8 Risiko Mobil Nekat Terjang Banjir
Menerobos banjir dengan mobil berisiko tinggi, mulai dari kerusakan mesin hingga potensi kecelakaan. Temukan risikonya di sini.
Musim hujan seringkali membawa tantangan bagi pengendara, terutama saat harus melintasi genangan air atau banjir.
Menerobos banjir dengan mobil dapat menyebabkan berbagai risiko serius, mulai dari kerusakan komponen vital kendaraan hingga bahaya keselamatan bagi pengendara dan penumpang.
Berikut adalah rincian risiko-risiko tersebut:
1. Kerusakan Mesin (Water Hammer/Hydrolock)
Salah satu risiko paling fatal saat menerobos banjir adalah terjadinya water hammer atau hydrolock. Water hammer merupakan risiko paling berbahaya saat terdampak banjir. Ketika air mulai masuk ke dalam mesin, air yang terisap ke dalam ruang bakar akan menyebabkan kerusakan. Dampak dari kerusakan bisa sangat fatal, mulai piston yang rusak, setang piston yang bengkok, sampai crankcase yang pecah akibat tekanan air yang besar saat mesin bekerja.
Hydrolock terjadi saat air tersedot ke dalam saluran udara (intake manifold) dan masuk ke ruang bakar. Karena air tidak bisa dikompresi seperti udara atau bahan bakar, maka tekanan di dalam silinder bisa menyebabkan piston macet, connecting rod bengkok, bahkan mesin rusak total. Air dapat masuk melalui intake atau filter udara, dan jika mesin dipaksa menyala, air yang tidak dapat dikompresi akan menyebabkan benturan keras pada komponen internal mesin seperti piston dan connecting rod, yang bisa mengakibatkan kerusakan parah hingga mesin jebol atau mati total. Biaya perbaikan untuk kasus water hammer bisa sangat mahal, bahkan mencapai puluhan juta rupiah, dan seringkali memerlukan overhaul mesin atau turun mesin.
2. Gangguan Sistem Kelistrikan
Mobil modern sangat bergantung pada sistem elektronik yang sensitif terhadap air. Jika ECU (Electronic Control Unit), sensor, atau kabel-kabel terpapar air, bisa terjadi korsleting yang mengakibatkan kerusakan fungsi kendaraan. Bahkan, risiko mobil mogok atau terbakar akibat hubungan arus pendek juga meningkat.
Selain mesin, kelistrikan pada mobil paling terancam rusak parah akibat terendam banjir. Sebab, air bisa masuk ke komponen kelistrikan dan kemungkinan bisa terjadi short cut atau konsleting. Komponen seperti Electronic Control Unit (ECU), sensor, dan kabel-kabel dapat mengalami korsleting jika terpapar air, menyebabkan kerusakan fungsi kendaraan, mogok, bahkan risiko kebakaran. Air juga dapat merusak komponen kelistrikan lain seperti alternator, soket, sekring, dan kompresor AC.
3. Rem Tidak Berfungsi Optimal
Air yang masuk ke dalam sistem pengereman dapat mengurangi efektivitas rem. Air yang masuk ke cakram atau tromol rem dapat mengurangi daya cengkeram rem, sehingga pengereman menjadi kurang efektif. Jika tidak segera dikeringkan, rem bisa kehilangan performa dan meningkatkan risiko kecelakaan.
Kondisi basah ini membuat daya cengkram rem menurun, sehingga pengereman menjadi kurang optimal. Risiko tergelincir atau mobil sulit berhenti juga meningkat, yang dapat menyebabkan kecelakaan di tengah kondisi jalan licin. Rem bisa terasa blong atau kurang menggigit karena kehilangan kontak antara bantalan rem dan rotor rem yang basah. Kotoran dari air banjir juga dapat menyelinap ke dalam rem, menyebabkan karat pada piringan atau disc brake dan bahkan terkikis.
4. Kerusakan Transmisi Otomatis
Mobil dengan transmisi otomatis lebih rentan terhadap kerusakan akibat banjir. Jika air masuk ke dalam girboks, oli dapat bercampur dengan air sehingga menyebabkan perpindahan gigi tersendat dan merusak komponen dalam transmisi. Air yang masuk ke dalam girboks dapat mencampur oli transmisi dengan air, menyebabkan perpindahan gigi tersendat dan merusak komponen internal transmisi.
5. Korosi dan Kerusakan Sasis/Komponen Bawah Mobil
Air banjir seringkali mengandung lumpur dan zat kimia yang dapat mempercepat korosi. Air banjir biasanya mengandung lumpur dan zat kimia yang dapat mempercepat korosi pada bagian bawah mobil. Jika tidak segera dibersihkan, karat dapat menyebar dan melemahkan struktur kendaraan.
