Israel Tunda Pembebasan 600 Tawanan Palestina Tanpa Alasan Jelas dan Batasan Waktu
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa pembebasan tahanan Palestina akan ditunda hingga Hamas menjamin keselamatan sandera berikutnya.
Israel memutuskan untuk menunda pembebasan lebih dari 600 tahanan Palestina tanpa batas waktu, yang dapat mengakibatkan kemunduran signifikan dalam proses gencatan senjata. Keputusan ini diambil setelah enam sandera Israel, termasuk empat orang yang diculik dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, dibebaskan kemarin, sebagaimana dilaporkan oleh BBC pada Minggu (23/2/2025).
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa pembebasan tahanan Palestina akan ditunda hingga jaminan keselamatan untuk penyerahan sandera berikutnya dapat dipastikan oleh Hamas. Saat ini, hanya ada satu penyerahan sandera lagi yang direncanakan dalam tahap pertama gencatan senjata, yang melibatkan empat sandera yang sudah meninggal dalam penahanan. Hingga saat ini, belum ada pengaturan untuk pembebasan sandera hidup lainnya, yang akan dilakukan pada tahap kedua gencatan senjata.
Para mediator kini bekerja keras untuk memastikan agar kesepakatan tetap berjalan dan mencegah kemungkinan runtuhnya gencatan senjata.
Dua sandera lainnya yang dibebaskan, Avera Mengistu dan Hisham al-Sayed, telah ditahan di Gaza selama bertahun-tahun; Mengistu sejak 2014 dan al-Sayed sejak 2015. Enam sandera Israel yang baru dibebaskan merupakan sandera hidup terakhir yang akan kembali sebagai bagian dari fase pertama kesepakatan gencatan senjata, yang dijadwalkan berakhir pada hari Sabtu depan. Sementara itu, di luar Penjara Ofer yang terletak di Tepi Barat yang diduduki, keluarga dan teman-teman menunggu dengan penuh harapan untuk pembebasan tahanan Palestina.
Tiga puluh tiga tahun setelah menjalani hukuman penjara
Seorang ibu berusia 80 tahun yang tinggal di Khan Younis, Gaza, mengungkapkan ketidakpercayaannya bahwa putranya akan segera dibebaskan setelah 33 tahun menjalani hukuman di penjara. Di sisi lain, menjelang malam, Hamas menuduh Israel telah melanggar kesepakatan dengan menunda proses pembebasan tersebut. Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Hamas mengenai pernyataan yang disampaikan oleh Netanyahu.
Menurut informasi dari otoritas Palestina, terdapat 50 tahanan yang akan dibebaskan, di mana sebagian besar menjalani hukuman seumur hidup, sementara 60 lainnya menjalani hukuman panjang, dan ada 445 orang yang ditahan oleh Israel sejak 7 Oktober 2023.
Di antara tahanan tersebut, terdapat 62 sandera yang ditangkap pada 7 Oktober 2023 dan masih berada dalam tahanan Hamas, dengan perkiraan bahwa sekitar setengah dari mereka masih hidup. Proses pembebasan lebih lanjut direncanakan akan dilakukan pada fase berikutnya dari gencatan senjata yang terdiri dari tiga tahap antara Israel dan Hamas, yang dijadwalkan akan dimulai pada 1 Maret. Sebelumnya, Hamas telah mulai membebaskan sandera, yang difasilitasi oleh Palang Merah, sebagai imbalan untuk pembebasan tahanan Palestina setelah kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada 19 Januari. Hal ini menunjukkan dinamika yang kompleks dalam upaya mencapai perdamaian dan keadilan bagi semua pihak yang terlibat.