UMKM Yoga Djaya Binaan BRI Ini Bangkitkan Rempah Nusantara hingga Jadi Sorotan Tamu Mancanegara
Lewat BRI, UMKM Yoga Djaya bangkit, tumbuh, dan menembus pasar dunia.
Di sebuah sudut rumah di Yogyakarta, aroma kayu manis dan jahe menyatu dengan semangat seorang perempuan bernama Santi Wijaya. Dari dapurnya, bukan hanya rempah yang diracik, tapi juga mimpi dan cita-cita agar warisan herbal Nusantara kembali berakar di keseharian masyarakat.
Dengan latar belakang sebagai mantan pekerja LSM dan semangat menjaga kesehatan keluarga lewat resep turun-temurun, Santi memulai Yoga Djaya, UMKM yang kini punya 12 varian minuman rempah.
Di balik setiap racikan, ada riset, observasi, dan hasrat kuat untuk menghadirkan yang terbaik.Namun, semua itu tak lahir dalam sekejap. Perjalanan Yoga Djaya dipenuhi eksperimen rasa, tantangan hingga pencarian koneksi yang membawanya pada Rumah BUMN BRI Yogyakarta, tempat di mana produk dan visinya mulai bertumbuh nyata.
Menjaga Rasa, Merawat Proses
Sebagian orang mungkin hanya mengenal wedang uwuh sebagai sekadar “minuman rempah”. Namun di tangan Santi, pemilik UMKM binaan BRI bernama Yoga Djaya, minuman rempah menjadi lebih dari itu. Ia menghadirkan cita rasa tradisi yang dikemas dengan sentuhan inovasi, menjadikannya bukan hanya produk, tetapi juga pengalaman budaya yang penuh makna.
Setiap produk Yoga Djaya disiapkan dengan proses yang panjang dan terukur. Mulai dari pemilihan bahan baku berkualitas, pengeringan selama tiga hari menggunakan mesin khusus, hingga proses peracikan berbasis resep warisan keluarga. Resep-resep tersebut tidak hanya mengandalkan ingatan masa kecil Santi, tetapi juga telah ia konsultasikan dengan dokter dan referensi ilmiah demi memastikan khasiat dan keamanannya.
“Kalau direbus, satu pack bisa untuk tiga gelas. Itu karena kami enggak asal-asalan. Kami pakai mesin pengering yang hasilnya beda dari yang dijemur biasa,” ujar Santi menjelaskan keunggulan proses produksinya saat ditemui merdeka.com pada Kamis (18/4/2025).
Dengan penggunaan mesin, produk Yoga Djaya memiliki daya simpan lebih lama tanpa harus menambahkan bahan pengawet, sekaligus menjaga konsistensi kualitas rasa dan aroma. Meskipun menggunakan teknologi modern, Yoga Djaya tetap menjaga sentuhan tradisional yang membedakannya dari produk lain.
Santi percaya bahwa tidak ada satu resep wedang uwuh yang benar-benar baku. Setiap peracik memiliki ciri khas masing-masing, dan itu sah-sah saja.
“Kalau ditanya, sebenarnya nggak ada yang baku resep wedang uwuh. Nah, tiap racikan itu akan menghasilkan sesuatu yang berbeda. Menurut saya, saya juga berbeda dengan orang lain,” ucapnya.
Keunikan Yoga Djaya juga terletak pada transparansi dan edukasi yang ditawarkan melalui kemasan premium mereka. Komposisi bahan ditulis lengkap dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris sebagai bentuk kejujuran sekaligus kesiapan menembus pasar global.
"Orang akan menilai ketika mereka mengecap rasa. Biar konsumen yang menilai ya,” tambah Santi tenang.
Salah satu produk unggulan Yoga Djaya adalah Bir Mataram, minuman rempah khas Yogyakarta yang sudah ada sejak era Sultan HB VII. Minuman ini diracik dari berbagai rempah alami dan menjadi simbol warisan budaya Yogyakarta.
Selain itu, Yoga Djaya juga memproduksi bir pletok, minuman khas Betawi yang awalnya diciptakan sebagai alternatif sehat pengganti minuman beralkohol pada masa kolonial.
