VinFast Optimistis Pasar Mobil Listrik Tetap Tumbuh Meski Insentif Berubah
VinFast memproyeksikan segmen kendaraan listrik akan mengalami pertumbuhan positif, meskipun diperkirakan akan melambat karena perubahan kebijakan insentif.
Pasar mobil listrik di Indonesia diprediksi akan terus mengalami pertumbuhan pada tahun ini, meskipun laju pertumbuhannya diperkirakan akan melambat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi sikap konsumen dan pelaku industri adalah ketidakpastian mengenai kelanjutan insentif, yang membuat mereka cenderung menunggu sebelum melakukan keputusan. CEO Vinfast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, berpendapat bahwa segmen Battery Electric Vehicle (BEV) masih memiliki potensi untuk tumbuh secara positif, meskipun tidak akan mencapai angka setinggi capaian tahun lalu.
"Untuk di segmen BEV saya yakin masih akan bertumbuh di tahun ini, tapi apakah pertumbuhannya setinggi tahun lalu? Menurut saya mungkin tidak, akan pasti slowing down karena misalnya dengan perubahan insentif dan sebagainya," ujarnya pada Jumat (6/2/2026).
Kariyanto menjelaskan bahwa pertumbuhan pasar mobil listrik pada tahun 2025 akan ditopang oleh berbagai faktor, salah satunya adalah insentif pemerintah. Oleh karena itu, jika terjadi perubahan kebijakan insentif, hal ini akan berdampak langsung pada laju pertumbuhan sektor ini.
"Karena kalau kita bicara pertumbuhan di 2025, itu kan banyak faktor penunjang, salah satunya dengan insentif BEV. Dan dengan misalnya dikuranginya atau diadakannya insentif BEV, tentu ini akan berpengaruh, tetapi menurut saya masih akan bertumbuh secara positif," tambahnya.
Kariyanto juga mencatat bahwa pertumbuhan BEV tahun lalu mencapai 141 persen. Meskipun demikian, ia berpendapat bahwa pasar masih memerlukan kepastian kebijakan agar tidak terjebak dalam sikap wait and see.
Ia berharap agar keputusan final mengenai insentif dapat segera diambil. "Karena sebenarnya kalau setelah aturan kan memang berakhir di Desember 2025, tetapi kan ada wacana yang bergulir di market ini justru yang membuat konsumen kadang masih wait and see, dari sisi dealer misalnya juga masih wait and see ini kejelasan seperti apa," jelas Kariyanto.
Biaya Operasional dan Perawatan Jadi Daya Tarik Utama Mobil Listrik
Pandangan yang sejalan juga diungkapkan oleh Josua Pardede, seorang pengamat ekonomi senior. Ia menilai bahwa pangsa pasar mobil listrik mengalami peningkatan yang signifikan dan mulai menciptakan segmen pasar tersendiri dalam industri otomotif di tanah air.
"Kalau kita lihat market share dari BEV kan memang terus meningkat ya. Dulu tahun terakhir ini bahkan beberapa pemain pun juga sudah menyalip ya, beberapa pemain dari mobil bensin sendiri," ujarnya. Menurutnya, salah satu daya tarik utama mobil listrik terletak pada keunggulan biaya operasional dan perawatan yang lebih rendah, ditambah dengan adanya jaminan nilai jual kembali yang menarik bagi konsumen.
Josua menjelaskan bahwa konsumen semakin menyadari keuntungan dari segi cost untuk bahan bakar dan maintenance.
"Karena tentunya tadi sudah kita lihat bagaimana dari sisi cost-nya, untuk bahan bakar, lalu juga untuk maintenance, dan juga tadi yang disampaikan ada spesifik misalkan untuk resale value guarantee-nya," katanya. Ia juga memprediksi bahwa pada tahun 2025, pembeli yang berulang atau second time buyer akan menjadi dominan dalam pasar kendaraan listrik. "Kalau di 2025 ceritanya adalah second time buyer itu adalah kecenderungannya adalah untuk membeli mobil EV," ujarnya.
Aspek Makroekonomi sebagai Faktor Penting
Dari perspektif makroekonomi, Josua mengungkapkan bahwa beberapa indikator mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan, meskipun daya beli sebagian masyarakat masih menghadapi berbagai tantangan.
"Data-data dari surveinya Bank Indonesia, survei konsumen dan juga survei penjualan eceran sudah menunjukkan tanda-tanda perbaikan, bahkan Menteri Keuangan pun juga mengatakan bahwa sudah terjadi kembalikan arah ekonomi, dari sejak kuartal tempat tahun lalu. Makanya pertumbuhan ekonomi kita, kuartal empat kan pertumbuhannya menekati 5,4 persen," ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa pemulihan ekonomi serta penciptaan lapangan kerja merupakan faktor kunci untuk mendorong kembali penjualan otomotif di tanah air.
"Harus ada pembukaan lapangan pekerjaan yang signifikan, yang masif ya dari pemerintah, agar tadi penerimaan masyarakat pun ataupun pendapatan masyarakat ini bisa meningkat dengan signifikan," kata Josua.
Di tengah ketidakpastian global dan kelanjutan insentif, pasar mobil listrik di Indonesia masih dipandang memiliki potensi pertumbuhan yang cukup besar. Kepastian kebijakan, perbaikan ekonomi, dan peningkatan daya beli masyarakat akan menjadi faktor penentu dalam arah penjualan kendaraan listrik di masa mendatang.