Idul Fitri: Wagub PBD Serukan Penguatan Taqwa Hadapi Krisis Moral dan Disrupsi Digital
Wakil Gubernur Papua Barat Daya menyerukan Idul Fitri sebagai momentum penting penguatan taqwa umat Islam. Hadapi krisis moral, disrupsi digital, dan kerusakan lingkungan dengan nilai-nilai Ramadhan.
Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau, menegaskan bahwa perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah bukan sekadar momen kegembiraan. Momentum ini harus dimaknai sebagai kesempatan bagi umat Islam untuk memperkuat ketaqwaan. Penguatan ini krusial dalam menghadapi berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks.
Pernyataan tersebut disampaikan Ahmad Nausrau saat memberikan khutbah Shalat Idul Fitri di Masjid Al-Ikhtiar Tugu Merah SP1, Kabupaten Sorong, pada Sabtu (21/3). Ribuan umat Islam di wilayah tersebut turut hadir dalam pelaksanaan shalat Idul Fitri.
Menurut Wagub, penguatan taqwa sangat diperlukan untuk membentengi diri dari krisis moral, disrupsi digital, hingga kerusakan lingkungan. Ia menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai Ramadhan tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Mempertahankan Esensi Ramadhan Pasca-Idul Fitri
Ramadhan telah membentuk karakter umat melalui disiplin ibadah yang ketat dan pengendalian diri yang kuat. Selain itu, bulan suci ini juga meningkatkan kepedulian sosial antar sesama.
Namun, konsistensi dalam menjaga nilai-nilai positif tersebut setelah Ramadhan berakhir menjadi tantangan utama. Ahmad Nausrau mengingatkan bahwa kelalaian setelah Ramadhan dapat menghilangkan esensi dari ibadah itu sendiri.
Ia menekankan, Idul Fitri adalah momentum untuk memastikan nilai-nilai Ramadhan terus terinternalisasi. Umat Islam diharapkan tidak kembali lalai setelah bulan suci berlalu.
Tantangan Krisis Moral, Disrupsi Digital, dan Lingkungan
Dalam khutbahnya yang bertema “Idul Fitri: Meneguhkan Taqwa di Hati, Menebarkan Rahmat di Bumi”, Wagub Ahmad Nausrau menyoroti dampak perkembangan teknologi digital. Menurutnya, era ini membawa tantangan serius, terutama terkait penyebaran informasi yang tidak benar dan menurunnya kualitas hubungan sosial.
Ia menyebut, umat berada di era banjir informasi, namun tidak semua membawa kebaikan, bahkan banyak yang menjauhkan dari nilai kebenaran. Oleh karena itu, ia mengajak umat Islam di Papua Barat Daya untuk kembali menjadikan Al Quran sebagai pedoman hidup.
Selain itu, Ahmad Nausrau juga menyinggung persoalan lingkungan yang semakin mengkhawatirkan akibat perilaku manusia. Kerusakan hutan, pencemaran sungai, dan laut yang terluka bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan cerminan krisis spiritual manusia.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi PBD itu menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian integral dari tanggung jawab keimanan.
Memperkuat Solidaritas dan Persatuan Umat
Dalam aspek sosial, Wagub Ahmad Nausrau mengajak umat Islam untuk terus memperkuat solidaritas. Terutama, kepedulian harus ditujukan kepada masyarakat yang mengalami penderitaan, termasuk saudara-saudara di Palestina.
Ia mengingatkan, di tengah kegembiraan Idul Fitri, umat tidak boleh melupakan mereka yang masih menderita. Semangat berbagi melalui zakat, infak, dan sedekah yang telah dilakukan selama Ramadhan didorong untuk terus dilanjutkan.
Lebih lanjut, Wagub juga mengajak seluruh umat Islam menjadikan Idul Fitri sebagai kesempatan baik untuk rekonsiliasi dan penguatan persatuan. Ia menyerukan agar momen fitri ini digunakan untuk saling memaafkan dan mengakhiri segala bentuk perpecahan.
Sumber: AntaraNews