Sidang Pemakzulan Wapres Filipina Sara Duterte Dimulai
Proses pemakzulan dimulai setelah terjadi perpecahan antara aliansi politik yang dibentuk oleh Marcos dan Sara Duterte.
Sidang pemakzulan Wakil Presiden Sara Duterte dimulai oleh Senat Filipina pada Senin, 6 Juli 2026. Sidang ini menandai awal baru dalam konflik politik antara Sara Duterte dan Presiden Ferdinand Marcos Jr.
Lebih dari 6.000 polisi, termasuk pasukan antihuru-hara, dikerahkan untuk mengamankan sidang. Diperkirakan, massa pendukung dan penentang Sara Duterte akan berkumpul di sekitar lokasi sidang. Dalam pembukaan sidang, Sara Duterte dapat hadir secara langsung atau diwakili oleh tim pengacara.
Berdasarkan rencana prapersidangan yang dilihat oleh The Associated Press, persidangan ini direncanakan berlangsung selama 92 hari. Jika terbukti bersalah, Sara Duterte berpotensi dilarang secara permanen dari jabatan publik.
Dakwaan yang dihadapi Sara Duterte mencakup kepemilikan kekayaan dengan asal-usul yang tidak jelas serta ancaman terbuka untuk membunuh Marcos. Namun, Sara Duterte membantah semua tuduhan tersebut. Proses pemakzulan ini menjadi salah satu agenda politik paling sensitif di Filipina, dan hasilnya dapat menentukan masa depan politik Sara Duterte menjelang pemilihan presiden 2028.
Pada saat itu, masa jabatan enam tahun Marcos akan berakhir. Sebelumnya, Sara Duterte dan Marcos maju sebagai pasangan dalam pemilu 2022, menggabungkan kekuatan dua dinasti politik paling berpengaruh di Filipina. Namun, kerja sama ini dengan cepat hancur dan berubah menjadi perseteruan terbuka.
Sara Duterte adalah putri mantan Presiden Rodrigo Duterte, yang merupakan pendahulu Marcos. Tahun lalu, Rodrigo Duterte ditangkap atas perintah Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan diterbangkan ke Den Haag. Saat ini, Rodrigo Duterte masih ditahan di sana dan dijadwalkan menjalani persidangan pada 30 November terkait dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Dakwaan terhadapnya berkaitan dengan operasi keras pemberantasan narkoba selama masa pemerintahannya, yang mengakibatkan ribuan tersangka tewas, sebagian besar dari kalangan masyarakat miskin.
Kebijakan tersebut telah memicu kecaman dari pemerintah negara-negara Barat dan kelompok hak asasi manusia. Meskipun Rodrigo Duterte membantah pernah memerintahkan pembunuhan di luar proses hukum, ia sering kali mengancam akan membunuh para tersangka selama masa jabatannya.
Sara Duterte menyalahkan Marcos atas penangkapan ayahnya yang berusia 81 tahun dan penyerahannya kepada ICC. Perseteruan antara Marcos dan keluarga Duterte juga dipengaruhi oleh perbedaan pandangan dalam politik luar negeri. Marcos memperluas kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat, sekutu Filipina, di tengah agresivitas China di Laut China Selatan.
Sebaliknya, selama masa jabatannya, Rodrigo Duterte menjalin hubungan dekat dengan Presiden China Xi Jinping dan pemimpin Rusia Vladimir Putin, bahkan mengancam untuk memutuskan hubungan dengan Washington.
Sara Duterte mendapatkan kritik karena tidak mengecam serangan China terhadap pasukan dan nelayan Filipina di perairan yang disengketakan, termasuk penggunaan meriam air berkekuatan tinggi.
Awal Mula Pemakzulan
Bulan lalu, Dewan Perwakilan Rakyat yang didominasi oleh sekutu Marcos menyetujui dakwaan pemakzulan terhadap Sara Duterte. Kasus tersebut kemudian dilanjutkan ke Senat, yang berfungsi sebagai pengadilan pemakzulan. Sara Duterte dituduh memiliki kekayaan yang tidak jelas asal-usulnya, menyalahgunakan dana rahasia negara, serta mengancam untuk membunuh presiden, istrinya, dan seorang mantan ketua DPR yang juga merupakan sekutu Marcos.
Sara Duterte membantah semua tuduhan tersebut. Namun, ia belum bersedia menjawab satu per satu tuduhan itu di hadapan publik menjelang sidang pemakzulan. Para pendukungnya menuduh Marcos dan para pembantunya melakukan tindakan persekusi politik. Mereka berpendapat bahwa langkah ini ditujukan untuk memastikan pemakzulan Sara Duterte dan melemahkan para senator yang mendukungnya. Untuk menyatakan wakil presiden bersalah, diperlukan dukungan dua pertiga dari 24 anggota Senat, yaitu sebanyak 16 suara.
Tekanan terhadap kubu Sara Duterte dilaporkan semakin meningkat menjelang sidang. Senator Jinggoy Estrada, yang merupakan anggota blok Senat pendukung keluarga Duterte, ditangkap dan ditahan bulan lalu. Ia menghadapi dakwaan korupsi besar-besaran atau plunder terkait dengan skandal suap proyek pengendalian banjir, dan dakwaan ini tidak memungkinkan pembebasan dengan jaminan. Estrada membantah telah melakukan kesalahan.
Senator pro-Duterte lainnya, Rodante Marcoleta, juga terancam ditangkap atas dakwaan korupsi besar-besaran atau plunder. Dakwaan ini juga tidak memungkinkan pembebasan dengan jaminan, di mana Marcoleta diduga menerima sumbangan kampanye yang besar dan tidak melaporkan dana tersebut dalam laporan harta kekayaannya. Ia juga membantah melakukan penyimpangan.
Selain itu, Senator Ronald dela Rosa bersembunyi setelah ICC menerbitkan surat perintah penangkapan terhadapnya, di mana ia disebut sebagai pelaku bersama dalam pembunuhan pada era Duterte.
Dela Rosa sebelumnya menjabat sebagai kepala kepolisian nasional pada masa pemerintahan Rodrigo Duterte dan menjadi pejabat pertama yang menjalankan operasi mematikan terhadap narkoba ilegal.