Teka-Teki Kematian Pensiunan Jenderal TNI di Perairan Marunda, Kecelakaan atau Bunuh Diri?
Dua pekan sudah penyelidikan kematian Hendrawan Ostevan dilakukan kepolisian. Teka-teki penyebab purnawirawan TNI itu meninggal masih misteri.
Dua pekan sudah penyelidikan penyebab kematian Hendrawan Ostevan dilakukan kepolisian. Teka-teki penyebab kematian purnawirawan TNI jenderal bintang satu itu masih misteri.
Mayat Hendrawan Ostevan sebelumnya ditemukan tewas mengambang di perairan Marunda Jakarta Utara pada Jumat (10/1) sekira pukul 15.15 WIB. Mayat Brigjen TNI yang pernah berdinas di Badan Intelijen Negara (BIN) dengan pangkat terakhir adalah pembina Utama pertama kali itu ditemukan nelayan datang dari laut dan memberikan informasi melihat ada sesosok mayat terapung, di sekitar sero-sero nelayan sebelah timur Marunda Center.
Saksi lalu melaporkan temuan tersebut ke kepolisian sekitar. Saksi itu menyebut telah menemukan mayat laki-laki mengapung di perairan Pelabuhan Marunda, Jakarta Utara.
Selanjutnya, tim dari Markas Unit Patroli Marunda memerintahkan Kapal Bko VII- 1007, VII - 1024, Anggota Markas dan Bhabinkamtibmas agar segera melaksanakan pencarian dan evakuasi ke laut. Pukul 15.53 WIB, mayat berhasil ditemukan di sekitar sero sero Marunda Center dengan ciri-ciri, laki-laki, memakai kaos belang-belang, celana jin warna hitam dan gesper hitam.
"Setelah dilakukan pengecekan bahwa mayat tersebut berjenis kelamin laki-laki dengan ciri-ciri menggunakan kaos berkerah warna belang, celana panjang jeans warna hitam," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary.
Aktivitas Terakhir Hendrawan Ostevan
Pensiunan TNI berpangkat jenderal bintang satu itu sebelumnya sempat berputar-putar di kawasan Bogor dan Jakarta sebelum terjatuh di Perairan Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Aktivitas itu dilakukan mantan anggota Badan Intelijen Negara (BIN) tersebut berdasarkan keterangan keluarga kepada kepolisian.
"Dari rumah berdasarkan keterangan keluarga ke Tangerang. Dari situ berdasarkan analisa IT, ya korban ini muter-muter sampai ke Bogor, ke Senen, ujungnya ke Cilincing, terakhir ke Marunda tersebut," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syak Indardi kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Kamis (16/1).
Namun keterangan keluarga itu masih akan didalami kepolisian. "Untuk wawancara awal sudah, tapi harus dilakukan pendalaman lebih, untuk mendapatkan profil korban nih seperti apa sehari-hari nya," ujar Ade Ary.
Selain berputar-putar sebelum ditemukan meninggal dunia, berdasarkan keterangan keluarga, korban disebut tidak memiliki musuh hingga masalah.
Kendati demikian, kepolisian masih mencari siapa orang yang terakhir bertemu dengan korban sebelum ditemukan tewas di perairan Marunda.
"Kalau dari pihak keluarga tidak ada musuh, tidak ada masalah, sampai saat ini seperti itu. Tapi masih, kita masih mencari juga orang siapa yang terakhir bertemu korban," kata dia.
Mobil Hendrawan Ostevan Ditemukan
Mobil Hendrawan Ostevan yang terpisah dari jenazah akhirnya ditemukan. "Baru saja mendapat update dari rekan-rekan penyidik bahwa sekira jam 10 hari ini, pagi ini, telah ditemukan mobil yang diduga dikendarai Brigjen TNI purnawirawan yang ditemukan meninggal dunia beberapa waktu yang lalu," kata Ade Ary kepada wartawan, Jakarta, Sabtu (18/1).
Ade menjelaskan, posisi mobil ditemukan tidak jauh dari sekitar lokasi penemuan jenazah di kawasan yang sama di Marunda di KCN di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Mobil itu yakni bermerek Toyota Vios berwarna hitam dengan nomor polisi B 1606 LB.
"Upaya pencarian oleh tim gabungan membuahkan hasil, kami menghaturkan rasa syukur ya. Selanjutnya mobil ini akan dilakukan pemeriksaan secara laboratoris, dilakukan penelitian, dilakukan pendalaman oleh Puslabfor Polri ya," ujar Ade Ary.
Kepolisian mengungkapkan perkembangan penyelidikan kasus kematian Hendrawan Ostevan dan mobil Toyota Vios hitam berpelat B 1606 LB ditemukan terpisah masuk ke dalam Dermaga Marunda, Jakarta Utara. Kepolisian menyebut penelusuran tim labolatorium forensic tidak ditemukan bekas kecelakaan dari kendaraan tersebut.
"Berdasarkan hasil giat pemeriksaan tempat kejadian perkara (TKP), tidak ditemukan tanda-tanda kecelakaan lalu lintas yang terjadi sebelum mobil jatuh ke laut," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Ade Ary Syam dalam keterangan diterima, Rabu (22/1).
Ade menambahkan, masih berdasarkan hasil labolatorium forensik, diperkirakan mobil sesaat sebelum jatuh ke laut berkecepatan 35 kilometer per jam. Hal itu diketahui dari perbandingan jarak dan waktu video CCTV pada TKP.
"Pengambilan titik koordinat untuk pengecekan cuaca, kecepatan angin, dan kelembapan pada saat kejadian dengan menggunakan satelit," ujar Ade.
Selanjutnya, Ade mengungkap labolatorium forensik juga sudah melakukan pemeriksaan umum kendaraan untuk jejak/tols mark pada bumper depan dan belakang, 4 roda, 4 pintu, kaca depan, kaca kanan depan, hand break, persneling, dan stir mobil. Hasilnya, tidak ditemukan tanda-tanda kecelakaan lalu lintas yang terjadi sebelum mobil jatuh ke laut.
Hingga kini penyelidikan terkait kematian Hendrawan masih dilakukan kepolisian. Belum diketahui apakah pensiunan jenderal tni itu bunuh diri atau kecelakaan?