Thailand-Kamboja Memanas, Jam Operasional Pos Perbatasan Dikurangi
Perselisihan wilayah ini sudah berlangsung lebih dari satu abad.
Pemerintah Thailand memperpendek jam operasional di 10 pos perbatasan resmi dengan Kamboja menyusul meningkatnya ketegangan antara kedua negara setelah insiden bentrokan mematikan bulan lalu.
Menurut Menteri Pertahanan Thailand, langkah ini diambil sehari setelah kedua negara memperkuat kehadiran militer mereka di sepanjang wilayah perbatasan yang masih disengketakan.
Bentrokan pada 28 Mei lalu di wilayah perbatasan yang belum ditetapkan secara resmi menyebabkan satu tentara Kamboja tewas, memicu kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut. Meskipun kedua pemerintah telah saling bertukar pernyataan untuk menyatakan komitmen pada penyelesaian damai, ketegangan tetap terasa.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Nikorndej Balankura, mengatakan kepada wartawan pada Minggu, (8/6), bahwa jam operasional di pos-pos perbatasan, termasuk di pos tersibuk Aranyaprathet-Poipet di Provinsi Sa Kaeo, kini dikurangi dari sebelumnya pukul 06.00–22.00 menjadi pukul 08.00–16.00 waktu setempat.
“Ini bukan perintah penutupan penuh, tapi penyesuaian bertahap yang disesuaikan dengan situasi di masing-masing wilayah,” jelasnya, seraya menambahkan bahwa situasi di sepanjang perbatasan tetap tenang.
Warga lokal di sekitar perbatasan menyatakan bahwa kondisi di lapangan relatif kondusif. “Warga memang terkejut, tapi toko-toko tetap buka dan aktivitas mulai kembali normal,” ujar Rong, seorang staf penginapan di Sa Kaeo.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Kamboja dalam surat kepada pemerintah Thailand tanggal 6 Juni, kembali meminta agar sengketa perbatasan dibawa ke Mahkamah Internasional (ICJ), dengan alasan kompleksitas dan sensitivitas isu tersebut tidak lagi cukup diselesaikan lewat dialog bilateral.
“Kami percaya keputusan ICJ akan memberi solusi yang adil, netral, dan tahan lama,” kata Menteri Luar Negeri Kamboja Prak Sokhonn.
Namun, Thailand menyatakan tidak mengakui yurisdiksi ICJ dalam kasus ini dan tetap memilih jalur negosiasi bilateral. Pertemuan kedua negara dijadwalkan pada 14 Juni.
Perselisihan wilayah ini sudah berlangsung lebih dari satu abad, terutama di titik-titik yang tidak memiliki batas resmi yang jelas. Konflik sebelumnya memuncak pada tahun 2008 terkait kuil Hindu kuno yang terletak di perbatasan, yang sempat memicu pertikaian bersenjata hingga tahun 2011.
Meski hubungan kedua pemerintahan saat ini relatif dekat. dengan Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet yang merupakan anak dari mantan pemimpin bersahabat, tensi geopolitik tetap memanas di lapangan.