Daftar 23 Pembalap F1 yang Ganteng dan Bisa Bikin Jantung Berdebar dan Salah Fokus saat Race Dimulai, Siapa Dia?
perjalanan karier dan pesona para pembalap F1 musim 2025, dari juara dunia hingga talenta muda yang siap bersinar di lintasan.
Keahlian luar biasa para pembalap di dunia balap sering kali menjadi sorotan utama di berbagai media internasional. Dengan kecepatan luar biasa, manuver presisi, serta strategi balap yang matang, mereka mampu menghadirkan pertunjukan yang menegangkan di setiap akhir pekan Formula 1. Namun, selain prestasi mereka di lintasan, pesona dan fisik atletis para pembalap ini juga kerap mencuri perhatian publik.
Dibalik helm dan seragam balap mereka, terdapat sosok-sosok yang tidak hanya tangguh di sirkuit, tetapi juga memiliki disiplin tinggi dalam menjaga kebugaran fisik. Jam latihan yang ketat, pola makan yang terjaga, serta fokus mental yang luar biasa menjadikan mereka atlet sejati yang menginspirasi banyak orang.
Aksi balap yang mendebarkan memang menjadi daya tarik utama dari setiap musim Formula 1, tetapi melihat lebih dekat para pembalapnya juga menjadi hal yang menarik. Mereka bukan hanya sekadar pebalap, tetapi juga figur publik dengan daya tarik tersendiri.
Dari Lando Norris yang dikenal dengan kepribadiannya yang ceria hingga Charles Leclerc yang kerap menjadi sorotan berkat kombinasi talenta dan karismanya, setiap pembalap memiliki daya tarik unik yang membuat mereka menonjol. Dilansir dari Her World, dengan musim mendatang yang semakin kompetitif, para penggemar tentu menantikan tidak hanya aksi mereka di lintasan, tetapi juga bagaimana mereka terus berkembang dan menunjukkan karakter masing-masing di dalam dan di luar arena balap.
1. Charles Leclerc
Charles Leclerc pertama kali mencuri perhatian dunia balap ketika ia debut di Formula 1 pada tahun 2016. Namun, bukan hanya kecepatan dan keterampilannya di lintasan yang menarik perhatian, tetapi juga pesona dan ketampanannya yang membuatnya memiliki basis penggemar yang begitu besar. Dalam serial Netflix Drive to Survive, Leclerc pernah mengungkapkan bahwa sejak kecil ia bermimpi membalap untuk Scuderia Ferrari—sebuah impian yang akhirnya menjadi kenyataan.
Dengan dedikasi dan kerja keras, ia membuktikan bahwa dirinya bukan hanya sekadar wajah tampan di dunia balap, tetapi juga seorang pembalap berbakat yang mampu bersaing dengan para legenda. Setiap akhir pekan balapan, sorotan tak hanya tertuju pada aksinya di lintasan, tetapi juga pada kepribadian rendah hatinya yang membuatnya semakin dicintai oleh penggemar.
Setelah menjalani musim debutnya bersama Sauber pada 2016, Leclerc menunjukkan dominasinya di kejuaraan junior dengan memenangkan GP3 Series serta FIA Formula 2 Championship pada 2017. Kesuksesan itu mengantarnya ke Scuderia Ferrari pada 2019, menjadikannya salah satu pembalap termuda yang pernah membela tim legendaris tersebut. Sejak saat itu, ia terus tampil gemilang dan menjadi tumpuan utama Ferrari dalam perburuan gelar juara dunia.
Pencapaiannya yang luar biasa terlihat pada musim 2022, ketika ia berhasil finis di posisi kedua dalam klasemen pembalap, membuktikan bahwa dirinya adalah ancaman serius bagi para rivalnya. Dengan talenta yang terus berkembang dan tekad yang tak tergoyahkan, Charles Leclerc diyakini akan menjadi salah satu bintang terbesar di Formula 1 untuk tahun-tahun mendatang.
