NASA Kerahkan Robot Mini Ini Untuk Mencari Air di Bulan, Begini Cara Kerjanya
Pemetaan sumber air di Bulan akan memudahkan NASA dalam menentukan lokasi yang tepat untuk misi pendaratan manusia di masa depan.
Badan Antariksa Amerika Serikat atau NASA, sedang dalam proses pengembangan sebuah satelit kecil yang dinamakan Lunar Trailblazer, yang dijadwalkan untuk diluncurkan tahun ini. Misi dari satelit ini adalah untuk mencari kandungan air yang terdapat di permukaan bulan.
Lunar Trailblazer bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan air di bulan serta memetakan lokasi tersebut guna memahami siklus air yang mungkin ada. Menurut informasi dari laman NASA pada Kamis (23/1), Lunar Trailblazer termasuk dalam kategori SIMPLEx (Small, Innovative Missions of Planetary Exploration).
Misi-misi yang tergolong dalam kategori SIMPLEx adalah jenis misi yang memanfaatkan wahana luar angkasa berukuran kecil untuk tujuan eksplorasi. Lunar Trailblazer termasuk dalam kategori ini karena ukuran satelitnya lebih kecil dibandingkan dengan satelit lain yang dimiliki oleh NASA. Satelit ini memiliki lebar hanya sekitar 3,5 meter dan berat sekitar 205 kilogram. Lunar Trailblazer menggunakan platform Curio yang diproduksi oleh Lockheed Martin, yang merupakan arsitektur pesawat luar angkasa SmallSat terbaru.
Platform ini memungkinkan Lunar Trailblazer untuk melakukan eksplorasi bulan dengan ukuran dan biaya yang lebih efisien. Wahana antariksa ini akan dilengkapi dengan dua instrumen untuk mendukung misi pencarian air di bulan. Dua instrumen tersebut adalah HVM3 (High-resolution Volatiles and Minerals Moon Mapper) dan LTM (Lunar Thermal Mapper). HVM3 merupakan spektrometer pencitraan yang dikembangkan oleh JPL (Jet Propulsion Laboratory) dan sensitif terhadap jejak spektral air yang mungkin ada dalam berbagai bentuk, serta mampu menghasilkan peta resolusi tinggi.
Instrumen HVM3 berfungsi dengan cara mengukur panjang gelombang cahaya matahari yang dipantulkan dari permukaan bulan untuk mendeteksi jejak kimia yang menunjukkan kemungkinan keberadaan air. Di sisi lain, LTM adalah sensor yang dikembangkan oleh Oxford University yang akan memberikan rincian mengenai suhu permukaan bulan. LTM beroperasi dengan menggunakan cahaya inframerah untuk memetakan suhu permukaan serta variasi konsentrasi mineral yang terdapat di permukaan bulan.
Dengan memanfaatkan kedua instrumen ini, misi Lunar Trailblazer diharapkan dapat memberikan informasi baru yang penting untuk memahami evolusi bulan. Pemetaan air yang dilakukan oleh Lunar Trailblazer akan membantu NASA dalam menentukan lokasi yang lebih tepat untuk misi pendaratan manusia di bulan di masa depan, seperti misi Artemis. Selain itu, peta yang dihasilkan juga akan menjadi panduan baru untuk ambisi pemanfaatan dan pengiriman air serta material lainnya dari bulan ke bumi, dan sebaliknya.
Cahaya Bulan di Permukaan Air
Sebelumnya, para ilmuwan dari NASA meyakini terdapat air di Bulan. Penemuan air di Bulan pertama kali terdeteksi melalui data yang dikumpulkan oleh satelit. Pada tahun 2009, instrumen yang terdapat pada pesawat luar angkasa Lunar Crater Observation and Sensing Satellite (LCROSS) yang diluncurkan oleh NASA berhasil menemukan jejak uap air setelah menabrakkan modul ke kawah Cabeus yang terletak di dekat kutub selatan Bulan. Penemuan ini merupakan bukti kuat pertama mengenai keberadaan air di Bulan.
Namun, penemuan yang paling signifikan terjadi pada tahun 2020 ketika Observatorium Stratosfer untuk Astronomi Inframerah (SOFIA) berhasil mendeteksi molekul air (HO) di area permukaan Bulan yang terkena sinar matahari. Hal ini menunjukkan air tidak hanya terdapat di area bayangan abadi di kawah kutub, tetapi juga di lokasi lain di permukaan Bulan. Air di Bulan tidak muncul dalam bentuk cair seperti yang ada di Bumi. Sebaliknya, air terdapat dalam bentuk es, terutama di kawah-kawah yang tidak pernah terpapar sinar matahari yang terletak di dekat kutub Bulan.
Selain itu, molekul air juga ditemukan terperangkap di regolit, yaitu lapisan tanah yang ada di Bulan, yang terjebak di antara partikel-partikel debu. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, air di Bulan diperkirakan berasal dari berbagai sumber, termasuk dampak dari komet, interaksi dengan angin matahari, serta proses geologis yang terjadi di dalam Bulan.