FOTO: Presiden Termiskin di Dunia Jose Mujica Tutup Usia, Tolak Tinggal di Istana dan Tanpa Pembantu
Semasa menjabat sebagai Presiden, Jose Mujica rutin menyumbangkan sebagian besar gajinya untuk kegiatan amal.
Jose Mujica, Presiden Uruguay masa jabatan 2010-2015 yang dikenal sebagai 'Presiden Termiskin di Dunia', meninggal dunia pada Selasa (13/5) di usia 89 tahun. Kabar duka ini disampaikan langsung oleh Presiden Uruguay Yamandú Orsi melalui media sosial, menyebut Mujica sebagai "Presiden, aktivis, panutan, dan pemimpin."
Kepergian Mujica menandai akhir perjalanan seorang negarawan yang dicintai rakyat, bukan hanya karena kiprah politiknya, tetapi juga karena integritas dan kesederhanaannya yang langka di kalangan pemimpin dunia.
Mujica memilih menjalani perawatan paliatif di rumah tiga kamar miliknya di pinggiran Montevideo, setelah empat bulan lalu memutuskan menghentikan pengobatan medis atas kanker esofagus yang dideritanya.
Mengutip Associated Press (AP), Mujica telah menjalani pengobatan intensif sejak diagnosis kanker pada musim semi lalu. Meskipun terapi radiasi sempat menunjukkan hasil positif, penyakit autoimun yang ia derita memperburuk kondisinya.
Pada Januari, tim dokternya mengonfirmasi bahwa kanker telah menyebar ke hati. “Dalam beberapa hari terakhir, dia tahu bahwa dirinya tengah berada di penghujung hidupnya,” ujar Fernando Pereira, Presiden partai sayap kiri Broad Front.
Mujica dikenal luas sebagai "presiden termiskin di dunia" karena kehidupannya yang bersahaja. Ia menolak tinggal di istana presiden, memilih tetap tinggal bersama istrinya di rumah sederhana, tanpa pembantu dan pengawalan ketat.
Ia juga dikenal mengenakan pakaian kasual, mengendarai Volkswagen Beetle 1987, dan rutin menyumbangkan sebagian besar gajinya untuk amal.
Lahir sebagai gerilyawan Marxis dan pernah dipenjara selama lebih dari satu dekade, Mujica bertransformasi menjadi figur kenegaraan yang bijak dan dicintai. Pandangan filosofisnya tentang demokrasi, keadilan sosial, dan hak asasi manusia terus menginspirasi banyak pihak, baik di Uruguay maupun dunia internasional.
Kepergiannya meninggalkan warisan moral dan politik yang dalam, mengingatkan dunia bahwa kekuasaan tidak harus dijalankan dengan kemewahan, tetapi dengan nurani dan pengabdian tulus pada rakyat.