2. Carlos Sainz
Carlos Sainz bukan sekadar pembalap biasa—ia adalah seorang matador di lintasan yang selalu siap bertarung hingga garis finis. Pembalap asal Spanyol ini memulai perjalanan kariernya di Formula 1 bersama Toro Rosso, sebelum kemudian membela tim-tim besar seperti Renault dan McLaren. Namun, titik balik dalam kariernya datang ketika ia direkrut oleh Scuderia Ferrari untuk menggantikan Sebastian Vettel, sebuah pencapaian besar yang semakin memperkuat statusnya sebagai salah satu pembalap terbaik di grid.
Menariknya, langkah ini juga membuatnya mengikuti jejak idolanya sejak kecil, Fernando Alonso, yang lebih dulu mengharumkan nama Spanyol di dunia balap. Meski awalnya diragukan, Sainz membuktikan bahwa ia pantas mengenakan seragam merah ikonik Ferrari, dengan berbagai penampilan impresif yang membuatnya semakin dihormati di paddock.
Namun, dinamika di dunia balap selalu berubah, dan musim 2025 akan menjadi babak baru bagi Sainz. Ferrari memilih untuk mendatangkan Lewis Hamilton, yang membuatnya harus mencari rumah baru di grid. Tak butuh waktu lama, ia mengamankan kursi di tim Williams, di mana ia akan berduet dengan Alex Albon.
Keputusan ini menjadi tantangan tersendiri, mengingat Williams masih dalam tahap pembangunan kembali menuju kejayaan mereka di masa lalu. Namun, dengan semangat juangnya yang tak kenal lelah, Sainz siap membuktikan bahwa ia tetap menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan.
Pada musim 2022, ia menempati posisi kelima dalam klasemen pembalap dan berkontribusi besar dalam membawa Ferrari finis di posisi kedua klasemen konstruktor, hanya di belakang Red Bull Racing. Dengan pengalaman dan tekad yang dimilikinya, tak diragukan lagi bahwa Carlos Sainz akan berjuang keras untuk membawa Williams kembali ke puncak persaingan Formula 1.
3. Lando Norris
Apa yang tidak bisa disukai dari Lando Norris? Ia berbakat, menawan, dan merupakan salah satu pembalap yang wajib diperhatikan musim ini. Memulai karier di Formula 1 bersama McLaren pada 2019, pembalap yang akan menginjak usia 25 tahun ini telah menandatangani kontrak dengan McLaren hingga akhir 2026. Di musim 2024, ia dengan cepat naik peringkat, meraih beberapa podium, dan bersaing ketat dengan Max Verstappen serta Charles Leclerc.
Namun, Norris tidak hanya dikenal sebagai pembalap berbakat. Ia juga memiliki merek gim dan gaya hidupnya sendiri, Quadrant, yang menggabungkan kecintaannya terhadap gim, konten, dan mode. Dalam wawancara dengan BBC Sport, Lando mengungkapkan, "Quadrant adalah sesuatu yang sudah lama ingin saya lakukan. Dan meskipun balap akan tetap menjadi fokus utama dan gairah terbesar dibanding esports lainnya, Quadrant diharapkan bisa berkembang ke berbagai kategori esports dan gim yang berbeda." Tak hanya itu, pada tahun 2021, Lando juga terjun ke industri gokart dengan mendirikan LN Racing Kart bersama OTK Kart Group.
4. Lewis Hamilton
Juara dunia tujuh kali, Lewis Hamilton, mengumumkan awal tahun ini bahwa ia akan meninggalkan Mercedes dan bergabung dengan Ferrari untuk musim 2025—sebuah keputusan yang mengejutkan banyak penggemar dan pakar balap. Kepergiannya dari tim yang telah bersamanya sejak 2013 menandai akhir dari sebuah era yang penuh dengan kejayaan, termasuk rekor kemenangan dan dominasi luar biasa di ajang Formula 1.
Langkah ini juga membuka babak baru dalam kariernya, di mana ia akan menghadapi tantangan baru bersama tim legendaris Ferrari. Hamilton dikenal sebagai sosok yang selalu mencari tantangan dan berambisi tinggi, sehingga kepindahannya ini tentu akan menjadi salah satu cerita terbesar di dunia balap musim depan. Para penggemar pun tak sabar untuk melihat bagaimana sang juara akan beradaptasi dengan tim barunya dan apakah ia mampu membawa Ferrari kembali ke puncak kejayaan.
