3 Tahun Perang Gaza: 74 Ribu Tewas, 1,9 Juta Warga Terusir dari Rumah

Perang Gaza memasuki tahun ketiga. Data terbaru soal korban warga Palestina, pengungsian massal, dan kerusakan layanan publik dipaparkan lembaga internasional.

Septian Deny
Oleh Septian Deny - Reporter
3 Tahun Perang Gaza: 74 Ribu Tewas, 1,9 Juta Warga Terusir dari Rumah
Seorang pria Palestina membawa wadah air di Kota Gaza, Selasa 12 Mei 2026. Kerusakan luas infrastruktur akibat serangan Israel sejak Oktober 2023 silam ditambah merosotnya ketersediaan air layak pakai, mendorong lebih dari dua juta warga Gaza ke ambang krisis keamanan air paling berbahaya. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Memasuki tahun ketiga perang di Gaza, lebih dari 74.000 warga Palestina dilaporkan tewas dan hampir 1,9 juta lainnya mengungsi. Konflik berkepanjangan ini meluas dampaknya, dari kehancuran rumah dan ekonomi, hingga kelaparan serta terhentinya layanan kesehatan dan pendidikan.

Meski gencatan senjata pada Oktober 2025 menurunkan intensitas pertempuran, korban jiwa tetap bertambah dan mayoritas warga Gaza belum dapat kembali ke permukiman. Mereka yang selamat menghadapi kehilangan berlapis, melampaui luka fisik dan duka keluarga.

Perpindahan berulang menjadi keseharian banyak keluarga. Orang tua kehilangan mata pencaharian, sementara anak-anak tumbuh di tenda pengungsian dengan keterbatasan pangan, sekolah, dan layanan kesehatan.

Dikutip dari Anadolu, Jumat (9/10), Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 74.237 orang tewas dan 175.206 lainnya terluka hingga 4 Oktober. Angka kematian itu setara sekitar 3,4 persen dari populasi Gaza sebelum perang yang diperkirakan 2,2 juta jiwa, atau sekitar satu dari setiap 30 penduduk.

Data OCHA atas 71.444 korban yang teridentifikasi hingga 31 Desember 2025 menunjukkan 47,7 persen adalah laki-laki, 29,8 persen anak-anak, 15,4 persen perempuan, dan 7,1 persen warga lanjut usia. Pada Oktober 2023 saja, WHO Health Cluster mencatat 8.805 warga Palestina tewas. Ribuan orang lainnya diyakini masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan.

Pada 3 Oktober, Hemaya Center for Human Rights menyatakan telah mendokumentasikan kematian 21.745 anak dan sekitar 46.000 kasus luka pada anak sejak Oktober 2023. Dari jumlah itu, 11.000 kasus merupakan amputasi anggota tubuh bagian bawah. Pusat tersebut juga melaporkan 123 anak meninggal akibat kekurangan gizi dan dehidrasi, serta 293 bayi prematur meninggal di tengah memburuknya layanan kesehatan, pemadaman listrik, dan kelangkaan obat-obatan.

Dampak perang terasa langsung di tingkat keluarga sejak tahun pertama. Survei Palestinian Center for Policy and Survey Research pada 26 Mei–1 Juni 2024 mencatat 61 persen responden di Gaza menyebut seorang anggota keluarga mereka telah tewas, dan 78 persen mengatakan seorang kerabat mereka tewas atau terluka. Survei ini mencakup wilayah Gaza tengah dan selatan yang dapat diakses, tidak termasuk Gaza utara dan zona pertempuran aktif.

Gelombang Pengungsian Warga Palestina Hampir 1,9 Juta Jiwa

Kehancuran rumah menjadi persoalan kemanusiaan jangka panjang di Gaza. Perkiraan PBB menyebut hampir 1,9 juta warga Palestina—sekitar 90 persen populasi—telah mengungsi selama perang, banyak di antaranya berpindah lokasi berkali-kali. Bagi banyak keluarga, pengungsian berlarut karena rumah hancur atau tidak lagi aman dihuni.

Penilaian bersama Bank Dunia, PBB, dan Uni Eropa yang dirilis pada April mendapati 371.888 unit rumah rusak atau hancur hingga Oktober 2025, setara sekitar 77 persen stok perumahan Gaza. Secara terpisah, Palestinian Central Bureau of Statistics melaporkan sekitar 201.290 bangunan mengalami kerusakan hingga 16 Juni 2026, atau 82 persen dari seluruh bangunan di Gaza; 134.422 di antaranya hancur total.

