Bela Marwah Kiai dan Pesantren, BEM PTNU Gelar Aksi Moral di Depan KPI
Bangsa yang kehilangan adab bukanlah bangsa yang sedang maju, tetapi bangsa yang kehilangan arah.
Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus Nahdlatul Ulama (NU) yang tergabung dalam BEM PTNU se-Nusantara memadati kawasan depan kantor Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Mereka datang bukan sekadar membawa poster, tetapi membawa keresahan kultural yang ingin disuarakan bersama.
Presidium Nasional BEM PTNU, Achamad Baha’ur Rifqi, menyebut aksi ini sebagai bentuk protes terhadap tayangan Trans7 yang dianggap menyinggung kiai dan pesantren. Dari atas mobil komando, suaranya menggema di tengah lautan mahasiswa yang membentangkan bendera merah putih sepanjang 200 meter, simbol kecintaan santri pada tanah air dan semangat kebangsaan.
“Ketika banyak orang bilang penghormatan santri pada kiai adalah feodalisme, kami jawab tegas: itu bukan feodalisme. Itu adalah adab dan etika ilmu,” ujar Achamad Baha’ur Rifqi.
Ia menegaskan, bangsa yang kehilangan adab bukanlah bangsa yang sedang maju, tetapi bangsa yang kehilangan arah.
“Kami tidak memuja kiai sebagai penguasa, tapi kami menghormatinya sebagai perantara ilmu dan pembentuk moral bangsa,” lanjutnya.
Menurut Rifqi, seruan boikot Trans7 bukan lahir dari emosi sesaat, melainkan ijtihad moral santri untuk menjaga marwah pesantren dan kehormatan kiai dari pemberitaan yang dinilai menyesatkan. Ia menilai, pemberitaan negatif tentang pesantren akhir-akhir ini merupakan bentuk pembusukan terhadap tradisi Islam Nusantara.
“Kemarin Pondok Pesantren Al-Khoziny, terus Pondok Pesantren Lirboyo, Pondok Pesantren Somalangu… besok pondok mana lagi? Ini adalah upaya pembusukan kiai dan pesantren Nusantara,” tegas Rifqi.
BEM PTNU mendesak KPI bertindak tegas terhadap media yang dianggap sembrono dalam menggiring opini tentang pesantren. Mereka juga meminta adanya pedoman penyiaran yang memahami kultur keilmuan Islam, bukan sekadar mengejar sensasi atau rating.
Meski orasi berlangsung lantang, aksi berjalan damai dan tertib. Tak ada bentrok, hanya suara santri yang membawa kitab dan poster kritik, menegaskan bahwa yang mereka perjuangkan adalah kehormatan dan adab.
“Modernitas tidak identik dengan amnesia budaya,” ucap Rifqi. “Bangsa boleh maju, tapi jangan memaksa santri melupakan adab.”
Aksi ditutup dengan pembacaan empat tuntutan utama:
1. Penindakan tegas terhadap pelanggaran etika penyiaran.
2. KPI memberikan rekomendasi kepada Komdigi untuk mencabut hak siar Trans7.
3. Evaluasi dan reformasi lembaga penyiaran nasional.
4. Instruksi KPI kepada seluruh lembaga penyiaran untuk mengembalikan marwah pesantren, kiai, dan ulama NU.