Selain menjadi salah satu pembalap paling ikonik dalam sejarah Formula 1, Lewis Hamilton juga telah membangun reputasi yang kuat di dunia mode. Ia sering tampil di berbagai ajang fashion bergengsi, menunjukkan sisi lain dari dirinya yang penuh gaya dan berani bereksperimen dengan tren terbaru. Paris Fashion Week menjadi salah satu tempat favoritnya, di mana ia kerap terlihat duduk di barisan depan bersama para desainer dan selebritas papan atas.
Pada tahun 2022, ia bahkan tertangkap kamera sedang berbincang akrab dengan Zendaya, yang juga dikenal sebagai ikon fashion. Dengan gayanya yang khas dan kepercayaan dirinya yang tinggi, Hamilton tidak hanya menjadi inspirasi di lintasan balap, tetapi juga di dunia mode, membuktikan bahwa seorang atlet bisa memiliki pengaruh yang luas di berbagai bidang.
5. Andrea Kimi Antonelli
Andrea Kimi Antonelli adalah bintang muda yang tengah bersinar terang di dunia balap, dan kini, ia siap menorehkan namanya di panggung tertinggi, Formula 1. Sebagai pembalap yang telah lama dibina oleh Mercedes, Kimi mendapat kepercayaan besar untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Lewis Hamilton mulai musim 2025.
Keputusan ini diumumkan secara resmi di Grand Prix Italia pada bulan September, menjadi momen yang sangat dinantikan oleh para penggemar dan pencinta olahraga balap. Dengan usianya yang masih belia, langkah besar ini membuktikan bahwa Mercedes melihat potensi luar biasa dalam dirinya. Kimi bukan sekadar pembalap muda berbakat, tetapi juga sosok yang telah menunjukkan ketangguhan mental serta kemampuan teknis yang luar biasa dalam lintasan balap.
Perjalanan Kimi menuju Formula 1 bukanlah sebuah kebetulan. Ia telah mendominasi berbagai kategori junior, membuktikan kehebatannya dengan meraih gelar juara di ADAC dan Formula 4 Italia pada tahun 2022, sebelum melanjutkan dominasinya di Formula Regional European Championship pada 2023. Yang lebih mencengangkan, ia bahkan melewatkan jenjang Formula 3 sepenuhnya dan langsung dipromosikan ke Formula 2 bersama PREMA untuk musim 2024, sebuah pencapaian yang sangat jarang terjadi dalam dunia balap single-seater.
Dengan catatan prestasi yang begitu impresif, Antonelli kini diharapkan dapat membawa angin segar bagi Mercedes dan menjadi salah satu bintang baru yang akan mengubah dinamika persaingan di Formula 1. Semua mata kini tertuju padanya, menanti apakah ia mampu memenuhi ekspektasi besar yang telah dibebankan di pundaknya.
6. Jack Doohan
Jack Doohan bersiap untuk mengambil langkah besar dalam karier balapnya, dengan Alpine mengonfirmasi promosinya sebagai pembalap penuh waktu untuk musim Formula 1 2025. Sebagai putra dari legenda balap motor grand prix lima kali, Mick Doohan, Jack telah membawa nama besar keluarganya ke dunia balap roda empat dengan penuh dedikasi. Sejak 2023, ia telah menjalani peran sebagai pembalap cadangan Alpine, menunjukkan ketekunan dan perkembangan yang luar biasa.
Kesempatan untuk menguji mobil di ajang resmi seperti Grand Prix Kanada dan Silverstone, ditambah dengan kerja kerasnya dalam simulator tim, membuatnya semakin dipercaya untuk menjadi bagian inti dari tim Alpine. Bergabung dengan Pierre Gasly di musim mendatang, Jack siap menghadapi tantangan baru dan membuktikan bahwa dirinya pantas berada di antara para pembalap terbaik dunia.
Perjalanan Jack menuju Formula 1 tidaklah instan. Ia telah melalui berbagai jenjang balap dengan penuh perjuangan, mulai dari Formula 3 hingga Formula 2, di mana ia menunjukkan kecepatan dan konsistensi yang mengesankan. Dengan pengalaman balap yang semakin matang serta dukungan dari tim Alpine, banyak yang menantikan bagaimana kiprah Doohan muda di musim debutnya.
