Pilu Warga Palestina, Temukan Jasad Istri Usai Tiga Tahun Mencari di Gaza

Hampir tiga tahun Adham Heriz mencari keluarganya di reruntuhan Gaza. Istrinya ditemukan, putranya masih hilang. Kisah warga Palestina ini.

Septian Deny
Oleh Septian Deny - Reporter
Pilu Warga Palestina, Temukan Jasad Istri Usai Tiga Tahun Mencari di Gaza
Seorang pria Palestina membawa wadah air di Kota Gaza, Selasa 12 Mei 2026. Kerusakan luas infrastruktur akibat serangan Israel sejak Oktober 2023 silam ditambah merosotnya ketersediaan air layak pakai, mendorong lebih dari dua juta warga Gaza ke ambang krisis keamanan air paling berbahaya. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Hampir tiga tahun Adham Heriz (41) menunggu kabar untuk bisa menemukan dan memakamkan keluarganya. Pada Kamis, setelah berulang kali menyisir puing di lingkungan tempat tinggalnya di Gaza City bagian timur, warga Palestina itu akhirnya menemukan jasad istrinya, Hiam (37). Jasad putra sulungnya hingga kini belum ditemukan.

Menurut Middle East Eye, Hiam dan anak pertama mereka, Anas (17), tewas ketika serangan udara Israel meratakan rumah keluarga Heriz di kawasan Al-Yarmouk pada 25 Oktober 2023. Juru bicara pertahanan sipil Palestina di Gaza, Mahmoud Basal, menyebut serangan tersebut menghantam 18 bangunan berisi sekitar 175 apartemen.

Sekitar 450 orang berada di dalam bangunan-bangunan itu, termasuk dokter, akademisi, jurnalis, anak-anak, dan bayi, kata Basal kepada Middle East Eye.

"Ada orang-orang yang terlempar sejauh sekitar 200 meter akibat ledakan. Seluruh keluarga musnah. Banyak jasad tewas hancur sepenuhnya, hampir tidak meninggalkan jejak karena bahan peledak dalam bom yang digunakan sangat besar," ujarnya.

Saat itu, tim hanya bisa mengevakuasi 120 jasad karena operasi militer masih berlangsung dan peralatan berat rusak. Jasad Hiam termasuk yang ditemukan dari bawah reruntuhan dalam operasi pertahanan sipil selama 20 hari di kawasan tersebut pada bulan lalu.

"Saya menemukan jasad istri saya serta saudara laki-laki saya dan keluarganya, tetapi saya tidak menemukan jasad anak laki-laki saya," kata Heriz kepada Middle East Eye.

'Awan Hitam' Menutup Langit

Sebelum serangan 25 Oktober, keluarga Heriz yang berjumlah tujuh orang tinggal di lantai enam sebuah bangunan tujuh lantai. Siang itu mereka makan bersama; Hiam dan dua putri mereka menuju dapur untuk mencuci piring.

Beberapa menit kemudian, rentetan serangan menghantam kawasan tersebut. "Rasanya seperti awan hitam menutupi semuanya. Saya merasa seperti terbang dan terlempar ke bawah reruntuhan setiap kali serangan terjadi. Saya tidak bisa mendengar apa pun. Saya tidak bisa bernapas karena bubuk bom dan debu," kenang Heriz.

Ia berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya. "Saya memikirkan keluarga saya. Saya berhasil menarik diri keluar dari bawah reruntuhan. Saya melihat putra saya Ahmed, delapan tahun, masih hidup tetapi mengalami pendarahan hebat di samping saya, sebelum saya akhirnya pingsan karena sebagian besar tulang saya patahpatah," lanjut dia.

Dua putrinya yang lebih kecil, Siwar (3) dan Dima (10), juga berhasil keluar dari reruntuhan dengan luka serius. Ahmed selamat. Namun Hiam, Anas, serta dua putri sulung mereka, Shahad (18) dan Dareen (15), tewas dan tertimbun di bawah puing.

Tragedi juga menimpa keluarga besar Heriz. Saudara laki-lakinya beserta lima anggota keluarga ikut menjadi korban. "Orang-orang membawa saya ke ambulans ketika saya menangis untuk keluarga saya yang masih berada di bawah reruntuhan. 'Maafkan aku, anak-anakku. Aku tidak bisa mengeluarkan kalian. Aku tidak bisa merasakan tanganku; tangan-tanganku patah,'" tuturnya.

Dengan bantuan tim pencarian dan pertahanan sipil serta warga setempat, jasad Shahad dan Dareen akhirnya ditemukan. Sementara itu, usaha untuk mencapai lokasi Hiam dan Anas terus terkendala tebalnya reruntuhan.