Dari dapur kecil rumahnya, Santi berhasil meracik ulang memori masa kecil, racikan minuman rempah sang ibu dan menghidupkannya dalam bentuk yang lebih luas dan berdampak. Dengan semangat pelestarian dan inovasi, Yoga Djaya menjadi bukti bahwa tradisi dan teknologi bisa berjalan berdampingan, bahkan saling menguatkan.
Pelajaran Berharga Mengikuti BRI UMKM EXPO(RT)
Tahun 2020 menjadi titik balik bagi Santi. Di tengah ketidakpastian masa pandemi, ia merasa kehilangan arah. Namun di saat-saat penuh keraguan itulah, Santi mendengar tentang Rumah BUMN BRI Yogyakarta (RuBy) dari sesama pelaku usaha kecil.
Berbekal rasa ingin tahu dan harapan baru, ia memutuskan untuk bergabung. Sejak saat itu, ia mulai aktif mengikuti berbagai pelatihan dan pendampingan yang difasilitasi oleh RuBy.
Salah satu tonggak penting dari perjalanan tersebut adalah ketika Yoga Djaya terpilih mengikuti ajang bergengsi BRI UMKM EXPO(RT), yang sebelumnya dikenal sebagai Brilianpreneur. Acara tahunan ini merupakan wadah kurasi dan business matching berskala internasional yang mempertemukan UMKM terpilih dengan calon pembeli dari dalam dan luar negeri.
Dari ribuan peserta, hanya ratusan UMKM yang berhasil lolos seleksi ketat dan berkesempatan tampil di panggung tersebut. Santi sendiri sudah dua kali lolos kurasi dan tampil dalam Brilianpreneur pada tahun 2022 dan 2023.
BRI UMKM EXPO(RT) 2023 diadakan pada 7–10 Desember 2023, dengan menghadirkan sebanyak 500 pelaku UMKM terpilih dari seluruh Indonesia. Sedangkan pada tahun 2022, digelar pada 14–16 November. Dari kedua acara tersebut, Santi membawa banyak pelajaran berharga.
“Saya lolos Brilianpreneur dua kali, 2022 dan 2023. Dari situ saya banyak belajar. Kadang kita mikir produknya harus yang wah, padahal ternyata yang diminati buyer justru produk sederhana seperti brambang goreng,” ujar Santi sambil tertawa.
Dari pengalaman-pengalaman itu, Santi semakin mantap membawa produknya ke level yang lebih tinggi. Ia juga mulai membagikan semangat dan wawasan kepada sesama pelaku UMKM.
Tidak hanya itu, melalui fasilitasi dari Rumah BUMN Jogja, Santi dan rekan-rekan UMKM juga mendapat kesempatan langka untuk bertemu langsung dengan Ibu Loto Srinaita Ginting, Staf Ahli Bidang Keuangan dan Pengembangan UMKM Kementerian BUMN sebelum pameran.
"Sangat bahagia dan bangga boleh bertemu langsung dengan Ibu Loto Ginting, Staf Ahli Bidang Keuangan dan Pengembangan UMKM Kementerian BUMN."
Dalam kesempatan tersebut, Santi bersama para pelaku UMKM lainnya berbagi cerita dan pengalaman tentang perjalanan bisnis mereka, termasuk tantangan dan peluang menembus pasar global. Kehadiran Ibu Loto memberi energi baru dan semangat bagi UMKM yang sedang tumbuh untuk terus bergerak maju.
"Difasilitasi dari Rumah BUMN Jogja, kami berdiskusi sharing pengalaman untuk UMKM yang sudah sukses dan mampu menembus pasar dunia. Semoga dengan terbukanya jaringan-jaringan baru dan informasi memungkinkan kami yang masih kecil untuk makin maju dan berkembang" ujar Santi.
“Terima kasih kepada Rumah BUMN Jogja yang sudah memfasilitasi kami. Bisa bertemu langsung dengan Ibu Loto Ginting dan berdiskusi tentang pengembangan UMKM adalah pengalaman yang sangat berharga. Kami merasa lebih diperhatikan dan dimotivasi untuk terus berkembang.”
