Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyatakan klaim bahwa Selat Hormuz merupakan bagian dari wilayah AS.
"Saat ini saya menganggap Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika," kata Trump dalam rapat umum untuk mendukung Darline Graham, saudara perempuan mendiang Senator Partai Republik Lindsey Graham (terdaftar sebagai ekstremis dan teroris di Rusia), yang sedang mencalonkan diri untuk kursi Senat. Demikian dikutip dari laman Sputnik, Sabtu (22/8).
Sebelumnya, pemimpin Amerika Serikat itu sempat mengisyaratkan bahwa setelah mengalahkan Iran, dirinya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah AS.
Trump berulang kali mengunggah peta wilayah di Truth Social dan menyebut perairan tersebut adalah milik Amerika Serikat.
Menanggapi pertanyaan RIA Novosti, Wakil Tetap Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia mengaku tidak memahami bagaimana rencana penetapan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika dapat terwujud sesuai dengan hukum internasional.
Advertisement
Kepentingan Amerika di Selat Hormuz
Secara fisik, Selat Hormuz hanya memiliki lebar sekitar 30 mil pada titik tersempitnya. Untuk mengatur lalu lintas kapal di perairan yang sangat padat ini, Organisasi Maritim Internasional (IMO) telah menetapkan sistem pemisahan lalu lintas atau Traffic Separation Scheme (TSS).
TSS terdiri dari dua jalur pelayaran masing-masing selebar dua mil, satu jalur untuk lalu lintas masuk, dan satu lagi untuk lalu lintas keluar yang dipisahkan oleh zona penyangga selebar dua mil.
Meskipun kedalaman Selat ini cukup memadai bahkan untuk kapal tanker minyak raksasa, ruang manuver yang tersedia bagi kapal-kapal besar di dalam sistem TSS sangat terbatas.
Hal ini menjadikan navigasi di Selat Hormuz sangat bergantung pada keteraturan dan keamanan. Jika ada gangguan dalam bentuk penghalang, misalnya oleh kekuatan militer, maka untuk benar-benar menghentikan lalu lintas minyak, penghalang tersebut harus menutupi keseluruhan lebar selat, bukan hanya jalur sempit TSS.
Kepentingan strategis Selat Hormuz tak lepas dari sorotan Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya. Stabilitas aliran minyak dari Teluk sangat penting untuk menjaga kestabilan ekonomi global.
Oleh karena itu, ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz sebagai respons atas eskalasi militer baru-baru ini, memicu kekhawatiran luas di kalangan politisi, analis, hingga pelaku pasar energi.