Cerita di Balik Al Quran Raksasa di Ponpes Al Hikmah Cilegon, Ditulis Menggunakan Tangan
Kabarnya, seluruh mushaf di Al Quran tersebut ditulis tangan oleh ustaz pondok pesantren bernama Kiai Ahmad Basarudin Bin Ali Jaya di tahun 1990-an silam
Banten telah lama menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di wilayah barat pulau Jawa setelah Cirebon. Ini bisa dibuktikan dari hadirnya kesultanan di Kota Serang dan sejumlah pondok pesantren termasuk Cilegon.
Rupanya, fenomena menarik tak hanya berangkat dari banyaknya tempat berlatar Islam, namun peninggalannya juga seperti Al Quran raksasa berusia puluhan tahun. Kitab suci ini sampai sekarang masih dirawat dengan apik di Pondok Pesantren Al Hikmah, Lingkungan Cigading, Kelurahan Tegal Ratu, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon.
Kabarnya, seluruh mushaf di Al Quran tersebut ditulis tangan oleh ustaz pondok pesantren bernama Kiai Ahmad Basarudin Bin Ali Jaya di tahun 1990-an silam.
Sampai sekarang, kita suci umat Islam itu masih terawat dengan baik, dan selalu dijaga keberadaannya agar tidak rusak. Yuk kenalan dengan Al Quran raksasa di Ponpes Al Hikmah, Cilegon selengkapnya.
Ukuran Al Quran Raksasa
Merujuk Youtube SCTV Banten, Al Quran tersebut rupanya memiliki ukuran yang lumayan besar yakni panjang 180 sentimeter, lebar 160 sentimeter dan tebal 7,5 sentimeter.
Agar tidak terkena debu atau benda apapun yang merusak, Al Quran disimpan di dalam sebuah tempat mirip peti berbahan kayu. Wadah tersebut kemudian akan dibuka di waktu-waktu tertentu, saat memasuki masa perawatan.
Kemudian, Al Quran juga harus dibuka secara hati-hati mengingat usianya sudah sekitar 35 tahun dan rentan mengalami kerusakan.
Ditulis Selepas Salat Tahajud
Menurut anak dari ustaz Ahmad Basarudin, Ayi Afifudin, kitab suci ditulis oleh ayahnya selama kurang lebih dua tahun. Ayahnya memulai dengan sangat hati-hati, agar penulisannya tidak mengalami kesalahan.
Selepas salat tahajud pada dini hari, ayahnya memulai menulis ayat demi ayat selama beberapa jam.
“Al Quran ini dikenal dengan nama Al Hikmah yang alhamdulillah ditulis oleh bapak kami, Kiai Haji Ahmad Basarudin. Ini ditulis pada tahun 1990 sampai dengan 1991,” katanya
Sebagai Motivasi Agar Para Santri Berpegang Teguh pada Al Quran
Menurut sang putra, Ustaz Basarudin menulis Al Quran raksasa ini bukan tanpa maksud. Ia menginginkan agar kita suci itu dijadikan sebagai motivasi agar selalu membacanya, memahaminya dan mengamalkannya.
Ukuran besar menjadi simbol agar Al Quran selalu terlihat dan tersimpan dalam hati, sehingga sulit dilupakan.
“Tujuannya agar selalu menjadikan Al Quran sebagai motivasi, agar kami semua yang ada di pondok pesantren ini bisa berpegang teguh atas kehadirannya,” terang Ayi.
Dibantu Para Santri
Waktu pengerjaannya selalu dimulai saat waktu senggang. Ketika itu, Basarudin mengukirnya terlebih dahulu sebelum diberi tinta. Kemudian, pengerjaan secara penuh dilakukan malam sampai masuk waktu salat subuh.
Seluruh mushaf dikerjakan utuh oleh Basarudin, namun ornamen dan sampul kitab dikerjakan oleh para santri. Bisa dibilang, Al Quran ini merupakan hasil karya kiai beserta para santri yang ada di sana pada saat itu.
Saat ini, Al Quran sudah menjadi warisan keluarga dan santri yang belajar di pondok tersebut, sehingga tidak boleh dipindahkan dan wajib dijaga di tempatnya.