Tekanan tentu ada, mengingat ekspektasi yang tinggi dari tim dan para penggemar, tetapi dengan mentalitas yang kuat dan bakat yang ia miliki, Jack Doohan berpeluang menjadi salah satu bintang masa depan Formula 1. Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah ia siap untuk tantangan ini, melainkan seberapa jauh ia bisa melangkah di dunia balap paling bergengsi ini.
7. Oliver Bearman
Oliver Bearman semakin dekat dengan impiannya untuk menjadi pembalap Formula 1 penuh waktu, setelah Haas memastikan dirinya sebagai bagian dari tim untuk musim 2025. Talenta muda asal Inggris ini mencuri perhatian Ferrari setelah penampilan cemerlangnya di Grand Prix Arab Saudi, di mana ia menggantikan Carlos Sainz yang absen karena operasi usus buntu.
Dalam balapan tersebut, Bearman menunjukkan ketenangan dan kematangan yang luar biasa, meskipun baru pertama kali turun di ajang F1. Kepercayaan yang diberikan kepadanya oleh Ferrari tidak hanya menjadi bukti atas potensinya, tetapi juga membuka jalan bagi karier jangka panjangnya di olahraga ini. Dengan usia yang masih sangat muda, ia siap menghadapi tantangan besar sebagai bagian dari grid F1 musim depan.
Meski musimnya di Formula 2 bersama Prema tahun ini tergolong biasa saja, Bearman tetap dianggap sebagai salah satu prospek paling menjanjikan di dunia balap. Haas memberikan kesempatan emas baginya untuk mempersiapkan diri sebelum debut resminya, dengan menjadwalkan enam sesi latihan bebas pertama (FP1) sepanjang musim 2024.
Ini akan menjadi kesempatan berharga bagi Bearman untuk mengenal mobil F1 secara lebih mendalam, beradaptasi dengan tekanan kompetisi di level tertinggi, serta memperkuat chemistry dengan tim barunya. Dengan kombinasi kerja keras, bimbingan dari para insinyur Haas, dan pengalaman yang akan terus bertambah, Oliver Bearman siap membuktikan bahwa dirinya pantas berada di grid Formula 1 dan menjadi salah satu bintang masa depan olahraga ini.
8. Oscar Piastri
Oscar Piastri, pembalap berbakat asal Australia, telah menjadi bagian penting dari McLaren sejak bergabung pada musim 2023. Lahir di Melbourne pada tahun 2001, perjalanan Piastri menuju puncak dunia balap dimulai dengan cara yang tidak biasa—ia pertama kali mengasah refleks dan insting balapnya melalui mobil remote control sebelum akhirnya beralih ke gokart.
Keahliannya berkembang pesat, dan jalannya menuju Formula 1 semakin jelas setelah ia meraih gelar juara di Formula Renault Eurocup pada 2019, Formula 3 pada 2020, dan Formula 2 pada 2021. Konsistensi serta kecepatan luar biasa yang ditunjukkannya membuat McLaren tak ragu untuk mengontraknya hingga akhir musim 2026, menandakan kepercayaan besar tim terhadap potensinya di masa depan.
Musim 2024 menjadi ajang pembuktian bagi Piastri, di mana ia terus memperlihatkan peningkatan signifikan di lintasan. Dengan 197 poin yang telah dikumpulkan sejauh ini—dan terus bertambah—Piastri menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar pembalap muda berbakat, melainkan calon juara masa depan.
Gaya balapnya yang tenang namun agresif telah membuatnya mampu bersaing dengan para pembalap senior, termasuk rekan setimnya, Lando Norris. Dengan kontrak jangka panjang di tangan dan mobil McLaren yang semakin kompetitif, Piastri berpeluang besar untuk terus bersinar di dunia Formula 1 dan mengukuhkan dirinya sebagai salah satu bintang utama dalam olahraga ini.
