BMKG: Waspada! Buleleng Bali Alami Kekeringan Ekstrem, Hujan Tak Turun Lebih dari 60 Hari
BMKG Stasiun Klimatologi Bali mengeluarkan peringatan dini potensi **kekeringan ekstrem Buleleng** di Kecamatan Tejakula setelah wilayah tersebut tidak mengalami hujan selama 60 hari. Kapan musim hujan akan tiba?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Bali telah mengeluarkan peringatan dini potensi **kekeringan ekstrem Buleleng** di Kecamatan Tejakula. Wilayah ini terancam kekeringan setelah pengamatan terbaru menunjukkan tidak ada hujan selama lebih dari 60 hari berturut-turut. Kondisi ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
Kepala Stasiun Klimatologi Bali, Aminudin Ar Roniri, menjelaskan bahwa Tejakula masuk kategori 'awas' kekeringan meteorologis. Kekeringan jenis ini terjadi akibat berkurangnya curah hujan atau musim kemarau yang panjang. Pemetaan wilayah ini menjadi dasar penetapan status darurat kekeringan.
Meskipun demikian, Aminudin memproyeksikan kekeringan ekstrem ini tidak akan meluas secara signifikan. Sebagian besar wilayah Bali, termasuk Buleleng, diperkirakan akan memasuki awal musim hujan pada Desember 2025. Prediksi ini memberikan harapan akan berakhirnya periode kering yang panjang.
Status Awas dan Siaga Kekeringan di Bali
Berdasarkan pengamatan Stasiun Klimatologi Bali pada Jumat (10/10), Kecamatan Tejakula, Buleleng, ditetapkan dalam status 'awas' kekeringan. Ini karena wilayah tersebut tidak mengalami hujan lebih dari 60 hari, menunjukkan kondisi **kekeringan ekstrem Buleleng** yang parah. Status 'awas' juga berarti probabilitas curah hujan kurang dari 20 milimeter per dasarian dengan peluang di atas 70 persen, serta indeks curah hujan minus 2.
Aminudin Ar Roniri menjelaskan bahwa kondisi di Tejakula adalah kekeringan meteorologis. Ini adalah kondisi kering akibat berkurangnya curah hujan atau musim kemarau yang panjang. Fenomena ini berdampak langsung pada ketersediaan air dan sektor pertanian lokal.
Selain Tejakula, Kecamatan Kubu di Kabupaten Karangasem juga ditetapkan berstatus 'siaga' kekeringan. Wilayah 'siaga' memiliki probabilitas curah hujan kurang dari 20 milimeter per dasarian dengan peluang di atas 70 persen. Indeks curah hujan untuk kategori ini berkisar antara minus 1,50 hingga minus 1,99, menandakan risiko kekurangan air yang tinggi.
Proyeksi Kedatangan Musim Hujan di Bali
Meskipun beberapa wilayah menghadapi **kekeringan ekstrem Buleleng**, BMKG memberikan proyeksi positif mengenai musim hujan. Aminudin Ar Roniri memperkirakan sebagian besar wilayah Bali, termasuk Buleleng dan Karangasem, akan memasuki musim hujan pada Desember 2025. "Sebelum masuk musim hujan tentu akan didahului dengan hujan ringan sampai sedang sebagai pertanda akan masuk musim hujan,” ujarnya.
Perkiraan ini menjadi kabar baik bagi masyarakat yang terdampak kekeringan. Transisi menuju musim hujan penuh akan berlangsung secara bertahap. Hujan ringan dan sedang diharapkan dapat sedikit mengurangi dampak kekeringan yang ada.
BMKG sebelumnya juga memprediksi puncak musim hujan di Bali akan terjadi pada Januari-Februari 2026. Dari 20 zona musim di Bali, 55 persen diproyeksikan mencapai puncak musim hujan pada Februari 2026. Sementara 45 persen sisanya, atau sembilan zona musim, diperkirakan mencapai puncak musim hujan pada Januari 2026.
Sumber: AntaraNews