Menurut penilaian Shelter Cluster yang dikutip OCHA dan berbasis survei Juni, sekitar 94 persen penduduk Gaza membutuhkan bantuan tempat tinggal dan kebutuhan dasar rumah tangga. Saat itu, hingga 65 persen rumah tangga tinggal di tenda atau bangunan darurat dengan perlindungan cuaca yang minim. Lebih dari separuh keluarga yang tinggal di tenda menggunakan tenda yang sama selama lebih dari satu tahun, sementara lebih dari separuh tenda dan tempat tinggal darurat berada dalam kondisi buruk atau sangat buruk. OCHA juga mengidentifikasi ratusan lokasi pengungsian berisiko banjir, menambah ancaman bagi ratusan ribu orang di penampungan sementara.

Dampak perang meruntuhkan sumber penghidupan. Laporan UN Trade and Development pada 24 September memperkirakan 92 persen unit usaha ekonomi di Gaza rusak atau hancur sejak Oktober 2023. Konflik menghapus ratusan ribu lapangan kerja serta miliaran dolar pendapatan tenaga kerja di wilayah Palestina yang diduduki.

Tingkat pengangguran mencapai 78 persen dan lebih dari 90 persen penduduk usia kerja tidak memiliki pekerjaan. Output ekonomi tahunan per kapita turun menjadi 212 dolar AS pada 2025, hanya 17 persen dari tingkat 2022. Sementara itu, harga-harga pada 2025 tercatat 274 persen lebih tinggi dibandingkan 2022; kebutuhan pokok seperti kentang dan gas memasak melonjak beberapa kali lipat.

Kerusakan menjangkau hampir seluruh sektor produktif: produksi pertanian dan industri masing-masing 94 persen di bawah level 2022, sedangkan konstruksi turun 99 persen. Kurang dari 1,5 persen lahan pertanian Gaza yang masih dapat diakses dan tidak mengalami kerusakan.

"Ketahanan pangan sepenuhnya bergantung pada bantuan. Sebagian besar warga Gaza, termasuk anak-anak serta perempuan hamil dan menyusui, menghadapi kerawanan pangan akut dan kekurangan gizi," kata laporan UN Trade and Development.

"Anak-anak di bawah usia lima tahun berisiko mengalami kerusakan yang tidak dapat dipulihkan, termasuk pertumbuhan terhambat, gangguan kognitif, dan gangguan perkembangan yang membahayakan kesehatan mereka dalam jangka panjang," lanjut laporan tersebut.

Usai Gencatan Senjata, Korban Jiwa Tetap Berjatuhan

Gencatan senjata pada Oktober 2025 memang menurunkan intensitas pertempuran, namun tidak menghentikan sepenuhnya kematian dan luka-luka. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan sedikitnya 1.460 warga Palestina tewas dan 5.116 lainnya terluka sejak gencatan senjata tersebut, serta 835 jenazah ditemukan kembali.

Sektor kesehatan Gaza masih terpukul berat, dengan lebih dari separuh rumah sakit dan klinik layanan kesehatan primer tidak berfungsi menurut penilaian yang dikutip UN Trade and Development. Dampak perang juga merembet ke pendidikan: UNICEF menyebut hampir 98 persen bangunan sekolah di Gaza rusak sejak Oktober 2023, dan lebih dari 93 persen membutuhkan rehabilitasi besar atau pembangunan kembali secara penuh.

Pada September, sekitar 541.000 siswa kembali bersekolah berdasarkan data Palestina, namun banyak yang belajar di ruang kelas darurat tanpa perlengkapan dasar. Kembalinya para siswa terjadi setelah pendidikan tatap muka terganggu selama bertahun-tahun. UNICEF mencatat 700.000 anak usia 4–17 tahun kehilangan pendidikan tatap muka formal selama tiga tahun berturut-turut, dengan sekitar 420.000 di antaranya sama sekali tidak mendapatkan pembelajaran tatap muka.

Kebutuhan pemulihan Gaza kini sangat besar. Laporan terbaru UN Trade and Development memperkirakan kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi mencapai 71,5 miliar dolar AS, angka yang diperkirakan masih dapat meningkat seiring ditemukannya kerusakan lebih lanjut.

Rekomendasi