9. Max Verstappen
Max Verstappen mencuri perhatian dunia pada 2021 setelah memenangkan gelar Juara Dunia Pembalap Formula 1 pertamanya. Ia terus mendominasi lintasan pada 2022 dengan kembali meraih gelar tersebut untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Pembalap yang akan segera berusia 27 tahun ini, yang juga merupakan putra dari mantan pembalap Formula 1 Jos Verstappen, telah menunjukkan keterampilan luar biasa selama bertahun-tahun dan diprediksi akan kembali naik podium bersama Red Bull Racing musim ini.
Selain catatan prestasi balapnya yang mengesankan, pembalap berdarah Belgia-Belanda ini juga mencuri perhatian berkat ketampanannya dengan fitur wajah tegas dan mata biru yang memikat. Dan tahukah Anda? Ia juga menjalin hubungan dengan Kelly Piquet yang memesona. Keduanya mulai berkencan pada akhir 2020, dan hubungan mereka terus berkembang hingga kini.
10. George Russell
Pembalap Formula 1 asal Inggris ini pertama kali memulai debutnya di ajang Formula 1 bersama Williams pada tahun 2019. Namun, George segera mencuri perhatian dan bergabung dengan Mercedes pada 2022. Kini, ia bertandem dengan juara dunia tujuh kali, Lewis Hamilton.
Menjadi kenyataan bagi dirinya dan banyak penggemarnya, George Russell mengejutkan dunia dengan penampilannya yang fenomenal di Formula 1 Rolex Sakhir Grand Prix 2020 saat mengendarai mobil Mercedes menggantikan Lewis Hamilton yang dinyatakan positif Covid-19. Meskipun tidak berhasil memenangkan balapan akibat kendala tak terduga, ia tetap mencuri perhatian dan dinobatkan sebagai 'Driver of the Day'.
Meskipun harus puas finis di posisi kesembilan, George Russell mendapatkan penghormatan dari banyak penggemar atas kegigihannya dalam memperjuangkan poin bagi tim. George Russell juga merupakan Juara FIA Formula 2 tahun 2018 bersama ART dan Juara GP3 Series tahun 2017.
11. Yuki Tsunoda
Yuki Tsunoda beralih dari kompetisi Kejuaraan Formula 4 Jepang ke kursi Formula 1 bersama AlphaTauri dalam waktu lebih dari tiga tahun. Kedatangannya di Eropa pada 2019 diwarnai dengan ketidaktahuannya terhadap sirkuit balap di sana.
Namun, setelah awal yang lambat di Formula 3 dan debut yang mengesankan di Formula 2 dengan finis di peringkat ketiga serta meraih tiga kemenangan, Yuki membuktikan dirinya memiliki kecepatan dan kemampuan balap untuk mengamankan tempat di Formula 1. Ia dan mantan rekan setimnya di AlphaTauri, Pierre Gasly, dikenal memiliki hubungan yang kuat sebagai rekan satu tim.
Namun, keduanya berpisah setelah Pierre bergabung dengan Alpine pada 2023. Pada musim 2024, Yuki membalap bersama Daniel Ricciardo di tim Visa Cash App RB dan telah memperpanjang kontraknya hingga 2025, menandai musim kelimanya bersama tim saudara Red Bull tersebut.
12. Logan Sargeant
Logan Sargeant menjadi pembalap Amerika pertama di Formula 1 dalam hampir delapan tahun saat ia turun ke lintasan untuk musim 2023. Dengan catatan runner-up di Formula 4 UEA dan peringkat ketiga di Formula 3, ia memiliki potensi besar yang masih bisa dikembangkan. Hal ini pula yang meyakinkan Williams untuk merekrutnya saat ia menembus Formula 2.
Sayangnya, serangkaian performa mengecewakan, termasuk kecelakaan parah saat sesi latihan bebas, membuat Williams memutuskan untuk berpisah dengan Logan Sargeant. Kursinya akan diisi oleh pembalap F2 berbakat, Franco Colapinto, untuk sisa musim 2024.
13. Nico Hülkenberg
Nico Hülkenberg mungkin bukan nama baru dalam jajaran pembalap Formula 1, tetapi ia kembali dan siap menaklukkan lintasan musim ini. Membalap untuk Haas pada 2024, Nico sebelumnya menjadi pembalap cadangan untuk tim Aston Martin Formula 1 pada 2022.
