Negara-negara anggota Group of Seven (G7) sepakat melepas 100 juta barel cadangan solar untuk meredam lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya harga solar. Program pelepasan darurat ini akan dimulai dalam waktu dekat dan berlangsung selama empat bulan.
Dikutip dari CNBC, Sabtu (3/10/2026), pengiriman dalam skala besar akan dilakukan pada 20 hari pertama di bawah koordinasi Badan Energi Internasional (IEA).
Keputusan tersebut diambil setelah pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendorong negara-negara Eropa memanfaatkan cadangan solar mereka. Langkah ini juga menjadi alternatif dari rencana AS yang sempat mempertimbangkan pelarangan ekspor solar untuk menekan harga di dalam negeri.
Selain membuka keran cadangan, para pemimpin G7 berkomitmen tidak membatasi ekspor energi antaranggota serta mengimbau seluruh produsen energi global agar tidak menerapkan larangan ekspor yang dapat memperburuk krisis pasar.
Kelompok G7 beranggotakan AS, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Kanada, dan Jepang. Saat ini Prancis memegang presidensi G7, dengan Uni Eropa turut hadir dalam pertemuan.
Hingga Jumat (2/10/2026), harga solar di AS tercatat masih tinggi, yakni rata-rata US$ 6,37 (sekitar Rp 93.000 dengan kurs Rp 17.890) per galon.
Advertisement
Pemicu Lonjakan Harga Solar
Kenaikan harga dipicu oleh gangguan pasokan akibat serangan Ukraina ke kilang minyak Rusia, serta memanasnya situasi di Timur Tengah karena perang dengan Iran.
Sebelumnya, wacana pelarangan ekspor solar oleh AS memicu kekhawatiran di Eropa. Menurut data IEA, pada Agustus lalu AS menyumbang sekitar separuh dari total impor solar Uni Eropa.
Komisaris Perdagangan Uni Eropa, Maroos Sefcovic, menekankan pentingnya kolaborasi dengan AS untuk menurunkan harga solar dan produk migas lainnya. Ia menilai pembatasan ekspor oleh AS berisiko memukul perekonomian Eropa.
Pada Maret lalu, negara-negara anggota IEA telah menyepakati penyaluran 400 juta barel minyak mentah dan produk olahannya guna menutup kelangkaan pasokan akibat perang dengan Iran.
Dari komitmen tersebut, Eropa menyumbang sekitar 107 juta barel (68% di antaranya berupa BBM), sementara Asia dan Oseania menyuplai 108 juta barel dengan komposisi 40% BBM dan 60% minyak mentah.
Amerika Serikat menjadi penyumbang terbesar dengan komitmen 172 juta barel yang seluruhnya berbentuk minyak mentah.