Bangun Harmoni Sesama Anak Bangsa dengan Menghormati Perbedaan
Keberagaman tidak boleh dirusak dengan ketidakharmonisan
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar juga menghadiri perayaan Natal Tiberias 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Sabtu (6/12).
Kementerian Agama (Kemenag) telah menetapkan tema Natal 2025 "C-LIGHT: Christmas - Love in God, Harmony Together". Keberagaman tidak boleh dirusak dengan ketidakharmonisan.
Ketua Umum Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia (ADDAI), Syarif Hidayatullah menilai langkah Kemenag untuk memperkuat toleransi, persaudaraan, dan kebersamaan di tengah keberagaman.
"Menghormati orang lain dan kepercayaan. Itu kepentingannya adalah agar kehidupan ini bisa berjalan dengan harmoni," ujar Syarif dalam keterangannya, Selasa (9/12).
Tentu sebagai otoritas negara, lanjutnya, Kementerian Agama harus mengayomi dan merangkul semua agama yang ada. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu menganggap ini suatu hal yang berlebihan. Apalagi sampai mengadu domba dan membuat perpecahan antar sesama.
"Penting harus menghormati satu sama lain dan menjaga toleransi antar-umar beragama untuk membangun hidup yang harmonis," tuturnya.
Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya ini menyakini dengan menghormati keyakinan orang lain, berinteraksi dengan non muslim tidak serta-merta meruntuhkan akidah seorang muslim.
Menurut Syarif, konsep toleransi adalah menghormati sesuatu yang berbeda. Seseorang tidak punya hak untuk tidak menghormati, tidak menghargai apa yang menjadi keyakinan, kepercayaan, dan ibadah orang lain.
"Yang tidak boleh adalah kita mengikuti, menjalankan ritual, kepercayaan, dan akidah orang lain. Itu batas yang memang tidak bisa dilanggar dalam konteks akidah,” terang Syarif.
Syarif menepis anggapan negatif bahwa Islam tidak toleran, dan tidak ramah kepada pemeluk agama lain. Syarif menegaskan pentingnya moderasi beragama.