Hari-Hari Kehidupan 3 Anak Palestina di Gaza Setelah Kehilangan Orang Tua

Puluhan ribu anak Palestina kehilangan orang tua di Gaza, sementara banyak perempuan menjanda. Keluarga korban mengisahkan hari-hari mereka pascagencatan senjat

Khairisa Ferida
Oleh Khairisa Ferida- Reporter
Hari-Hari Kehidupan 3 Anak Palestina di Gaza Setelah Kehilangan Orang Tua
Interior bangunan tempat tinggal yang rusak terlihat setelah serangan Israel di Kota Gaza pada Kamis 4 Juni 2026. (Omar AL-QATTAA/AFP)

Tiga bersaudara keluarga Abu Asser harus berpindah tenda tiap dua hari, dari satu bibi ke bibi lain. Pola itu mereka jalani sejak menjadi yatim piatu beberapa hari setelah gencatan senjata diberlakukan di Gaza pada 2025. Mariam (16), Aya (14), dan Jebril (12) lebih dulu kehilangan ayah pada 2014.

Rumah keluarga ini di Kota Gaza hancur saat genosida Israel dimulai pada 2023. Mereka mengungsi bersama sang ibu, Islam, ke tenda darurat di Deir al-Balah, Gaza tengah.

Namun 19 hari setelah gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, bom Israel menghantam tenda itu dan menewaskan Islam di depan anak-anaknya. Ketiganya termasuk di antara 54.468 anak di Gaza yang kehilangan salah satu atau kedua orang tua sejak Oktober 2023, menurut Kementerian Pembangunan Sosial Palestina di Gaza, seperti dilaporkan Middle East Eye (MEE).

Dua bibi yang kini mengasuh mereka juga kehilangan suami selama genosida. Mereka harus membesarkan anak-anak sendiri sambil menopang keponakan yang ditinggal orang tua.

"Anak-anak itu tidak punya tempat tinggal tetap. Mereka lebih sering tinggal bersama nenek dari pihak ayah, tetapi juga bergantian menginap di tempat kami [para bibi dari pihak ibu], masing-masing selama dua malam," kata Warda al-Muzeini, salah seorang bibi mereka yang telah kehilangan suami, kepada Middle East Eye (MEE).

Muzeini menuturkan upaya keluarga untuk menjaga kondisi psikologis ketiganya, terutama Jebril yang ikut terluka saat serangan ke tenda.

"Kami berusaha memberikan dukungan emosional, terutama kepada si bungsu, Jebril. Saat bom menghantam tenda, dia sedang duduk di pangkuan ibunya dan ikut terluka."
"Dia melihat sendiri ibunya meninggal di depan matanya."

Muzeini kini membesarkan empat anaknya seorang diri. Tanpa pekerjaan maupun penghasilan tetap, ia kesulitan menyediakan makanan harian.

"Saya dan saudara perempuan saya yang juga menjanda sudah kesulitan memberi makan anak-anak kami sendiri. Namun, kami juga harus merawat anak-anak saudara kami yang sudah tidak punya orang tua," ujar Muzeini.
"Kami berbagi tanggung jawab. Kami bertiga berusaha membelikan sesuatu untuk anak-anak itu setiap kali mampu. Ada yang membeli piyama, ada yang membelikan sandal, sementara yang lain memberi uang saku untuk beberapa hari."

Masa Kecil yang Terkubur Perang

Di seluruh Gaza, sedikitnya 64.000 perempuan telah kehilangan suami dan 71.000 anak kehilangan orang tua. Angka itu mencakup korban sejak genosida yang berlangsung sejak Oktober 2023 hingga mereka yang terdampak serangan militer Israel pada tahun-tahun sebelumnya.

Kementerian Pembangunan Sosial mencatat sekitar 3.000 anak tidak memiliki wali atau pengasuh yang tercatat secara resmi dalam sistem pendataan.

"Angka-angka tersebut belum bisa menggambarkan penderitaan yang mereka hadapi sehari-hari di Gaza," kata juru bicara kementerian, Aziza al-Kahlout, kepada MEE.

Ia menjelaskan, anak yang kehilangan kedua orang tua bukan hanya kehilangan pengasuhan dan rasa aman, tetapi juga hak bersekolah dan menikmati masa kecil. Mereka terpaksa memikul tanggung jawab yang bukan beban anak seusia mereka.

