Laba Operasional BNI Cetak Rekor, Tembus Rp27,5 Triliun

Di tengah tekanan industri, BNI raih laba operasional tertinggi sepanjang sejarah Rp27,5 triliun. Pertumbuhan kredit melesat hingga 22,2 persen.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra- Reporter
Laba Operasional BNI Cetak Rekor, Tembus Rp27,5 Triliun
Laba Operasional BNI Cetak Rekor, Tembus Rp27,5 Triliun

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) membukukan laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) sebesar Rp27,5 triliun hingga kuartal III 2026. Angka ini melonjak 11,6% secara tahunan (year on year/YoY) sekaligus menjadi rekor PPOP tertinggi sepanjang sejarah perseroan pada periode kuartal ketiga.

Lompatan kinerja ini ditopang oleh penyaluran kredit yang tumbuh subur 22,2% YoY mencapai Rp992,5 triliun di seluruh segmen. Di saat yang sama, dana murah (current account savings account/CASA) melesat 19,6% YoY menjadi Rp733,7 triliun, diiringi kualitas aset yang kian sehat dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross yang melandai ke level 1,9%.

Momentum ini makin solid seiring langkah Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur 20–21 Oktober 2026 yang mempertahankan BI-Rate di level 5,75% serta memangkas Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap mulai November 2026, sebuah sinyal positif bagi likuiditas dan penyaluran kredit sektor produktif.

Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menegaskan bahwa pencapaian ini adalah buah dari konsistensi menjaga pertumbuhan yang berkualitas melalui pengelolaan risiko yang ketat.

"Di tengah dinamika pasar yang menantang, BNI tetap menjaga momentum pertumbuhan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam pengelolaan risiko. Fokus kami adalah memperkuat fundamental dan produktivitas untuk menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan," ujar Putrama di Jakarta, Selasa (27/10).

Dari segi pendapatan, Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) BNI tumbuh 13,6% YoY menjadi Rp33,2 triliun, sementara pendapatan berbasis komisi (fee-based income) naik 8,3% YoY menjadi Rp13,9 triliun. Hasilnya, laba bersih BNI tetap mampu tumbuh 6,6% YoY mencapai Rp16,1 triliun.

Transformasi Digital dan Kekuatan Dana Murah

Gedung PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI. (Dok BNI)
Gedung PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI. (Dok BNI)

Akselerasi kinerja BNI tak lepas dari kesuksesan ekosistem digital dan pembenahan jaringan. Aplikasi wondr by BNImenggaet 16,6 juta pengguna (tumbuh 58% YoY) dengan nilai transaksi menembus Rp1.774 triliun (naik 25% YoY).Sementara untuk segmen korporasi, BNIdirect membukukan nilai transaksi fantastis sebesar Rp9,324 triliun (tumbuh 16% YoY) dari 293 ribu pengguna. 

Inovasi digital ini dipadukan dengan optimalisasi jaringan fisik lewat strategi BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment) untuk memperkuat daya serap dana murah.

"Integrasi layanan digital dan jaringan cabang memungkinkan BNI memperluas jangkauan layanan, meningkatkan transaksi, sekaligus memperkuat hubungan dengan nasabah di berbagai segmen," tambah Putrama.

Strategi Kredit Selektif dan Terukurnya Risiko

Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, menjelaskan bahwa kunci keberhasilan ekspansi BNI terletak pada prinsip underwriting yang disiplin di tiap segmen. Strategi ini berhasil mengerek pangsa pasar kredit BNI sebesar 113 basis poin (bps) YoY menjadi 10,6%. 

Pertumbuhan simpanan giro BNI melesat 25,9% YoY—jauh di atas rata-rata industri sebesar 9,8% per Agustus 2026—yang menaikkan pangsa pasar giro sebesar 120 bps ke angka 13,2%. Tabungan BNI pun tumbuh 11,6% YoY. Langkah ini efektif menekan biaya dana (cost of fund/CoF) dari 2,83% menjadi 2,77%, sehingga mampu meredam imbas penurunan Net Interest Margin (NIM) industri yang menggeser NIM BNI dari 3,8% ke 3,5% seiring penyesuaian imbal hasil kredit (loan yield).

"Pertumbuhan kredit yang selektif dan penguatan dana murah menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan profitabilitas. Kami terus mengoptimalkan struktur pendanaan agar pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan," tutur Paolo.

Sisi manajemen risiko juga diperketat. Direktur Risk Management BNI, David Pirzada, memaparkan penurunan signifikan pada rasio Loan at Risk (LaR) dari 10,4% menjadi 7,8%, serta NPL gross yang membaik ke 1,9%. BNI memagari portofolionya dengan rasio total pencadangan 3,8% (di atas rata-rata industri 3,5%) dan NPL coverage ratiosebesar 193,3%.

"Pengelolaan risiko dilakukan sejak penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit, didukung sistem peringatan dini yang terus diperkuat," ujar David.

Fondasi Permodalan Siap Kawal Transformasi BUMN

BNI menyongsong akhir tahun dengan likuiditas melimpah, tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) 87,9%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) 143,4%, dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) 128,4%. Rasio Kecukupan Modal (CAR) yang kokoh di level 19,2% memberi ruang gerak luas untuk ekspansi pembiayaan. 

Transformasi BNI ini sejalan dengan arah strategis BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Menatap kuartal IV 2026, BNI berkomitmen melanjutkan strategi pendanaan berbasis transaksi, kredit selektif, serta penguatan digitalisasi demi pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan.

Rekomendasi