Guru Besar FKUI Soroti Tantangan Besar dalam Penanganan Mikrotia di Indonesia
Prof. Trimartani Koento dari FKUI mengungkap tantangan signifikan dalam penanganan mikrotia, kelainan telinga bawaan yang memengaruhi pendengaran dan perkembangan anak. Apa saja tantangan dan solusi penanganan mikrotia?
Guru Besar Tetap di bidang Ilmu Fasial Plastik Rekonstruksi, Telinga Hidung Tenggorok, serta Bedah Kepala dan Leher Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Trimartani Koento, menyoroti tantangan besar dalam penanganan mikrotia. Mikrotia adalah kelainan bawaan pada telinga yang tidak hanya berdampak pada fungsi pendengaran, tetapi juga perkembangan bahasa, komunikasi, dan psikososial anak.
Penanganan mikrotia membutuhkan pendekatan komprehensif. Ini mencakup aspek medis, estetika, psikologis, dan sosial untuk memastikan pemulihan optimal bagi pasien. Dengan intervensi yang tepat serta dukungan komprehensif, anak-anak dengan mikrotia dapat tumbuh percaya diri, mandiri, dan berpartisipasi aktif dalam masyarakat.
Kondisi ini terjadi pada sekitar 1 dari 7.000–8.000 kelahiran hidup di Asia, termasuk Indonesia. Sebagian besar kasus mikrotia bersifat unilateral atau hanya menyerang satu sisi telinga saja, namun tetap memberikan dampak signifikan. Gangguan pendengaran yang menyertai dapat menghambat perkembangan bahasa sejak usia dini. Ini juga memengaruhi kemampuan belajar, interaksi sosial, hingga menurunkan rasa percaya diri anak.
Dampak Mikrotia pada Tumbuh Kembang Anak
Mikrotia merupakan kelainan bawaan yang ditandai dengan daun telinga yang tidak berkembang sempurna, seringkali disertai adanya gangguan pendengaran. Kelainan ini memiliki konsekuensi luas yang melampaui masalah fisik semata. Dampak signifikan dirasakan pada perkembangan bahasa, komunikasi, dan psikososial anak.
Gangguan pendengaran akibat mikrotia dapat menghambat kemampuan anak untuk memahami dan memproduksi bahasa. Hal ini berpotensi memengaruhi proses belajar mereka di sekolah. Selain itu, kondisi ini juga dapat membatasi interaksi sosial anak dengan teman sebaya. Akibatnya, rasa percaya diri anak menjadi menurun.
Prof. Trimartani Koento menjelaskan, “Penanganan mikrotia bukan hanya tentang membentuk telinga, tetapi tentang membangun masa depan anak.” Pernyataan ini menekankan pentingnya intervensi dini dan dukungan holistik. Anak-anak dengan mikrotia dapat tumbuh menjadi individu yang percaya diri, mandiri, dan mampu berpartisipasi aktif dalam masyarakat.
Inovasi Teknologi dan Pendekatan Multidisiplin dalam Penanganan Mikrotia
Pendekatan modern dalam penanganan mikrotia kini mengintegrasikan teknologi morfometri dan fotometri digital tiga dimensi. Dengan pemindaian 3D, perencanaan operasi dapat dilakukan lebih presisi. Ini menghasilkan telinga baru yang simetris dan sesuai dengan karakteristik wajah pasien. Rekonstruksi tidak lagi sekadar estetika, melainkan juga pemulihan fungsi pendengaran dan peningkatan kualitas hidup.
Di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, pelayanan mikrotia dilakukan melalui kolaborasi multidisiplin yang kuat. Tim melibatkan berbagai bidang spesialisasi. Ini termasuk Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (THT-BKL), audiologi, kesehatan anak, psikologi, hingga rehabilitasi medik. Kolaborasi ini memastikan setiap aspek kebutuhan pasien terpenuhi secara komprehensif.
Dukungan keluarga dan lingkungan juga menjadi faktor krusial dalam membangun rasa percaya diri anak dengan mikrotia. Lingkungan yang suportif dapat membantu anak mengatasi tantangan psikososial yang mungkin timbul. Hal ini sangat penting untuk perkembangan emosional dan sosial mereka.
Akses Layanan dan Peran JKN untuk Penanganan Mikrotia
Mikrotia sering berkaitan dengan kelainan lain seperti mikrosomia hemifasial atau sindrom kongenital, contohnya Treacher Collins, Goldenhar, dan Down syndrome. Kompleksitas ini menuntut penanganan yang terpadu dari berbagai disiplin ilmu. Penanganan tersebut mencakup aspek medis, estetika, psikologis, dan sosial.
Prof. Trimartani menegaskan pentingnya peran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam memastikan akses layanan yang inklusif dan berkeadilan. JKN menjadi kunci agar setiap anak dengan mikrotia, tanpa memandang latar belakang ekonomi, dapat memperoleh penanganan yang dibutuhkan. Akses ini sangat vital untuk pemulihan fungsi pendengaran dan peningkatan kualitas hidup mereka.
Sumber: AntaraNews