Santi juga menekankan bahwa untuk bisa tampil di ajang sebesar BRI UMKM EXPO(RT), para peserta harus melalui proses yang tidak mudah. Mulai dari seleksi ketat hingga rangkaian pelatihan yang mempersiapkan mereka agar siap tampil dan berinteraksi langsung dengan calon pembeli internasional.
"Sebelum ikut pameran ada proses seleksi yang ketat. Setelah lolos pun kami mendapatkan banyak pelatihan," katanya.
Pertemuan dengan Ibu Loto menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan UMKM seperti Yoga Djaya untuk membangkitkan semangat, memperluas jaringan, dan membuka jalan menuju pasar yang lebih luas.
Produk Habis di Pameran Bergengsi Pameran BRI
Keikutsertaan Yoga Djaya dalam ajang BRI UMKM EXPO(RT) bukan hanya pengalaman pameran biasa bagi Santi, tetapi juga menjadi titik penting dalam perkembangan usahanya.
Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana produk rempah buatannya ludes terjual dalam waktu singkat. Bahkan, ia harus mengirim stok tambahan dari Yogyakarta ke lokasi pameran karena permintaan yang terus berdatangan.
"Dulu di sana habis semua, sold out,” kenang Santi antusias.
“Pokoknya gimana caranya biar nggak bawa pulang. Bahkan dulu pernah dikirim lagi dari Jogja karena hari kedua udah habis.” tambah Santi.
Pengalaman itu bukan sekadar tentang berjualan, tetapi juga menjadi tantangan pribadi bagi wanita asli Yogyakarta ini. Ia menyadari bahwa menarik perhatian orang yang tidak dikenalnya di pameran berskala nasional adalah ujian tersendiri. Di tengah ratusan peserta dengan produk menarik, ia harus berani tampil dan percaya diri menyampaikan nilai produk Yoga Djaya.
“Challenge untuk saya juga, untuk bisa menarik orang yang nggak saya kenal. Saya menantang diri saya sendiri untuk itu,” ucapnya.
Tidak hanya itu, momen berharga juga terjadi di booth Yoga Djaya ketikaAsha Smara Darra, perancang busana dan Ibunda Reggy Lawalata menyempatkan diri berkunjung di booth Yoga Djaya saat pameran BRI UMKM EXPO(RT) 2023.
"Merasa bangga, booth Yoga Djaya dikunjungi oleh Kak Asha dan Ibu Reggy Lawalata" ujar Santi.
Asha dan ibunda melihat langsung produk minuman rempah khas yang ditawarkan, dan berbincang hangat bersama Santi. Kunjungan tersebut menjadi suntikan semangat dan validasi bahwa produk lokal pun bisa menarik perhatian publik figur dan tokoh nasional.
Acara ini membuka banyak peluang baru bagi Yoga Djaya, baik dari sisi jejaring, wawasan, maupun potensi ekspansi pasar. Santi pun berharap kegiatan seperti ini terus diadakan secara berkelanjutan demi mendorong UMKM Indonesia agar semakin maju dan percaya diri bersaing di kancah internasional.
Pengalaman tersebut membuka matanya bahwa membangun koneksi dan kepercayaan pada konsumen tidak hanya bergantung pada produk, tetapi juga cara menyampaikan cerita dan semangat di baliknya.
Tak Hanya Menjual Produk Tapi Juga Membawa Misi Hidup Sehat
Menurut Santi Wijaya bisnis bukan sekadar urusan menjual produk dan meraup keuntungan. Ada misi lebih besar yang ia emban yaitu memperkenalkan rempah sebagai bagian dari gaya hidup sehat masyarakat Indonesia, terutama generasi muda. Misi ini terus ia bawa sejak pertama kali merintis usahanya dari rumah, hingga kini produknya dikenal luas.
“Rempah itu kalau diminum tiap hari ya keren. Aman juga kalau dikonsumsi terus. Kalau sakit karena rutin minum rempah, sakitnya yang enggak lama. Rempah ini bantu banget,” ujar Santi.
Ia menekankan bahwa rempah bukan hanya solusi saat sakit, tetapi juga bisa menjadi bagian dari rutinitas harian untuk menjaga daya tahan tubuh. Santi pun menolak untuk sekadar menjual produk tanpa membawa nilai.
