Di Balik Warna Cerah, Kerupuk Rumahan Diduga Pakai Pewarna Tekstil dan Tak Higienis
Dalam rekaman tersebut, pembuat kerupuk tampak mengolah adonan langsung di lantai, menggunakan air empang.
Sebuah tayangan investigasi yang beredar di media sosial menghebohkan publik setelah mengungkap dugaan praktik pembuatan kerupuk rumahan yang menggunakan bahan pewarna kimia berisiko dan dilakukan tanpa memperhatikan standar kebersihan, sebagaimana diunggah melalui akun Instagram @Liputan6.SCTV pada Senin (29/12).
Dalam rekaman tersebut, pembuat kerupuk tampak mengolah adonan langsung di lantai, menggunakan air empang untuk proses perebusan, serta menambahkan bahan pewarna mencolok yang bukan dipastikan sebagai pewarna makanan.
Pantauan awal menunjukkan bahan kerupuk berbentuk gulungan yang diiris tipis dan dijemur di bawah sinar matahari. Namun perhatian tertuju pada proses pengolahan adonan yang dibentuk di lantai.
Ketika ditegur soal kebersihan, pembuat kerupuk berdalih lantai sudah cukup bersih.
"Jadi mau gimana, Mas? Enggak punya alat perata. Di sini juga kan enak, rata, bersih lagi,” ujar oknum pembuat kerupuk saat ditegur soal kebersihan.
Proses Perebusan Akan Membunuh Kuman
Pelaku juga beranggapan proses perebusan akan membunuh kuman, meski air yang digunakan berasal dari empang.
Dalam proses berikutnya, pembuat kerupuk menambahkan bahan yang disebut “garam spesial” dengan alasan agar kerupuk lebih renyah dan tahan lama.
Selain itu, pewarna bubuk berwarna mencolok dicampurkan ke dalam adonan. Pewarna tersebut diklaim tidak akan pudar meski direbus, dijemur, dan digoreng.
“Biasa saya pakai pewarna yang spesial supaya kelihatannya menarik. Direbus, dijemur, digoreng tetap cerah,” katanya.
Pewarna Tersebut Dibeli dari Toko Bahan Non-pangan
Warna bahkan terlihat melekat kuat di tangan pembuat kerupuk. Investigasi juga menunjukkan dugaan bahwa pewarna tersebut dibeli dari toko bahan non-pangan.
Kerupuk kemudian digoreng menggunakan minyak yang tampak sudah dipakai berulang kali. Di dalam tayangan, lilin bahkan terlihat dicemplungkan ke dalam minyak sebelum proses penggorengan berlangsung.
Produk tersebut selanjutnya dipasarkan ke warung-warung makan dan toko rumahan.
Ahli Gizi
Rio Jati Kusuma, Ahli Gizi yang dimintai pendapat mengingatkan bahwa bahan kimia non-pangan dalam makanan dapat menimbulkan risiko serius.
"Bahan pengawet, pengenyal, atau pewarna harus melalui studi toksisitas. Bila berbahaya, tidak direkomendasikan digunakan, Efek akut bisa menyebabkan diare, mual, muntah. Dalam jangka panjang bisa merusak organ, memicu kanker, bahkan kematian bila terakumulasi di tubuh," jelasnya Rio Jati Kusuma, Ahli Gizi
Temuan tersebut membuka kembali isu lemahnya pengawasan produksi makanan rumahan serta minimnya kesadaran pelaku usaha terhadap standar keamanan pangan.
Reporter Magang: Ahmad Subayu