Survei: Mayoritas Warga Israel Takut Tak Bisa Bepergian ke Luar Negeri karena Kemarahan Global
Sebuah survei terbaru mengungkapkan bahwa mayoritas orang Israel takut tidak bisa bepergian ke luar negeri.
Sebuah survei terbaru yang disiarkan oleh Channel 12 Israel pada awal Agustus 2025 mengungkapkan kekhawatiran signifikan di kalangan warganya. Mayoritas responden menyatakan ketakutan tidak dapat bepergian ke luar negeri. Fenomena ini muncul di tengah meningkatnya kritik internasional terhadap Israel atas perang di Jalur Gaza.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan, mengingat berbagai insiden anti-Israel yang dialami turis Israel di berbagai negara. Peristiwa seperti serangan fisik dan protes di luar negeri telah menjadi sorotan publik, termasuk insiden di Athena dan Rhodes. Hal ini memicu pertanyaan besar mengenai keamanan perjalanan bagi warga Israel.
Data dari survei lain, termasuk Anti-Defamation League (ADL) pada September 2024 dan Ruderman Family Foundation pada Februari 2022, turut memperkuat temuan ini. Survei-survei tersebut menunjukkan adanya peningkatan rasa tidak aman dan kekhawatiran antisemitisme global. Kondisi ini secara kolektif membentuk persepsi bahwa bepergian ke luar negeri semakin berisiko bagi warga Israel.
Hasil Survei Channel 12: Mayoritas Merasa Terancam
Jajak pendapat yang disiarkan oleh Channel 12 Israel menunjukkan bahwa 56 persen warga Israel takut tidak akan bisa bepergian ke luar negeri. Angka ini mencerminkan dampak langsung dari meningkatnya kritik internasional terhadap Israel. Sementara itu, 40 persen responden menyatakan tidak takut akan potensi insiden perjalanan, dan 4 persen lainnya tidak tahu bagaimana menjawab.
Kekhawatiran ini diperkuat oleh serangkaian insiden anti-Israel yang menjadi perhatian publik. Seorang turis Israel dilaporkan diserang di pantai Athena, sementara sekelompok remaja Israel juga diserang di Rhodes. Bahkan, sebuah kapal pesiar milik Israel dicegah berlabuh di Syros karena protes anti-Israel, menunjukkan meluasnya sentimen negatif.
Meskipun demikian, survei Channel 12 tidak menyediakan informasi mengenai ukuran sampel atau margin kesalahan. Hal ini penting untuk dipertimbangkan saat mengevaluasi cakupan representatif dari hasil survei tersebut.
Antisemitisme Global: Pemicu Kekhawatiran Perjalanan
Survei terpisah yang dilakukan oleh Anti-Defamation League (ADL) pada September 2024 menunjukkan tingkat kekhawatiran yang lebih dalam. Mayoritas warga Israel merasa tidak aman saat bepergian ke luar negeri di tengah meningkatnya antisemitisme global. Sebanyak 81 persen warga Israel khawatir tentang peningkatan antisemitisme, menunjukkan ketakutan akan permusuhan dan diskriminasi terhadap Yahudi.
Survei ADL juga mengungkapkan bahwa 80 persen warga Israel tidak merasa aman saat bepergian sebagai warga Israel di negara lain. Angka ini sangat tinggi, mencerminkan persepsi ancaman yang nyata. Selain itu, sekitar sepertiga atau 31 persen dari peserta survei melaporkan bahwa mereka secara pribadi mengalami diskriminasi atau mengenal seseorang yang telah didiskriminasi karena mereka adalah warga Israel.
Survei ini dilakukan secara daring oleh lembaga 'Maagar Mochot' (Brains Pool) dan mengumpulkan tanggapan dari 501 warga Israel. Metodologi ini memberikan gambaran yang lebih terstruktur mengenai kekhawatiran yang dirasakan oleh populasi Israel.
Dampak Usia dan Perilaku: Menyembunyikan Identitas
Sebuah survei yang lebih lama, dilakukan oleh Ruderman Family Foundation dan Dialog pada Februari 2022, menyoroti kekhawatiran keamanan dan antisemitisme berdasarkan kelompok usia. Survei ini menemukan bahwa 28 persen Yahudi Israel muda berusia 18-29 tahun 'sangat' atau 'sangat ekstrem' takut akan keselamatan pribadi mereka saat bepergian ke luar negeri. Kekhawatiran keamanan ini menurun seiring bertambahnya usia, dengan hanya 16 persen Yahudi Israel di atas 60 tahun yang memiliki ketakutan serupa.
Fenomena menarik lainnya adalah kecenderungan untuk menyembunyikan identitas. Sebanyak 59 persen warga Israel mengatakan bahwa mereka akan menyembunyikan simbol-simbol Yahudi saat bepergian ke luar negeri. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi diskriminasi atau insiden negatif. Data ini menunjukkan adaptasi perilaku untuk merasa lebih aman di lingkungan asing.
Survei tersebut juga mencatat bahwa 21 persen Yahudi Israel berusia 18-29 tahun melaporkan pernah mengalami antisemitisme atau mengenal seseorang yang mengalaminya saat bepergian ke luar Israel. Warga Israel yang lebih muda juga menunjukkan kekhawatiran lebih besar terkait pengungkapan kebangsaan mereka. Sekitar 13 persen warga Israel berusia 18-29 tahun mengatakan mereka tidak akan menyebutkan berasal dari Israel, dibandingkan dengan 8 persen warga Israel berusia 60 tahun ke atas.