Ilmuwan Peringatkan Ancaman Ledakan Gunung Berapi Terpencil yang Berpotensi Picu Dampak Global
Cassidy menjelaskan bahwa gunung berapi di wilayah terpencil, terutama di kawasan rawan seperti Pasifik dan Amerika Selatan, berpotensi memicu letusan besar.
Letusan besar dari gunung berapi yang jarang dipantau ternyata dapat menimbulkan ancaman signifikan bagi dunia, bahkan berpotensi lebih berbahaya dibandingkan gunung berapi yang selama ini dikenal aktif seperti Etna di Italia atau Yellowstone di Amerika Serikat.
Peringatan ini disampaikan vulkanolog Mike Cassidy dalam analisis terbarunya yang menyoroti risiko gunung berapi "tersembunyi"—yakni gunung berapi yang berada di lokasi terpencil, minim pemantauan, dan selama ini dianggap tidak aktif.
Gunung Berapi Terpencil Berpotensi Timbulkan Bencana Global
Cassidy menjelaskan bahwa gunung berapi di wilayah terpencil, terutama di kawasan rawan seperti Pasifik dan Amerika Selatan, lebih berpotensi memicu letusan besar yang jarang terdeteksi dini. Dalam kurun tujuh hingga sepuluh tahun, letusan besar dari gunung berapi dengan catatan aktivitas minim dapat terjadi tanpa peringatan.
Salah satu contoh paling baru adalah letusan Gunung Hayli Gubbi di Ethiopia pada November 2025, yang meletus untuk pertama kalinya dalam 12.000 tahun. Letusan tersebut mengirimkan kolom abu setinggi 8,5 mil, dengan material vulkanik yang mencapai Yaman dan menyebar hingga wilayah udara India Utara.
Peristiwa serupa pernah terjadi pada tahun 1982 ketika Gunung El Chichón di Meksiko meletus setelah ratusan tahun tidak menunjukkan aktivitas. Letusan mendadak itu merusak hutan, bangunan, dan menewaskan lebih dari 2.000 orang. Abu vulkanik terbawa hingga Guatemala, sementara kandungan sulfur di atmosfer menyebabkan pendinginan global dan pergeseran musim hujan di Afrika, yang kemudian berkontribusi pada kelaparan Ethiopia 1983–1985.
"Banyak ilmuwan tidak menyadari bahwa gunung berapi kecil dan terpencil pun bisa memicu dampak global," ujar Cassidy.
Persepsi "Gunung Tenang Tidak Berbahaya" Mulai Dipertanyakan
Menurut Cassidy, bias psikologis turut berperan dalam rendahnya perhatian terhadap gunung berapi yang lama tidak meletus. Normalcy bias membuat masyarakat berasumsi bahwa gunung yang tenang akan tetap tenang, sementara availability heuristic mendorong fokus berlebihan terhadap gunung berapi terkenal yang sering diberitakan.
Padahal, data menunjukkan bahwa tiga perempat letusan besar berasal dari gunung berapi yang tidak aktif lebih dari 100 tahun. Ironisnya, hanya kurang dari separuh gunung berapi aktif di dunia yang mendapatkan pemantauan memadai.
Siapsiaga
Cassidy menegaskan bahwa kesiapsiagaan terbukti efektif dalam menyelamatkan nyawa, sebagaimana pada kasus letusan Pinatubo (Filipina) 1991, Merapi (Indonesia) 2019, dan La Soufrière (Karibia) 2021.
"Kita sering bertindak setelah bencana terjadi. Pola ini sangat berisiko," ujarnya.
Upaya Global Meningkatkan Kesiapsiagaan
Sebagai respons atas meningkatnya risiko ini, Cassidy bersama sejumlah ilmuwan membentuk Global Volcano Risk Alliance, sebuah organisasi yang bertujuan memperkuat pemantauan gunung berapi, membantu negara berkembang, serta mendorong kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal dekat gunung berapi dengan catatan letusan minim.
"Perhatian dunia perlu diarahkan kepada gunung berapi yang kurang dipantau di Asia Tenggara, Afrika, Pasifik, dan Amerika Latin," tegas Cassidy.
Reporter Magang: Mochammad Aidil Akbar