Air yang merembes ke kopling, akan membuat kopling dan dekrup menjadi lembab. Kelembaban ini mengakibatkan pelat kopling dan dekrup menempel. Bagian bawah mobil, sasis, dan komponen suspensi rentan terhadap karat dan kerusakan struktural jika tidak segera dibersihkan setelah menerobos banjir. Selain itu, air juga dapat merusak sistem knalpot, menyebabkan karat pada pipa knalpot dan mempengaruhi kinerja mobil secara keseluruhan.
6. Kabin Kemasukan Air dan Masalah Interior
Meskipun pintu mobil tertutup rapat, air banjir dapat masuk ke dalam kabin melalui celah sempit. Risiko menerjang banjir selanjutnya yaitu air masuk ke dalam kabin. Jika hal tersebut terjadi, panel bodi bisa kotor dan berbau. Belum lagi mur atau komponen lain yang berkarat.
Efek negatifnya, panel bodi mobil dapat terkena air kotor yang bau dan membuat kabin tidak nyaman. Ditambah, membersihkan bahan pada kabin mobil bukanlah perkara mudah. Air yang masuk ke interior dapat menyebabkan bau apek, pertumbuhan jamur, dan karat pada bagian besi di bawah jok. Jamur yang tumbuh di interior mobil dapat berbahaya bagi kesehatan, menyebabkan asma dan pusing.
7. Risiko Kecelakaan
Menerobos banjir juga meningkatkan risiko kecelakaan. Anda bisa terlibat kecelakaan jika tidak hati-hati saat melewati jalan banjir. Seperti ketika mobil di depan tiba-tiba berhenti karena mogok. Kalau tidak bisa menghindar, bisa menabrak mobil tersebut. Menghindar pun bisa bermasalah jika mobil masuk ke lubang atau turun ke bahu jalan yang tidak terlihat oleh mata, bahkan terbawa arus air yang deras.
Jalanan yang tertutup air membuat pengemudi sulit membedakan jalan yang rata, berlubang atau bahkan selokan dan trotoar di sisi jalan. Banjir juga membuat kinerja rem menjadi tidak optimal, ditambah visibilitas pengemudi yang terganggu sehingga sangat berpotensi terjadi tabrakan apabila kendaraan di depan Anda berhenti mendadak. Jalanan yang tertutup air menyulitkan pengemudi untuk melihat lubang, selokan, atau objek lain di bawah permukaan air. Selain itu, mobil bisa terbawa arus air yang deras, dan benda-benda tajam yang terbawa arus juga dapat merusak ban atau bodi mobil.
8. Penolakan Klaim Asuransi dan Biaya Perbaikan Tinggi
Kerusakan akibat menerobos banjir seringkali tidak ditanggung oleh asuransi jika dianggap sebagai kelalaian pengemudi. Yang tidak kalah penting, ada risiko klaim asuransi atas kerusakan mobil akibat banjir bisa ditolak. Water hammer terjadi karena Anda tetap memaksakan menyalakan mesin dan melajukan mobil padahal sudah terendam banjir. Perbuatan tersebut bisa dikategorikan sebagai kelalaian yang mengakibatkan kerusakan pada kendaraan sehingga klaim ditolak.
Biaya perbaikan mobil yang terendam banjir bisa sangat mahal, tergantung tingkat kerusakannya. Estimasi biaya perbaikan dapat berkisar dari jutaan hingga puluhan juta rupiah, terutama jika melibatkan kerusakan mesin atau kelistrikan. Mengingat berbagai risiko serius ini, sangat disarankan untuk tidak memaksakan diri menerobos banjir. Batas aman untuk menerjang banjir umumnya adalah setengah tinggi ban. Jika terpaksa, jaga kecepatan tetap rendah dan stabil, hindari melepas gas atau mengerem mendadak, dan matikan AC. Segera periksa mobil di bengkel setelah melewati genangan air untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
Banyak pengendara mobil yang merasa lega saat kendaraannya berhasil melewati banjir tanpa hambatan berarti. Sayangnya, keberhasilan tersebut sering kali membuat pengemudi lalai untuk melakukan pengecekan menyeluruh terhadap kondisi mesin dan komponen kendaraan. Padahal, air banjir yang masuk ke bagian tertentu mobil dapat menimbulkan kerusakan serius dalam jangka panjang. Untuk menjaga kualitas dan performa mobil tetap optimal, penting bagi Anda untuk segera memeriksa beberapa bagian penting setelah menerjang banjir.