Meskipun bukan yang termuda di tim, ia telah menunjukkan ketahanan dan kekuatan luar biasa sebagai pejuang lini tengah bersama Williams, Force India, Sauber, Renault, Racing Point, dan Aston Martin dalam kariernya yang dimulai sejak 2010.
Pada musim mendatang, Nico akan meninggalkan Haas di akhir tahun untuk bergabung dengan Kick Sauber pada 2025, seiring dengan transisi tim tersebut menjadi tim pabrikan Audi.
14. Fernando Alonso
Fernando Alonso tidak membutuhkan perkenalan lebih lanjut. Sosok legendaris ini mulai beralih ke balap mobil pada usia 17 tahun dan memenangkan Euro Open by Nissan pada 1999, serta finis keempat di Kejuaraan Internasional Formula 3000 pada 2000. Ia debut di Formula 1 bersama Minardi pada 2001 sebelum bergabung dengan Renault sebagai pembalap uji coba pada 2002.
Dengan semangat kompetitif yang luar biasa, pembalap asal Spanyol ini terus mendominasi lintasan pada musim 2023 dan 2024 dengan kursinya di Aston Martin, setelah meninggalkan Alpine pada 2022. Ia juga telah menandatangani kontrak dengan Aston Martin yang berlaku hingga akhir 2026.
15. Daniel Ricciardo
Berawal dari negeri Kanguru, Daniel Ricciardo dikenal luas sebagai sosok paling humoris di dunia Formula 1. Jika Anda mengikuti serial Drive to Survive di Netflix, Anda tentu memahami alasan di balik reputasi tersebut.
Namun, di balik candaan dan senyum khasnya, Ricciardo adalah seorang pembalap dengan rekam jejak yang mengesankan. Pebalap berusia 35 tahun ini pertama kali tampil di ajang Formula 1 pada Grand Prix Inggris 2011 bersama tim HRT, sebelum kemudian bergabung dengan Toro Rosso, Red Bull, dan saat ini membela McLaren.
Salah satu ciri khas yang membuat Ricciardo begitu ikonik adalah perayaan kemenangannya yang unik—"shoey". Tradisi ini dimulai pada 2016, ketika ia merayakan finis di podium Grand Prix Jerman dengan meminum sampanye langsung dari sepatu balapnya.
Aksi tersebut mungkin terdengar kurang sedap bagi sebagian orang, namun Ricciardo terus mempertahankan tradisi ini hingga sekarang. Bahkan, ia berhasil meyakinkan beberapa rekan pembalapnya untuk ikut serta, termasuk Mark Webber, Lewis Hamilton, dan mantan rekan setimnya, Lando Norris.
Saat ini, Ricciardo masih berkompetisi bersama tim Visa Cash App RB bersama Yuki Tsunoda. Namun, masa depannya untuk musim 2025 masih menjadi tanda tanya besar.
16. Sergio Pérez
Dikenal dengan julukan "Checo", Sergio Pérez adalah salah satu pebalap paling berani di lintasan. Bergabung dengan Red Bull Racing pada 2021, pebalap asal Meksiko ini dikenal karena kegigihannya serta kemampuannya merangsek ke barisan depan meskipun dalam tekanan besar.
Salah satu momen paling berkesan dalam kariernya terjadi pada 2021, ketika ia berhasil naik podium di Grand Prix Meksiko. Kemenangan tersebut disambut meriah oleh para penggemarnya di kampung halaman, dan ia merayakannya bersama rekan setimnya, Max Verstappen, serta keluarganya.
Perjalanan Pérez di Formula 1 dimulai bersama tim Sauber pada 2011-2012, kemudian membela McLaren pada 2013, sebelum akhirnya berlabuh di Force India pada 2014. Kariernya terus menanjak dengan berbagai podium, termasuk kemenangan gemilang di Grand Prix Sakhir 2020, di mana ia meraih posisi pertama setelah pertarungan sengit di lintasan.
