Edufarm Lamongan Jadi Pusat Edukasi Peternakan Terpadu untuk Generasi Muda
Pemerintah Kabupaten Lamongan menjadikan Edufarm Mantup sebagai pusat edukasi peternakan terpadu, bertujuan menumbuhkan minat generasi muda pada sektor agribisnis sejak dini.
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Lamongan telah resmi menetapkan edufarm yang berlokasi di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pembibitan dan Pengolahan Pakan Ternak Mantup sebagai pusat edukasi peternakan terpadu. Inisiatif ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar langsung dan komprehensif mengenai dunia peternakan. Program edufarm ini diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran yang efektif bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, menjelaskan bahwa program edufarm merupakan ruang belajar terbuka yang memberikan pengalaman nyata tentang peternakan, kesehatan hewan, serta proses pengolahan pakan. Ia menekankan pentingnya pendekatan aplikatif agar anak-anak dapat belajar secara menyenangkan di luar teori kelas. Kunjungan siswa Taman Kanak-kanak (TK) Aisyiyah di lokasi edufarm Mantup menjadi bukti nyata implementasi program ini.
Kabupaten Lamongan memiliki potensi besar di sektor peternakan yang perlu dikenalkan sejak dini kepada generasi muda. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan minat mereka terhadap bidang tersebut dan mendukung penguatan ekonomi daerah berbasis agribisnis. Melalui kegiatan edufarm, siswa dapat mengenal berbagai jenis ternak, cara pemeliharaan, hingga proses pengolahan pakan dan pupuk organik secara langsung.
Fokus Pembelajaran Interaktif di Edufarm Lamongan
Program edufarm di Lamongan dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang interaktif dan mendalam bagi para peserta. Siswa tidak hanya diperkenalkan pada berbagai jenis hewan ternak seperti sapi, kambing, ayam, bebek, dan kelinci, tetapi juga diajak untuk terlibat langsung dalam aktivitas peternakan. Mereka dapat praktik memberi pakan, melihat proses pencacahan rumput, dan menyaksikan pengolahan hijauan menjadi silase, yaitu metode pengawetan pakan ternak.
Selain itu, peserta didik juga dilibatkan dalam proses pembuatan pupuk organik, mulai dari mengayak hingga mengemas pupuk berbahan kotoran ternak. Kegiatan ini dilengkapi dengan praktik menanam bibit sayuran seperti cabai, tomat, dan terong di polibag yang kemudian dapat dibawa pulang. Pendekatan ini memungkinkan siswa untuk memahami siklus peternakan dan pertanian secara holistik, dari hulu hingga hilir.
Kepala DPKH Kabupaten Lamongan, Shofiah Nurhayati, menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk mensosialisasikan program edufarm kepada sekolah-sekolah. Tujuan utama sosialisasi ini adalah untuk menyediakan sarana edukasi peternakan yang efektif bagi satuan pendidikan. Dengan demikian, siswa dapat memperoleh pembelajaran langsung yang lebih bermakna dan aplikatif.
Edufarm Lamongan Dorong Minat dan Ekonomi Agribisnis
Inisiatif Edufarm Lamongan memiliki visi jangka panjang untuk menumbuhkan minat generasi muda terhadap sektor peternakan. Dengan memperkenalkan potensi dan praktik peternakan sejak usia dini, diharapkan akan muncul generasi penerus yang tertarik dan kompeten di bidang agribisnis. Hal ini krusial mengingat sektor peternakan merupakan salah satu pilar ekonomi penting di Kabupaten Lamongan.
Program ini tidak hanya berfokus pada aspek edukasi, tetapi juga memiliki dampak strategis terhadap penguatan ekonomi daerah berbasis agribisnis. Dengan adanya edufarm, masyarakat dan generasi muda dapat melihat secara langsung bagaimana potensi peternakan dapat dioptimalkan. Edufarm menjadi katalisator untuk pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor peternakan, serta mendorong inovasi dalam pengolahan hasil ternak dan pakan.
Harapan besar disematkan pada edufarm ini agar mampu menjadi pusat keunggulan dalam edukasi peternakan di Jawa Timur. Melalui pembelajaran yang menyenangkan dan aplikatif, edufarm diharapkan dapat menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pengembangan sektor peternakan. Keberlanjutan program ini akan terus didukung melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan komunitas peternak.
Sumber: AntaraNews