Di balik bisnis yang ia jalankan, terselip harapannya agar masyarakat semakin mengenal khasiat rempah-rempah lokal. Ia ingin rempah tidak hanya diasosiasikan dengan pengobatan tradisional atau jamu kuno, tetapi juga menjadi alternatif yang menyenangkan bagi kebiasaan minum harian masyarakat.
“Target kami bukan sekadar jualan, tapi memperkenalkan gaya hidup sehat dengan rempah. Saya ingin rempah bisa menggantikan teh atau kopi dalam rutinitas orang,” jelasnya.
Melalui Yoga Djaya, Santi berharap kebiasaan minum rempah bisa menjadi tren baru yang membumi, sehat, dan membanggakan kekayaan lokal. Bukan sekadar untuk kesehatan, tapi sebagai gaya hidup yang alami.
Sering Dikunjungi Wisatawan Asing
Wanita berkacamata dan berambut pendek ini menjelaskan bahwa pelanggan Yoga Djaya tidak hanya berasal dari pasar lokal, tetapi juga banyak dari luar negeri. Para wisatawan mancanegara ini kerap membeli produknya secara langsung dan membawanya pulang dengan cara “hand carry.”
Dalam tiga tahun terakhir, Yoga Djaya telah menerima kunjungan dari wisatawan asing asal berbagai negara, termasuk Vietnam dan Amerika Serikat, yang memberikan respon positif terhadap produk rempah yang ditawarkan.
“Rating saya bagus, dan tamu-tamu ini sudah datang selama 3 tahun,” ujar Santi dengan bangga, menceritakan antusiasme para pengunjung mancanegara terhadap rempah-rempah Nusantara.
Pada Minggu, 27 April 2025 Santi kedatangan tamu dari USA. Di usia mereka yang tak lagi muda, tamu-tamu ini tetap bersemangat untuk belajar tentang rempah Nusantara, mulai dari mengenal jenis rempah, mencium aroma khasnya, hingga mencicipinya. Mereka juga diajak melihat langsung proses produksi di Yoga Djaya.
"Kami memperkenalkan betapa bermanfaatnya rempah Nusantara, yang tidak hanya membantu kesembuhan tetapi juga menjaga daya tahan tubuh dan mereka sangat antusias" tambah Santi.
Tak hanya belajar, tamu-tamu ini juga membawa oleh-oleh sebagai kenang-kenangan dari pengalaman mereka yang berharga.
Minuman Rempah yang Terjangkau
Kini Yoga Djaya punya 12 varian minuman rempah. 12 variannya ialah Wedang Uwuh, Wedang Secang, Bir Mataram, Bir Plethok, Wedang Wengi, Seruni, Kunir Asem, Seger Waras, Empon-empon, Minuman Rempah, Ganir dan Rosela.
Yoga Djaya juga menawarkan ragam produk minuman rempah dalam berbagai bentuk kemasan untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Mulai dari kemasan rebus isi lima, sachet isi tiga, kemasan premium, hingga versi celup yang praktis, khususnya untuk konsumen dengan gaya hidup sibuk.
Harga produk Yoga Djaya cukup terjangkau, berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 35.000. Untuk kemasan premium seharga Rp 35.000, tersedia varian seperti Bir Plethok, Bir Mataram, dan Wedang Uwuh yang menjadi favorit banyak pelanggan.
Yoga Djaya menjual produknya secara online dan offline agar bisa menjangkau lebih banyak pembeli. Untuk online ia memasarkannya dari media sosial dan market place, sedangkan untuk offline ia menjual produknya di berbagai tempat.
“Saya titipkan ke dua toko, hotel dan bandara, di store RuBy, Alfamart yang ada di Kota Yogyakarta, satu di toko oleh-oleh,” jelas Santi.
Dengan cara ini, produk rempah miliknya bisa lebih mudah ditemukan, baik oleh warga lokal maupun wisatawan.
Impian Besar Yoga Djaya
Santi memiliki impian besar untuk masa depan Yoga Djaya. Lebih dari sekadar tempat produksi, ia ingin menciptakan sebuah pusat edukasi dan pengalaman tentang rempah dan tanaman obat. Baginya, rempah bukan hanya produk yang bisa dikonsumsi, tapi juga kekayaan budaya dan ilmu pengetahuan yang patut dipelajari lebih dalam.