17. Valtteri Bottas
Selain dikenal sebagai pembalap berbakat, Valtteri Bottas juga meraih popularitas sebagai "Legenda TikTok" berkat konten-konten humor yang ia bagikan melalui akun media sosial Mercedes pada 2021. Di balik sosoknya yang tampak pendiam dan tenang, Bottas memiliki keberanian serta tekad kuat saat berada di lintasan.
Setelah membela Mercedes dari 2017 hingga 2021 dan menjadi salah satu ujung tombak tim, kini Bottas menjalani musim 2024 bersama Alfa Romeo. Ia berduet dengan rekan setimnya, Zhou Guanyu, yang mencetak sejarah sebagai pembalap Formula 1 pertama dari Tiongkok.
18. Zhou Guanyu
Pebalap asal Shanghai, Zhou Guanyu, pertama kali jatuh cinta dengan dunia balap saat menghadiri Grand Prix Tiongkok perdana di kampung halamannya pada 2004, ketika ia baru berusia lima tahun. Terinspirasi oleh idolanya, Fernando Alonso, Zhou bertekad untuk menjadi pembalap Formula 1 pertama dari negaranya.
Demi mewujudkan ambisinya, pada usia 12 tahun ia pindah ke Inggris bersama keluarganya untuk meniti karier di dunia motorsport. Berkat serangkaian kemenangan di Formula 2, Zhou akhirnya mendapat kepercayaan dari Prinsipal Tim Alfa Romeo, Fred Vasseur, untuk bergabung dengan tim pada 2022. Kini, ia berkompetisi bersama rekan setimnya, Valtteri Bottas, dan terus mengukir sejarah bagi dunia balap Tiongkok.
19. Pierre Gasly
Meskipun baru berusia 28 tahun, Pierre Gasly telah membuktikan dirinya sebagai salah satu pebalap yang mampu mencuri perhatian di setiap sirkuit dunia. Perjalanan Gasly menuju Formula 1 tidaklah mudah, bahkan penuh lika-liku dan momen tragis, terutama selama masa baktinya di Red Bull Racing. Namun, ia berhasil bangkit saat kembali ke Toro Rosso pada 2019, di mana ia mencetak hampir sebanyak poin yang diperoleh rekan setimnya, Daniil Kvyat, sepanjang musim tersebut.
Gasly terus menunjukkan ketangguhannya dengan membawa kesuksesan bagi tim yang kemudian berganti nama menjadi Scuderia AlphaTauri. Pada 2020, ia kembali naik podium, dan pada 2021, ia menjadi kontributor utama dengan menyumbang 110 dari total 142 poin yang diraih tim.
Setelah menghabiskan sebagian besar kariernya bersama tim junior Red Bull, Gasly akhirnya mengambil langkah besar dengan bergabung ke Alpine pada musim 2023. Kini, ia berjuang bersama rekan setim sekaligus sesama pebalap Prancis, Esteban Ocon, dalam upaya membawa tim ke puncak persaingan.
20. Lance Stroll
Pebalap asal Kanada ini tak hanya membuat jantung berdebar dengan mata cokelatnya yang menawan, tetapi juga dengan keterampilan balapnya yang luar biasa. Membela tim Aston Martin, Stroll meraih podium pertamanya di Grand Prix Azerbaijan 2017 dengan finis di posisi ketiga, kemudian mengulang pencapaian tersebut di Grand Prix Sakhir 2020.
Namun, yang membuat Stroll unik dibandingkan para pesaingnya di lintasan adalah kecintaannya terhadap balapan dalam kondisi hujan. Pebalap berusia 24 tahun ini meyakini bahwa trek basah memberinya peluang untuk lebih menunjukkan bakat alaminya.
Sementara banyak pembalap merasa kesulitan dalam kondisi ini, Stroll justru menjadikannya sebagai medan tempur favoritnya. Meski pendapatnya mungkin menuai perbedaan, performanya di lintasan membuktikan bahwa ia adalah pesaing kuat yang patut diperhitungkan.
21. Alex Albon
Setelah berkompetisi untuk Toro Rosso dan Red Bull Racing, Alexander Albon kini membela tim Williams. Pebalap berdarah Inggris-Thailand ini memulai karier balapnya sejak usia delapan tahun dan terus menorehkan prestasi hingga akhirnya mendapatkan kursi di Toro Rosso bersama Daniil Kvyat.
