoteologi: Titik Temu Peduli Lingkungan Lintas Agama
Penanaman pohon dipilih sebagai simbol kesadaran ekologis yang menyatu dengan nilai-nilai kemanusiaan universal. Zayadi menyebut ekoteologi sebagai titik temu penting bagi komunitas lintas iman untuk mendorong kepedulian bersama terhadap bumi.
Konsep ekoteologi ini menekankan bahwa menjaga lingkungan adalah tindakan menjaga masa depan kemanusiaan. "Ketika kita menjaga lingkungan, sesungguhnya kita sedang menjaga masa depan kemanusiaan. Ini menjadi pesan sekaligus komitmen bersama," ujarnya.
Prosesi penanaman pohon pada penutupan kegiatan menjadi simbol awal dari komitmen tersebut. Para peserta diharapkan dapat mengimplementasikan perilaku ramah lingkungan dan mempromosikan keberlanjutan di lingkungan mereka.
Deklarasi Bersama: Komitmen Pemuda untuk Indonesia Damai
Deklarasi Interfaith Harmony Camp 2025 dibacakan oleh perwakilan pemuda lintas agama sebagai komitmen bersama setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Deklarasi ini mencerminkan aspirasi dan tujuan bersama para peserta.
Isi deklarasi meliputi kesetiaan pada nilai-nilai kebangsaan, khususnya Pancasila, UUD 1945, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Peserta berkomitmen memperkuat kerukunan antarumat beragama melalui dialog, kerja sama, dan keterlibatan aktif dalam kegiatan sosial yang membangun persatuan.
Selain itu, deklarasi juga menyerukan pentingnya merawat harmoni dengan alam melalui praktik ekoteologi, menegaskan solidaritas kemanusiaan tanpa batas agama, dan mendorong lahirnya program-program kolaboratif lintas agama yang berfokus pada isu lingkungan, perdamaian, dan penguatan kohesi sosial.
Sumber: AntaraNews