Gunung Taal di Filipina Erupsi, Muntahkan Abu Setinggi 450 Meter
Apa yang menjadi faktor pemicu terjadinya erupsi Gunung Taal?
Aktivitas vulkanik Gunung Taal yang terletak di Provinsi Batangas, Filipina, kembali menunjukkan peningkatan setelah pihak berwenang mencatat adanya lonjakan signifikan dalam aktivitas seismik dalam 24 jam terakhir. Kenaikan ini terjadi beberapa hari setelah dua letusan freatomagmatik mengguncang gunung berapi yang masih aktif tersebut.
Dalam buletin yang dirilis pada Rabu, 1 Juli 2026, Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina (Phivolcs) melaporkan bahwa Gunung Taal mengalami 19 gempa vulkanik dan lima episode tremor vulkanik yang berlangsung antara dua hingga sepuluh menit. Angka ini menunjukkan peningkatan yang tajam dibandingkan hari sebelumnya yang tidak mencatat adanya gempa vulkanik sama sekali.
Sebelumnya, Phivolcs hanya mendeteksi satu gempa vulkanik pada tanggal 29 Juni, dua gempa pada 28 Juni, dan tidak ada aktivitas seismik pada 27 Juni. Phivolcs menjelaskan bahwa gempa vulkanik ini dipicu oleh pergerakan magma di bawah atau di sekitar gunung berapi, sementara tremor vulkanik adalah getaran seismik berfrekuensi rendah yang berlangsung terus-menerus dan umumnya lebih dari satu menit, sebagaimana dikutip dari laman Newsinfo.inquirer.net pada Kamis, 2 Juli 2026.
Peningkatan aktivitas seismik ini terjadi setelah dua letusan freatomagmatik pada tanggal 30 Juni. Letusan pertama terjadi pada pukul 07.13 waktu setempat dan berlangsung selama empat menit, yang menghasilkan kolom asap setinggi sekitar 450 meter di atas kawah utama. Dengan dua letusan tersebut, total letusan freatomagmatik yang terjadi di Gunung Taal sepanjang bulan Juni mencapai lima kali, di mana fenomena serupa juga tercatat pada tanggal 4, 5, dan 6 Juni.
Phivolcs menjelaskan bahwa letusan freatomagmatik terjadi ketika magma yang naik bersentuhan langsung dengan air, sehingga memicu ledakan. Jenis letusan ini berbeda dengan letusan freatik yang disebabkan oleh uap akibat pemanasan air tanah atau air permukaan oleh magma maupun batuan panas. Selama periode pemantauan terakhir, Gunung Taal juga melepaskan sekitar 881 metrik ton sulfur dioksida, dengan kolom gas terpantau mencapai ketinggian sekitar 1.200 meter dan dikategorikan sebagai emisi tingkat sedang.
Meskipun aktivitas vulkanik meningkat, Phivolcs masih mempertahankan status Gunung Taal pada Level Siaga 1, yang menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik masih berada pada tingkat rendah.
Namun, lembaga tersebut mengingatkan bahwa status ini bukan berarti ancaman telah berakhir. Phivolcs tetap melarang masyarakat untuk memasuki Pulau Gunung Taal yang terletak di tengah Danau Taal, beraktivitas di perairan danau, atau menerbangkan pesawat di sekitar gunung berapi. Larangan ini diberlakukan karena masih terdapat potensi letusan uap atau freatomagmatik secara tiba-tiba, gempa vulkanik, hujan abu ringan, serta emisi gas vulkanik yang berbahaya.