Pada paruh kedua musim 2020, Albon menggantikan Pierre Gasly di Red Bull Racing dan berhasil meraih podium pertamanya di Grand Prix Tuscan 2020. Namun, setelah dua musim di Formula 1, Albon harus rela kehilangan kursinya dan diturunkan ke peran sebagai pebalap cadangan serta penguji untuk Red Bull pada 2021. Posisinya kala itu digantikan oleh Sergio Perez.
Kini, bersama Williams, Albon kembali berusaha membuktikan kemampuannya di lintasan dan menunjukkan bahwa dirinya masih layak bersaing di panggung tertinggi balap dunia.
22. Esteban Ocon
Esteban Ocon pertama kali mencicipi ajang Formula 1 saat debut bersama Manor Racing di Grand Prix Belgia 2016, menggantikan Rio Haryanto. Performanya yang impresif membuat pebalap asal Prancis ini mendapatkan kursi di Force India pada musim berikutnya, berduet dengan Sergio Perez.
Namun, setelah Lawrence Stroll mengambil alih Force India pada pertengahan 2018, Ocon kehilangan kursinya dan digantikan oleh Lance Stroll. Situasi ini membuatnya harus menepi selama satu musim sebagai pebalap cadangan Mercedes.
Pada 2020, Ocon kembali ke lintasan dengan bergabung bersama Renault, yang kemudian berganti nama menjadi Alpine pada 2021. Kini, pebalap berbakat ini telah mengumumkan bahwa ia akan bergabung dengan Haas pada musim 2025, di mana ia akan berduet dengan pebalap muda berbakat, Oliver Bearman.
23. Kevin Magnussen
Kevin Magnussen kembali ke Formula 1 dengan penuh antusiasme pada musim ini, namun sayangnya, kiprahnya akan berakhir pada penghujung musim 2024.
Sebagai pebalap generasi kedua yang mengikuti jejak sang ayah, Jan Magnussen, di ajang Formula 1, Magnussen telah membuktikan dirinya sebagai sosok yang tangguh di lintasan. Dengan manuver agresif dan gaya balap tanpa kompromi, ia dikenal memiliki reputasi "bad boy" yang tak takut berduel sengit di lintasan.
Meskipun perjalanannya di Haas akan segera berakhir, Magnussen tetap menjadi salah satu pebalap yang diingat karena keberaniannya dan semangat juangnya yang pantang menyerah.
Para pembalap ini tidak hanya dikenal karena kecepatan dan keterampilan mereka di lintasan, tetapi juga karena pesona serta gaya hidup yang memikat banyak penggemar di seluruh dunia. Mereka adalah atlet luar biasa yang mengabdikan hidup mereka untuk olahraga berkecepatan tinggi ini, mengasah kemampuan dengan disiplin ketat dan kerja keras yang tak kenal lelah.
Namun, di luar balapan, mereka juga memiliki kepribadian yang karismatik dan kehidupan yang menarik, sering kali menjadi pusat perhatian di berbagai acara bergengsi, dari karpet merah hingga kampanye mode bersama merek-merek ternama. Kehidupan mereka di luar lintasan menunjukkan sisi lain dari seorang pembalap Formula 1—bukan hanya sebagai atlet, tetapi juga sebagai ikon global yang menginspirasi banyak orang.
Dengan kombinasi bakat, ketekunan, dan daya tarik yang mereka miliki, tak heran jika para pembalap ini terus menjadi sorotan, baik di arena balap maupun di luar lintasan. Mereka tidak hanya menghibur dengan aksi memukau di sirkuit, tetapi juga membangun hubungan yang erat dengan para penggemar melalui media sosial, wawancara, dan berbagai kegiatan di luar dunia balap.
Dari kisah perjuangan yang menginspirasi hingga gaya hidup mewah yang sering menjadi bahan perbincangan, setiap aspek dari kehidupan mereka selalu menarik untuk diikuti. Dengan segala daya tarik yang dimiliki, para pembalap ini tidak hanya sekadar kompetitor di lintasan, tetapi juga bintang yang bersinar di dunia olahraga dan hiburan.