Berbeda dengan Angklung, Begini Sejarah Alat Musik Calung yang Dulu Jadi Teman Petani Sunda saat Jaga Sawah

Calung ternyata punya sejarah yang menarik untuk mengobati rasa kesepian para petani Sunda

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Berbeda dengan Angklung, Begini Sejarah Alat Musik Calung yang Dulu Jadi Teman Petani Sunda saat Jaga Sawah
Calung ternyata punya sejarah yang menarik untuk mengobati rasa kesepian para petani Sunda (© 2024 merdeka.com)

Calung  ternyata punya sejarah yang menarik untuk mengobati rasa kesepian para petani Sunda

Calung telah lama menjadi alat musik tradisional khas masyarakat Sunda. Namun kepopulerannya saat ini terbilang kalah dengan angklung, meski sama-sama terbuat dari bambu. Alat musik Calung memiliki kisah yang menarik di masa silam.

Biasanya Calung dipentaskan di acara-acara kebudayaan Sunda seperti pawai, hajat desa sampai dikolaborasikan dengan alat musik modern. Nadanya tak kalah indah dengan angklung, bahkan bisa saling melengkapi.

Secara tampilan, bambu yang telah dipotong sebagai bahan utama alat musik ini disusun berbaris dengan ukuran panjang yang berurutan. Berikut kisah unik dari alat musik Calung yang legendaris.

Ada banyak versi terkait sejarah alat musik calung, yakni dimulai sejak abad ke-12 hingga 16 masehi dan di tahun 1960-an oleh Departemen Kesenian UNPAD.

Namun menurut laman bandung.go.id, calung sudah ada sejak lama, di mana dahulu merupakan teman dari para petani di dataran tinggi Jawa Barat.

Ketika sedang menjaga tanaman padi dari serangan hama, para petani merasa kesepian, sehingga mereka memanfaatkan tumbuhan di sekitar untuk membuat tetabuhan yang mirip dengan angklung.

Sejak saat itu dikenal alat musik bernama calung yang suaranya lebih dalam dari angklung.

Lantas jika sama-sama terbuat dari bambu, apa yang membedakan? Sebenarnya perbedaan antara calung dengan angklung adalah dari sisi suara dan cara memainkannya.

Mengutip laman Indonesia Kaya, Angklung memiliki nada yang lebih tinggi dan nyaring dibanding calung. Bahkan suaranya lebih kompleks dan meriah. Sedangkan calung hanya satu nada.

Cara memainkannya pun berbeda, yakni calung dipukul sedangkan angklung digoyangkan. Walau demikian keduanya sama-sama memiliki tangga nada pentatonik, atau yang biasa disebut da-mi-na-ti-la oleh masyarakat Sunda.

Ada kepercayaan orang Sunda yang meyakini jika memainkan alat musik calung dapat mengobati hati yang sepi.

Ini karena suara calung terdengar unik, nyaring namun tetap rendah (sedikit memunculkan nada bass).

Dengan memainkan calung memakai pola pentatonik d-mi-na-ti-la, rasa kesepian dari pemainnya bisa hilang.

Dari sana alat musik ini kemudian mendapat julukan alat musik pelipur lara (ngubaran hate nu keur liwung).

Penamaan calung diketahui berasal dari penggalan kata Dicaca (Ca) dan Liwung (Lung) atau dipukul di bambu. Ada juga yang menyebut Maca (Ca) dan Melung (Lung), artinya dibaca dimainkan dengan membaca nada secara melung atau keras pada bambu.

Namun terlepas itu, alat musik calung telah menambah kekayaan budaya masyarakat Sunda, terutama di bidang alat musik tradisional.

Alat musik ini juga terkenal dengan harmonisasinya yang adiluhung, dan menyatu saat dimainkan di kondisi apapun.

Alat musik ini biasanya dimainkan secara tunggal, maupun dikolaborasikan dengan alat musik lain seperti angklung, gitar, kendang dan gamelan Sunda.

Di pertunjukan besar, seperti jaipongan ataupun yang sejenis, alat musik ini tak pernah absen menambah semarak nada dengan kekhasannya.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com

Mengutip Instagram @napakjagatpasundan, calung terbagi ke dalam beberapa jenis seperti calung rantay, yakni calung yang terdiri 10 susunan batang bambu yang dipasang dengan cara dideretkan dengan menggunakan ikatan-ikatan tali.

Kemudian ada juga calung gambang yakni pemasangan batang bambu dengan tali, namun dengan susunan acak. Dan terakhir calung jinjing yang digantung dan dimainkan seperti angklung, namun tetap dipukul 

Rekomendasi