Dokter Tompi Beri Peringatan Serius, Terlalu Banyak Skincare Bisa Bikin Kulit Rentan dan Tipis
Kesehatan kulit tidak dapat diukur hanya dari warna atau tingkat kecerahannya. Kesederhanaan dan konsistensi adalah kunci kecantikan yang sesungguhnya.
Dalam era di mana kulit cerah dan glowing menjadi standar kecantikan yang banyak dikampanyekan di media sosial, perawatan wajah telah berubah dari kebutuhan menjadi gaya hidup. Iklan produk skincare merajalela, klinik kecantikan menjamur, dan istilah seperti “glass skin” menjadi impian banyak orang. Namun, di tengah tren perawatan wajah yang kian ekstrem, sebuah peringatan dari dokter sekaligus musisi Tompi kembali mencuat dan memantik diskusi publik.
Video lama Tompi dari tahun 2021 yang kembali viral di berbagai platform media sosial mengangkat isu penting tentang bahaya penggunaan produk perawatan wajah secara berlebihan. Dalam video tersebut, Tompi dengan tegas menyampaikan kekhawatirannya terhadap kebiasaan masyarakat yang menganggap bahwa semakin banyak produk digunakan, maka kulit akan semakin sehat. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian.
"Gue sering ketemu pasien yang, kok semakin dia perawatan, entah apapun itu ya. Laser, peeling, skincare, dan lain-lain. Lu perhatiin deh, setelah sekian waktu kulitnya bukan makin bagus (tapi) makin rusak," ujar Tompi dalam potongan video yang merupakan bagian dari podcast TS Talks di kanal YouTube TS Media, tayang pada Senin, 6 April 2025. Ucapan ini langsung menyita perhatian publik, terutama mereka yang selama ini rajin melakukan berbagai prosedur perawatan kulit.
Fenomena Perawatan Berlebihan: Ketika Obsesi Berbalik Menyakiti
Tompi menyoroti fakta bahwa saat ini baik perempuan maupun laki-laki semakin banyak yang tergiur dengan kulit wajah yang putih dan bercahaya. Keinginan ini mendorong banyak orang untuk mencoba berbagai prosedur kecantikan seperti laser, peeling, dan penggunaan skincare berlapis-lapis, tanpa memahami dampaknya terhadap kesehatan kulit jangka panjang.
Dalam perbincangan tersebut, Tompi menyinggung fenomena pasien yang datang ke klinik kecantikan dengan tujuan utama: ingin punya wajah putih. “Sering kan denger orang berobat ke suatu klinik buat perawatan kulit tujuannya pengin putih. Stigma kayak itu sering denger kan? Sebenarnya beneran putih atau enggak?” tanyanya.
Ketika Luna Maya, host acara, menjawab “Enggak dong,” Tompi pun menambahkan, “Jadinya gimana? Kulitnya jadi merah kan? Tapi tetap aja banyak orang yang mau kayak gitu. Korban-korban yang kayak gitu akhirnya apa? Kulitnya makin tipis. Ujung-ujungnya malah terjadi penipisan kulit.”
Kondisi penipisan kulit ini tidak hanya menyebabkan sensitivitas berlebih terhadap sinar matahari dan polusi, tapi juga melemahkan pertahanan alami kulit. Fungsi pelindung kulit bisa terganggu, yang kemudian membuka peluang bagi berbagai masalah seperti iritasi, peradangan, dan infeksi kulit. Sayangnya, banyak masyarakat tidak menyadari bahwa penggunaan produk berlebihan justru dapat menimbulkan efek sebaliknya dari apa yang diharapkan.
Kulit Mati dan Proses Regenerasi Alami
Salah satu hal yang sering disalahpahami oleh publik, menurut Tompi, adalah soal pengangkatan sel kulit mati. Banyak produk di pasaran mengklaim mampu mempercepat regenerasi kulit dengan cara mengelupas lapisan terluar. Namun, Tompi secara lugas menegaskan bahwa kulit mati akan terangkat secara alami tanpa perlu campur tangan produk-produk abrasif.
Saat Luna Maya bertanya, apakah benar kulit mati memang perlu diangkat dengan bantuan skincare, Tompi hanya menggeleng. Ia percaya bahwa kulit memiliki mekanisme alami yang bekerja dengan efisien, selama tidak diganggu secara agresif.
Inilah inti dari pendekatan perawatan kulit versi Tompi: kesederhanaan dan konsistensi. Menurutnya, konsep perawatan kulit yang sehat dan berkelanjutan sebenarnya hanya terdiri dari dua hal dasar:
- Membersihkan wajah secara teratur, terutama setelah beraktivitas atau terpapar polusi.
- Menjaga kelembapan kulit agar proses regenerasi tetap berjalan optimal.
Dengan dua langkah ini saja, kulit akan mampu menjaga kesehatannya secara mandiri. Ini adalah bentuk kepercayaan terhadap kemampuan tubuh sendiri untuk meregenerasi dan memperbaiki diri, sebuah filosofi yang kini justru terlupakan di tengah maraknya tren “10-step skincare”.
Antara Tren dan Ilmu: Ketika Industri Kecantikan Mengaburkan Batas
Pernyataan Tompi juga membuka mata banyak orang terhadap sisi lain industri kecantikan: bahwa tidak semua produk atau prosedur yang populer berarti aman atau dibutuhkan. Dalam dunia yang digerakkan oleh tren dan algoritma media sosial, banyak konsumen akhirnya terjebak dalam siklus mencoba berbagai produk baru demi mengejar tampilan kulit yang dianggap ideal.
Belum lagi stigma bahwa kulit yang sehat adalah kulit yang putih dan bersinar, yang membuat banyak orang merasa tidak cukup hanya dengan kulit yang bersih dan sehat. Standardisasi kecantikan semacam ini menjadi tekanan tersendiri, dan sayangnya, dimanfaatkan oleh banyak pelaku industri untuk menjual ilusi lewat jargon-jargon yang terdengar ilmiah namun belum tentu relevan dengan kebutuhan setiap individu.
Lebih jauh, efek dari penggunaan produk secara berlebihan juga bisa memperparah kondisi kulit tertentu seperti rosacea, dermatitis, atau bahkan jerawat hormonal, yang awalnya tidak muncul sebelum intervensi berlebihan terjadi. Inilah pentingnya pemahaman mendasar mengenai cara kerja kulit dan tidak bergantung sepenuhnya pada informasi yang beredar tanpa dasar ilmiah yang kuat.
Menjaga Keseimbangan: Kurangi Produk, Percayai Kulit Anda
Kampanye Tompi secara tidak langsung mengajak masyarakat untuk kembali pada perawatan kulit yang intuitif dan minimalis. Daripada terpaku pada banyaknya jumlah produk, lebih baik fokus pada kualitas dan kebutuhan kulit pribadi. Tidak semua orang memerlukan toner, serum, esens, atau masker setiap hari. Terkadang, yang kulit butuhkan hanyalah waktu untuk bernapas dan proses regenerasi alami tanpa gangguan.
Kesadaran seperti ini penting untuk ditanamkan, terutama di kalangan remaja yang baru mulai mengenal dunia skincare. Terlalu dini memperkenalkan produk-produk aktif seperti retinol atau asam eksfoliasi tanpa pemahaman yang cukup bisa membawa dampak jangka panjang yang tidak diinginkan.
"Dengan hanya membersihkan wajah dan menjaga kelembapan, kulit akan regenerasi dengan sendirinya," tegas Tompi. Pernyataan ini terdengar sederhana, namun menjadi pengingat penting di tengah gempuran tren dan rekomendasi yang datang dari berbagai arah.