JKSN Kecam Tayangan Pesantren Trans7: Benarkah 4 Juta Santri Digambarkan Primitif?
Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) melayangkan kecaman keras terhadap Trans7 atas tayangan yang dinilai menyudutkan pesantren, bahkan berpotensi fitnah massal. Ada apa sebenarnya?
Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) melayangkan kecaman keras terhadap stasiun televisi nasional Trans7. Kecaman ini muncul setelah tayangan yang dinilai menyudutkan pesantren dan berpotensi menimbulkan fitnah massal. Insiden ini mencuat pada Selasa (14/10) di Surabaya, menarik perhatian publik secara luas.
Ketua Umum JKSN, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA., menyatakan konten tersebut menggambarkan pesantren secara keliru. Narasi tentang penindasan dan kehidupan primitif jelas tidak berdasar. Ini menyinggung marwah para kiai dan santri yang telah berkontribusi besar untuk negeri ini.
JKSN menuntut Trans7 segera menarik konten tersebut dan menggantinya dengan siaran yang lebih adil dan berimbang. Mereka juga mendesak permintaan maaf terbuka di media nasional sebagai bentuk tanggung jawab moral. Langkah ini diambil untuk melindungi kehormatan lembaga pendidikan pesantren di Indonesia.
Peran Pesantren dalam Membangun Peradaban Bangsa
Kiai Asep Saifuddin Chalim menegaskan bahwa pesantren merupakan benteng peradaban dan moral bangsa yang tak tergantikan. Dari lembaga pendidikan inilah lahir tokoh-tokoh besar serta ulama pejuang kemerdekaan. Mereka telah turut membentuk fondasi kebangsaan Indonesia yang kuat dan berlandaskan nilai-nilai luhur. Penggambaran negatif terhadap pesantren sangat tidak tepat.
Beliau juga menyoroti kontribusi keluarganya sebagai bukti nyata. "Ayah saya pahlawan nasional, saya sendiri mendapat Bintang Mahaputra," ujar Kiai Asep. Pernyataan ini secara jelas menunjukkan bahwa para kiai memiliki kontribusi maksimal dalam pembangunan bangsa dan negara. Ini membuktikan peran vital pesantren dalam sejarah dan masa depan Indonesia.
Saat ini, lebih dari 4 juta santri menimba ilmu di berbagai pesantren di seluruh Indonesia. Mereka tidak hanya belajar ilmu agama dan akhlak mulia, tetapi juga keterampilan hidup yang relevan dengan perkembangan zaman. Para santri ini adalah bagian penting dari generasi penerus bangsa yang akan membawa Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Oleh karena itu, Kiai Asep sangat menyayangkan penggambaran negatif terhadap pesantren oleh media nasional sekelas Trans7. Menggambarkan santri sebagai generasi tertinggal atau primitif adalah pandangan yang sangat keliru. Pesantren justru mencetak generasi pembawa peradaban yang berdaya saing tinggi dan berakhlak mulia.
Tuntutan JKSN: Penarikan Konten dan Sanksi Tegas
Sekretaris Jenderal JKSN, Ghofirin, menyatakan bahwa pihaknya akan mengambil langkah konkret untuk melindungi kehormatan pesantren. JKSN mendesak Trans7 untuk segera menarik konten yang bermasalah tersebut dari peredaran. Mereka juga menuntut penggantian dengan siaran yang lebih adil dan berimbang agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Selain penarikan konten, JKSN juga menuntut permintaan maaf terbuka di media nasional. Permintaan maaf ini dianggap sebagai bentuk tanggung jawab moral yang wajib dilakukan oleh Trans7 kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya komunitas pesantren. Hal ini penting untuk mengembalikan citra positif pesantren di mata publik.
Ghofirin juga menegaskan tuntutan JKSN agar penanggung jawab program diberi sanksi tegas. "Ketum JKSN sudah membuat pernyataan terbuka bahwa JKSN menuntut penanggung jawab program diberi sanksi tegas oleh manajemen Trans7," ucapnya. Apabila tidak dilakukan, dikhawatirkan ada dugaan bahwa penayangan yang menyesatkan tersebut atas perintah pemilik atau komisaris utama Trans Media.
Melalui pernyataan ini, JKSN mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk insan media, untuk menjaga harmoni bangsa. Mereka berharap narasi yang disajikan bersifat mendidik, membangun, dan menghormati nilai-nilai luhur pesantren. Ini adalah upaya kolektif untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dari potensi perpecahan.
Sumber: AntaraNews