VIDEO Jurnalis dan Pembaca Berita Panik Lari Kocar-Kacir Ketika Israel Bombardir Damaskus Saat Siaran Langsung Televisi
Israel kemarin melancarkan serangan udara ke gedung Kementerian Pertahanan Suriah di Damaskus.
Israel kemarin melancarkan serangkaian serangan dahsyat ke Ibu Kota Damaskus, Suriah, sebagai bentuk dukungan terhadap kelompok minoritas Arab yang terlibat bentrokan mematikan dengan pasukan pemerintah Suriah.
Sedikitnya tiga orang tewas dan 34 lainnya terluka dalam serangan tersebut, menurut Kementerian Kesehatan Suriah kepada CNN.
Suriah dengan keras mengecam Israel karena menyerang sejumlah gedung pemerintahan di Damaskus pada hari Rabu, menyebut serangan terhadap target termasuk Kementerian Pertahanannya sebagai “eskalasi yang berbahaya.”
“Serangan terang-terangan ini adalah bagian dari kebijakan sistematis yang dijalankan oleh entitas Israel untuk memicu ketegangan, menciptakan kekacauan, serta merusak keamanan dan keselamatan di Suriah,” kata Kementerian Luar Negeri Suriah dalam sebuah pernyataan kemarin, seperti dilansir CNN, Rabu (16/7).
Siaran televisi
Suriah menyatakan pihaknya akan “mempertahankan sepenuhnya hak sahnya untuk melindungi tanah dan rakyatnya dengan segala cara yang dijamin oleh hukum internasional,” tambah pernyataan tersebut.
Sementara itu, pemerintah Suriah mengumumkan gencatan senjata baru dengan komunitas Druze, namun belum jelas apakah kesepakatan itu akan benar-benar berlaku mengingat adanya perpecahan di antara kelompok tersebut.
Sebuah video dari saluran televisi Suriah memperlihatkan bangunan Kementerian Pertahanan terkena serangan secara langsung saat siaran berlangsung, memaksa pembawa acara berlindung.
Seorang jurnalis perempuan dan juru kamera yang sedang melaporkan di lapangan juga berlarian panik kocar-kacir.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, membagikan cuplikan video tersebut dan menyatakan bahwa “pukulan menyakitkan telah dimulai.”
Dalam konferensi pers yang digelar militer Israel, seorang pejabat militer mengonfirmasi bahwa Israel telah menargetkan kementerian dan wilayah di dekat istana kepresidenan.
Israel, yang telah melancarkan serangan ke Suriah sejak jatuhnya rezim Assad pada Desember lalu, menyatakan mereka menyerang Suriah untuk melindungi komunitas Druze — kelompok minoritas Arab yang menjadi pusat bentrokan dengan loyalis pemerintah.
Namun, ada kemungkinan bahwa motif lain di balik keputusan Israel untuk menyerang berkaitan dengan penentangannya terhadap pemerintahan Suriah saat ini.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya menyebut para pemimpin baru negara tersebut sebagai “rezim Islam ekstremis” dan ancaman bagi negara Israel.
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, pada hari Rabu mengatakan negaranya ingin “mempertahankan status quo di Suriah selatan — wilayah dekat perbatasan kami — dan mencegah munculnya ancaman terhadap Israel di wilayah tersebut.”
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyatakan keprihatinan atas meningkatnya kekerasan di Suwayda dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu. Ia mengecam segala bentuk kekerasan terhadap warga sipil, termasuk laporan pembunuhan sewenang-wenang dan tindakan yang memperburuk ketegangan sektarian di negara itu.
Guterres juga mengecam “serangan udara eskalatif Israel di Suwayda, Daraa, dan pusat Damaskus,” serta menyerukan “penghentian segera semua pelanggaran terhadap kedaulatan Suriah.”