Tragis, Pelari Maraton Tertua di Dunia Meninggal di Usia 114 Tahun Akibat Tabrak Lari
Fauja Singh, pelari maraton tertua di dunia yang dikenal sebagai 'Turbaned Tornado', tutup usia 114 tahun dalam insiden tabrak lari di India.
Dunia olahraga berduka atas meninggalnya Fauja Singh, sosok yang diyakini sebagai pelari maraton tertua di dunia. Ia menghembuskan napas terakhir pada usia 114 tahun setelah terlibat dalam insiden tabrak lari. Peristiwa tragis ini terjadi di Punjab, India, pada Senin, 14 Juli 2025, sekitar pukul 15.30 waktu setempat.
Fauja Singh ditabrak saat sedang menyeberang jalan di dekat kediamannya, di desa Beas Pind. Meskipun warga setempat segera memberikan pertolongan dan berupaya membawanya ke rumah sakit terdekat, nyawanya tidak dapat diselamatkan. Ia meninggal dunia akibat luka-luka serius yang dideritanya dalam kecelakaan tersebut.
Pihak kepolisian setempat telah memulai penyelidikan intensif untuk mengidentifikasi serta menangkap pengemudi yang bertanggung jawab atas insiden ini. Kepergian "Turbaned Tornado" ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga, komunitas, dan para penggemarnya di seluruh dunia yang terinspirasi oleh semangatnya.
Perjalanan Inspiratif 'Turbaned Tornado'
Fauja Singh memulai perjalanan luar biasanya di dunia lari maraton pada usia yang tidak lazim, yaitu 89 tahun. Antara tahun 2000 dan 2013, ia berhasil menyelesaikan sembilan maraton penuh. Dedikasi dan semangatnya dalam menghadapi tantangan fisik di usia senja menjadikannya inspirasi bagi banyak orang.
Meskipun paspor Inggrisnya mencantumkan tanggal lahir 1 April 1911, usianya tidak pernah secara resmi diakui oleh Guinness World Records. Hal ini disebabkan kurangnya dokumentasi resmi yang valid untuk memverifikasi kelahirannya. Namun, hal tersebut tidak mengurangi kekaguman publik terhadap pencapaiannya.
Ia dikenal luas dengan julukan "Turbaned Tornado" dan mencapai ketenaran internasional setelah tampil dalam kampanye "Nothing is Impossible" dari Adidas. Dalam kampanye tersebut, ia bersanding dengan legenda olahraga dunia seperti Muhammad Ali. Puncaknya, ia juga mendapat kehormatan sebagai salah satu pembawa obor Olimpiade London 2012.
Warisan dan Penghormatan Dunia
Setelah memutuskan pensiun dari kompetisi maraton pada tahun 2013, Fauja Singh tidak lantas berhenti bergerak. Ia tetap aktif dengan berjalan kaki hingga 16 kilometer setiap hari. Semangat hidupnya yang luar biasa juga diwujudkan melalui partisipasinya dalam berbagai kegiatan amal, khususnya yang ditujukan untuk anak-anak.
Kabar duka atas kepergiannya memicu gelombang penghormatan dari berbagai tokoh penting di seluruh dunia. Perdana Menteri India Narendra Modi menyampaikan belasungkawa mendalam. Anggota parlemen Inggris, Preet Kaur Gill, juga turut menyatakan dukacita dan mengapresiasi kontribusi Fauja Singh.
Warisan Fauja Singh akan terus dikenang bukan hanya karena prestasi atletiknya yang fenomenal. Lebih dari itu, hidupnya menjadi teladan disiplin, kesederhanaan, dan keanggunan. Semangatnya membuktikan bahwa usia hanyalah angka dalam mengejar impian dan memberikan inspirasi bagi generasi mendatang.