Suara dari Bawah Reruntuhan di Palestina

Keterbatasan alat berat membuat tim penyelamat sulit menembus puing untuk menemukan seluruh korban, termasuk Hiam dan Anas. Heriz dan kerabatnya berulang kali kembali ke lokasi, namun tanpa peralatan memadai upaya mereka kerap buntu.

Harapan baru muncul ketika pertahanan sipil memulai operasi lanjutan bulan lalu. Operasi dikoordinasikan dengan Komite Internasional Palang Merah (ICRC), kendaraan disediakan Mesir, sementara bahan bakar disalurkan melalui Ocha, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan.

"Selama pencarian selama 20 hari, kami berhasil mengangkat jasad 37 anak yang tewas hanya dari bawah bangunan tempat saya tinggal," kata Heriz. "Kami menemukan seorang bayi berusia kurang dari satu tahun di dalam ranjangnya di bawah reruntuhan, masih menggenggam dot susunya. Ketika ayahnya melihat dan mengenalinya dari pakaian yang dikenakannya, dia langsung pingsan karena syok," ungkapnya.

Dalam operasi yang sama, Heriz akhirnya menemukan jasad istrinya, juga saudara laki-lakinya dan keluarga sang saudara. Namun jasad putranya tetap belum ditemukan.

Penemuan-penemuan itu memantik kembali ingatan para penyintas yang pada hari-hari pertama berjuang menolong korban dengan peralatan seadanya. Beberapa jam sebelum ledakan di kawasan yang sama, Abd Al Rahman Heriz (21) duduk bersama kerabat dan tetangga, membicarakan harapan gencatan senjata.

Ia kemudian pulang membantu adik perempuannya yang masih SD mengerjakan matematika. Tidak lama berselang, pengeboman dimulai. Rumahnya rusak sebagian karena dekat dengan bangunan yang hancur, memaksa ia dan keluarganya mengungsi ke jalan.

"Kami tidak dapat mengenali lingkungan kami. Langit berwarna hitam oleh debu, reruntuhan, dan api. Orang-orang yang terluka dan tewas ada di mana-mana. Rumah-rumah hancur. Tidak ada pohon, tidak ada tanda apa pun," kata Abd Al Rahman.

Di luar gedung tempat tinggalnya, ia melihat jasad seorang tetangga terbelah dua, dengan sebungkus roti tergeletak di sampingnya. Ia membantu keluarganya pindah ke rumah kerabat di Al-Daraj, sebelah timur Gaza City, lalu kembali untuk menolong warga yang terjebak.

Namun sebagian besar kerabat dan tetangga yang sebelumnya duduk bersamanya telah tewas dan masih tertimbun di bawah puing.

Bertahan dengan Peralatan Sederhana di Gaza

Karena tim pertahanan sipil sulit menjangkau lokasi, Abd Al Rahman dan para penyintas lainnya memakai peralatan sederhana seperti palu, sekop, dan pemotong logam untuk menerobos reruntuhan.

"Saya bertahan selama tiga hari bersama banyak tetangga yang selamat, melakukan yang terbaik untuk membantu mengeluarkan orang-orang," kenangnya. "Kami berhasil menarik dua saudara perempuan yang masih muda dari bawah reruntuhan. Ayah mereka terbaring tewas di samping mereka. Mereka menangisinya. Kami memindahkan jasadnya ke ambulans dan berusaha menenangkan anak-anak tersebut."

Dengan bantuan petugas pertahanan sipil, mereka juga menyelamatkan seorang perempuan yang bertahan hidup selama tiga hari di bawah puing. Namun, ketika serangan semakin intensif, mereka terpaksa meninggalkan lokasi meski teriakan minta tolong masih terdengar.

"Kami bisa mendengar suara orang-orang yang masih hidup tetapi terjebak di bawah reruntuhan, serta jasad ratusan orang lainnya, termasuk anggota keluarga besar saya," tutur dia.

Pengalaman itu masih membekas. "Saya masih mengalami mimpi buruk. Dalam pikiran saya, saya mendengar suara orang-orang meminta pertolongan: 'Tolong kami, keluarkan kami.' Ada seorang anak perempuan yang berkata, 'Saudariku sudah meninggal di sampingku. Keluarkan aku dan dia.'"

Dalam operasi 20 hari bulan lalu, tim pertahanan sipil menemukan 105 jasad, termasuk 36 yang belum teridentifikasi. Basal memaparkan tantangan identifikasi korban yang sudah terlalu lama terkubur. "Mereka telah berada dalam tahap pembusukan lanjut dan wajah mereka tidak lagi dapat dikenali. Tidak ada tes DNA atau cara lain untuk mengetahui siapa mereka," katanya.

Perang Israel di Gaza telah menewaskan sekitar 75.000 orang. Sekitar 8.000 orang diperkirakan masih hilang dan tertimbun di bawah reruntuhan di seluruh Jalur Gaza.

Rekomendasi