“Saya ingin punya center dimana orang bisa belajar banyak hal tentang identifikasi rempah dan obat-obatan herbal,” ujarnya penuh semangat.
Ia membayangkan sebuah ruang yang tak hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk belajar dan berbagi. Di tempat itu, ia akan menyiapkan ruang kerja, laboratorium mini, hingga taman kecil berisi tanaman rempah.
“Terus saya punya tempat kerja di situ, terus ada lab seperti tanamannya di situ, orang bisa membau, menyentuh, melihat lebih dalam lagi,” lanjutnya.
Melalui tempat tersebut, Santi berharap orang-orang dapat merasakan langsung manfaat dan keunikan setiap jenis rempah, dari aroma, bentuk, hingga cara pengolahannya.Tak hanya itu, ia juga ingin menghadirkan kedai sederhana di tempat tersebut.
“Ada kedainya jadi saya bisa nyeduh dan bisa ngobrol,” ungkapnya.
Bagi Santi, rempah bukan sekadar komoditas, tapi juga jembatan untuk membangun koneksi antar manusia, melalui percakapan hangat sambil menikmati racikan rempah khas Nusantara.
BRI Dorong UMKM Tembus Pasar Dunia
Sejak pertama kali digelar pada tahun 2019, BRI UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR telah menjadi salah satu ajang pameran bergengsi yang dirancang untuk mendorong UMKM Indonesia menembus pasar global. Ajang ini bukan hanya sekadar bazar atau pameran biasa, melainkan sebuah platform strategis yang menggabungkan kurasi produk, pelatihan, dan business matching dengan calon pembeli, termasuk dari luar negeri.
Sebelum bisa tampil di panggung utama, para pelaku UMKM terlebih dahulu harus melalui proses kurasi yang ketat. Produk-produk yang dipilih merupakan hasil dari seleksi yang mempertimbangkan kualitas, daya saing, dan potensi pasar. Tidak hanya itu, peserta juga mendapatkan pembekalan agar siap berinteraksi dalam skala internasional.
“Bazar itu harapannya bisa mendatangkan buyer-buyer dari luar negeri. Mereka yang bisa pameran adalah hasil dari proses kurasi,” ujar Bagas Priambodo selaku koordinator Rumah BUMN BRI Yogyakarta.
Antusiasme pelaku usaha pun meningkat dari tahun ke tahun, yang terlihat dari jumlah pendaftar yang terus bertambah. Selain melalui ajang EXPO(RT), BRI juga menjalankan program Rumah BUMN. Rumah BUMN ini menjadi pusat pembinaan dan pengembangan kapasitas UMKM, mulai dari pelatihan, mentoring, hingga fasilitasi pameran dan akses pembiayaan.
Diketahui, BRI mengelola lebih dari 54 Rumah BUMN yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air. Dari sekian banyak Rumah BUMN yang ada, Rumah BUMN BRI Yogyakarta menjadi salah satu yang paling aktif, terutama dalam menyelenggarakan pelatihan-pelatihan yang relevan dan berkelanjutan bagi para pelaku UMKM.
“Saat ini terdapat sekitar 54 Rumah BUMN BRI di seluruh Indonesia, dan Yogyakarta adalah salah satu yang paling aktif, khususnya dalam kegiatan pelatihan. Hampir setiap bulan ada program peningkatan kapasitas yang disesuaikan dengan kebutuhan UMKM setempat,” tambah Bagas.
Rumah BUMN Yogyakarta tidak hanya fokus pada pelatihan teknis seperti digital marketing, packaging, atau manajemen keuangan, tetapi juga aktif membangun jejaring antar pelaku usaha dan memfasilitasi mereka untuk masuk ke pasar nasional hingga global.
Melalui ekosistem seperti inilah, BRI terus berupaya menghadirkan dampak nyata, menjadikan Rumah BUMN BRI bukan sekadar tempat pelatihan, melainkan rumah pertumbuhan bagi pelaku usaha lokal.