Indonesia dan AS Capai Kesepakatan Dagang Rp649 Triliun, Perkuat Kerja Sama Strategis
Indonesia dan Amerika Serikat menyegel kesepakatan dagang serta investasi senilai US$38,4 miliar atau setara Rp649,42 triliun, memperdalam kemitraan strategis di berbagai sektor. Kesepakatan Dagang Indonesia AS ini diharapkan memperkuat ekonomi kedua nega
Indonesia dan Amerika Serikat berhasil menyepakati komitmen dagang serta investasi lintas sektor senilai US$38,4 miliar, atau setara dengan Rp649,42 triliun. Kesepakatan ini mencakup berbagai bidang mulai dari pertanian dan manufaktur hingga teknologi canggih, menandai babak baru dalam hubungan ekonomi kedua negara.
Pengumuman penting ini disampaikan pada Rabu di ajang US-Indonesia Business Summit 2026 yang diselenggarakan di Washington. Acara tersebut dihelat oleh U.S. Chamber of Commerce, US-ASEAN Business Council, serta U.S.-Indonesia Society, mempertemukan para pemimpin bisnis dan pemerintahan dari kedua belah pihak.
Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya tata kelola yang baik, transparansi, dan kredibilitas dalam menjaga kepercayaan pasar serta investasi jangka panjang. "Pasar menghargai transparansi, disiplin, dan kredibilitas. Sebagai presiden, tanggung jawab saya adalah memperkuat tata kelola, meningkatkan transparansi, dan memastikan kita memenuhi standar internasional. Ini tentang menjaga integritas ekonomi kita dan kepercayaan investor jangka panjang," ujarnya, sebagaimana dikutip di Jakarta pada Jumat.
Sektor Pertanian dan Manufaktur Jadi Pilar Utama Kesepakatan Dagang Indonesia AS
Dalam sektor pertanian, total komitmen pembelian mencapai angka US$4,5 miliar. Angka ini meliputi pembelian kedelai senilai US$1,37 miliar, gandum sebesar US$1,25 miliar yang direncanakan hingga tahun 2030, jagung US$855 juta, kapas US$244 juta, serta produk pertanian lainnya senilai US$800 juta.
Sementara itu, sektor manufaktur menyumbang porsi terbesar dari paket kesepakatan ini, dengan komitmen investasi mencapai US$33,91 miliar. Kesepakatan penting termasuk kemitraan senilai US$2 miliar antara Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dengan US-ASEAN Business Council.
Selain itu, terdapat pasokan pakaian bekas yang dihancurkan senilai US$200 juta, serta proyek semikonduktor berskala besar. Proyek semikonduktor ini secara total mencapai US$31,59 miliar, menunjukkan fokus pada teknologi tinggi dan industri strategis.
Perkuat Kemitraan Strategis di Teknologi dan Transisi Energi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa Indonesia memandang Amerika Serikat sebagai mitra strategis. Indonesia berupaya memperdalam kolaborasi di berbagai bidang inovatif, termasuk inovasi digital, kecerdasan buatan, semikonduktor, mineral kritis, dan ketahanan rantai pasok.
Kerja sama ini juga meluas ke area transisi energi dan hilirisasi. Fokus pada sektor-sektor ini menunjukkan komitmen kedua negara untuk menghadapi tantangan global dan memanfaatkan peluang pertumbuhan ekonomi di masa depan.
Airlangga menambahkan, penyelesaian Perjanjian Perdagangan Timbal Balik akan memperluas akses pasar dan menghilangkan hambatan perdagangan. Hal ini juga akan meningkatkan kepastian bisnis, mendukung aliran investasi yang lebih besar, serta memperkuat hubungan ekonomi jangka panjang antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Sumber: AntaraNews