Kahlout menambahkan, banyak perempuan yang menjadi satu-satunya pencari nafkah harus menghadapi beban ganda: memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membesarkan anak-anak di tengah kehancuran.

Ia memperingatkan meningkatnya risiko anak putus sekolah dan menikah di usia dini seiring memburuknya kondisi ekonomi, kemanusiaan, dan keterbatasan tempat tinggal.

"Kami melihat tanda-tanda yang sangat mengkhawatirkan terkait meningkatnya risiko anak-anak terpaksa bekerja, putus sekolah, dan menikah di usia dini. Semua ini dipicu oleh kemiskinan, pengungsian, serta hilangnya anggota keluarga yang selama ini menjadi pencari nafkah utama," tuturnya.

Kehilangan Satu Keluarga Sekaligus

Bagi anak yang menjadi satu-satunya anggota keluarga yang selamat, kehilangan terasa kian berat. Mereka harus menanggung duka atas kematian orang tua dan saudara kandung tanpa keluarga terdekat untuk berbagi kenangan.

Salah satunya Wafaa al-Attar. Dalam lima menit, ia kehilangan kedua orang tua dan seluruh saudara kandungnya. Ia menjadi satu-satunya yang selamat.

Saat itu Attar berusia 10 tahun. Sang ayah memintanya pergi ke rumah paman yang tak jauh dari rumah untuk mengisi daya ponsel.

Ketika ia berada di luar, serangan udara Israel menghancurkan rumah keluarganya di Deir al-Balah, Gaza tengah. Ayahnya, Ahmed, ibunya, Khouloud, serta keempat saudaranya—Rital (8), Muhammed (5), Obada (3), dan Yazan (9 bulan)—tewas.

"Dalam sekejap, saya kehilangan seluruh keluarga saya," ungkap Attar, yang kini berusia 13 tahun, kepada MEE.

"Ayah sedang menelepon ketika baterai ponselnya habis. Dia meminta saya mengisi daya ponsel di rumah paman karena di sana ada panel surya. Tepat ketika saya hendak masuk, terdengar ledakan yang sangat keras."

"Saya menoleh, dan rumah kami sudah tidak ada lagi."

Serangan pada 22 Februari 2024 itu menghantam bangunan bertingkat tempat keluarganya berada. Attar mengalami luka ringan akibat serpihan dan dibawa ke rumah sakit, tanpa mengetahui nasib keluarganya.

Ia terus menanyakan keadaan mereka hingga pamannya datang.

"Paman berkata kepada saya, 'Semoga Allah merahmati mereka. Semoga Allah mengganti kehilanganmu dengan kebaikan,'" kenangnya.

Mendengar kabar itu, Attar berhenti menangis dan terdiam. Selama dua hingga tiga jam, ia terpukul dan sulit menerima kenyataan. Setelah kembali ke rumah paman, berbagai pertanyaan memenuhi pikirannya.

"Saya terus bertanya-tanya, 'Semuanya sekaligus?'"

Selama berbulan-bulan, ia sulit menerima kepergian seluruh keluarganya dan takut memikirkan masa depannya. Awalnya Attar tinggal bersama kakek dan nenek, sebelum kemudian berpindah ke rumah paman.

"Saya mengalami masa-masa ketika emosi saya benar-benar tidak terkendali. Selama berbulan-bulan, saya berharap saat rumah kami dibom, saya juga berada di sana bersama mereka. Saya berharap ikut meninggal bersama mereka," tuturnya.

Kehilangan saudara-saudara kandung membuat duka itu semakin dalam.

"Saya bahkan tidak punya kesempatan untuk membicarakan kejadian itu dengan saudara-saudara saya."

Di rumah paman, perhatian keluarga membantu Attar menata emosi meski kesedihan tak hilang sepenuhnya. Setiap kali ia kembali diliputi duka, istri paman berusaha menenangkan dan mengingatkannya pada keinginan sang ayah agar ia tetap tegar.

"Mereka membuat semuanya terasa lebih ringan bagi saya. Saya bisa merasakan bagaimana mereka berusaha mendukung dan menghibur saya," kata Attar.

"Tetapi tentu saja, saya tahu tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan keluarga saya sendiri."

Rekomendasi