Mengenal Genta Lonceng Zaman Hindu Buddha, Wajib Ada dalam Upacara Keagamaan
Lonceng zaman Hindu Buddha ini punya fungsi penting yang hingga kini masih digunakan.
Lonceng ini digunakan untuk mengiringi puja dan mantra oleh pemimpin upacara yadnya
Mengenal Genta Lonceng Zaman Hindu Buddha, Wajib Ada dalam Upacara Keagamaan
Kata genta berasal dari bahasa Sansekerta ghanta yang artinya bel atau lonceng. Alat berbentuk bulat lonjong atau seperti topi tinggi berongga ini di dalamnya berisi anak genta yang saat digoyangkan akan berbunyi.
Badan dan puncak genta biasanya diberi hiasan seperti daun, bunga, saluran garis lengkung, hiasan binatang seperti singa, gajah, naga dan lain-lain.Di puncak genta biasanya juga terdapat pegangan, baik berupa lubang gantungan atau tangkal.
Genta umumnya dibuat dari bahan logam, terutama perunggu sehingga kuat dan menghasilkan bunyi nyaring.
Macam-macam Genta
Ada dua macam genta, yakni genta gantung dan genta bertangkai. Genta gantung adalah genta yang ditambatkan pada sebuah media menggunakan rantai atau tali, bisa memiliki bandul atau tidak.
Genta yang memiliki bandul dapat dibunyikan dengan cara menggoyangkannya. Sedang yang tidak berbandul dibunyikan dengan cara dipukul. Ukuran genta gantung bervariasi dari kecil hingga besar.
Sementara genta bertangkai adalah genta yang mempunyai tangkai di bagian puncak. Genta jenis ini biasanya memiliki bandul dan berukuran kecil.
Sejarah Genta
Mengutip dari jogjacagar.jogjaprov.go.id, genta merupakan salah satu alat upacara yang ditempatkan di sebuah kuil atau bangunan candi.
Sementara itu, mengutip dari laman resmi museum.kemdikbud.go.id, sejarah Genta Perunggu zaman Hindia-Budha di Indonesia menyebutkan bahwa benda ini merupakan peninggalan purbakala dari abad ke-7 Masehi.Menurut tradisi di India para pendeta Hindu menyerukan genta apabila sedang berdoa kepada dewa-dewa.
Genta yang digunakan berukuran kecil dengan pegangan indah, serta dihias dengan simbol-simbol keagamaan seperti tombak Dewa Siwa, burung Dewa Wisnu atau raja kera Hanoman.
Genta biasanya digunakan sebagai sarana mengiringi puja dan mantra oleh pemangku atau para sulinggih saat memimpin upacara yadnya
Koleksi Museum Nasional
Pada masa Hindu Buddha di Indonesia sekitar abad VIII-XV Masehi, genta banyak digunakan oleh masyarakat. Saat ini, Museum Nasional memiliki 170 koleksi genta. Mengutip dari lib.ui.ac.id, selain sebagai pengiring puji-pujian, fungsi genta di Jawa pada masa lalu yakni sebagai benda persembahan.