Penuhi Listrik Data Center, AS Siapkan Rp71 Triliun untuk Pembangkit Nuklir

Pemerintah AS menyiapkan pinjaman jumbo untuk modernisasi Pembangkit Nuklir Vistra. Alokasinya menyasar tiga unit guna menopang lonjakan listrik data center.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Penuhi Listrik Data Center, AS Siapkan Rp71 Triliun untuk Pembangkit Nuklir
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, pada 30 Januari 2026. (Dok. AP/Evan Vucci)

Pemerintahan Donald Trump menyiapkan paket pinjaman sekitar US$ 4 miliar atau sekitar Rp 71,5 triliun (kurs Rp 17.888 per US$) kepada Vistra Corp. Dana ini digelontorkan untuk memodernisasi tiga Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) milik perusahaan tersebut guna memperkuat pasokan listrik bagi pusat data.

Menteri Energi AS, Chris Wright, diperkirakan akan mengumumkan pendanaan ini saat kunjungan kerja ke kompleks nuklir Perry di timur laut Cleveland. Menurut sumber internal, alokasi pinjaman diarahkan ke dua PLTN Vistra di Ohio dan satu PLTN di Pennsylvania.

Mengutip Yahoo Finance, Sabtu (3/10/2026), suntikan dana tersebut menjadi langkah strategis pemerintah merespons lonjakan kebutuhan listrik nasional, seiring pertumbuhan pesat pusat data yang membutuhkan pasokan stabil 24 jam nonstop.

Mengingat perizinan dan pembangunan reaktor baru memakan waktu lama serta biaya yang besar, modernisasi fasilitas eksisting dipandang sebagai cara paling realistis untuk menambah kapasitas dalam waktu lebih cepat. Kebijakan ini sejalan dengan target Presiden Trump untuk melipatgandakan kapasitas nuklir AS hingga empat kali lipat pada 2050.

Vistra merupakan pemasok listrik utama bagi PJM Interconnection LLC, jaringan listrik terbesar di AS yang melayani sekitar 67 juta jiwa dari Illinois hingga Washington, D.C. Saat ini, jaringan PJM tengah menghadapi lonjakan permintaan dari industri pusat data.

Gedung Putih menilai pembaruan dan ekspansi PLTN tidak hanya menopang operasional pusat data, tetapi juga menyediakan energi berbiaya rendah untuk mendorong aktivitas ekonomi dan manufaktur domestik.

AS Kucurkan Rp 33 Triliun untuk Pembangkit Nuklir Duane Arnold

Sebelumnya, Kementerian Energi Amerika Serikat merampungkan pinjaman hingga US$ 1,9 miliar atau sekitar Rp 33 triliun (kurs Rp 13.537 per US$) untuk membantu NextEra Energy mengoperasikan kembali PLTN Duane Arnold di Negara Bagian Iowa.

Pendanaan melalui Kantor Pembiayaan Dominasi Energi itu disiapkan guna menyokong pengaktifan kembali satu-satunya PLTN di Iowa yang sempat berhenti beroperasi pada 2020.

Fasilitas berkapasitas 615 megawatt di Linn County ini disebut akan menghasilkan listrik yang cukup untuk memasok hampir 500.000 rumah, sekaligus membantu memenuhi lonjakan permintaan listrik di Iowa dan kawasan Midwest.

Proyek reaktivasi tersebut diproyeksikan membuka hampir 1.500 lapangan kerja selama masa konstruksi, serta menyerap lebih dari 450 tenaga kerja saat beroperasi penuh.

Wakil Menteri Energi AS, James Danly, menekankan pentingnya pengembalian kapasitas beban puncak yang andal.

"Mengembalikan 615 megawatt pasokan listrik beban puncak (baseload) yang andal akan menekan biaya listrik, sekaligus menyerap ribuan tenaga kerja Amerika," kata Wakil Menteri Energi AS, James Danly, dilansir dari Anadolu, Rabu (9/9/2026).

NextEra menargetkan reaktivasi paling lambat pada triwulan pertama 2029, setelah mengantongi persetujuan dari Komisi Pengawas Nuklir AS (US Nuclear Regulatory Commission) dan otoritas terkait lainnya.

Perusahaan menyebut hasil studi memperkirakan pengaktifan kembali PLTN tersebut berpotensi memberikan manfaat ekonomi lebih dari US$ 9 miliar bagi Iowa selama 25 tahun, serta menyumbang pendapatan pajak sekitar US$ 75 juta sepanjang masa operasional proyek.

Kontrak 25 Tahun Google untuk Listrik Pembangkit Nuklir

Langkah reaktivasi juga disertai kepastian pasar melalui kesepakatan jangka panjang 25 tahun, di mana Google berkomitmen membeli pasokan listrik dari fasilitas tersebut.

Chairman dan CEO NextEra, John Ketchum, menegaskan bahwa tambahan pasokan ini akan memperkuat keandalan jaringan listrik dan membantu mencegah pengalihan beban biaya akibat lonjakan permintaan kepada keluarga maupun pelaku usaha di Iowa.

Sebelum ditutup, PLTN Duane Arnold telah beroperasi lebih dari empat dekade. Pada Juni lalu, Iowa Utilities Commission menerbitkan sertifikat resmi yang memberikan izin kepada NextEra untuk melakukan konstruksi dan pengoperasian fasilitas.

Kucuran pembiayaan ini merupakan bagian dari strategi pemerintahan Trump untuk memulihkan industri nuklir AS di tengah meningkatnya konsumsi listrik nasional. Lonjakan kebutuhan energi dipicu antara lain oleh pesatnya pertumbuhan pusat data berbasis kecerdasan buatan serta percepatan elektrifikasi di berbagai sektor.

Pemerintah AS menargetkan sedikitnya 10 reaktor nuklir konvensional berskala besar mulai dibangun pada 2030, serta menyiapkan dukungan pembiayaan federal untuk menghidupkan kembali berbagai PLTN yang saat ini nonaktif.

Rekomendasi