Ramadhan Sananta Harus Lakukan Ini Biar Tak Tersisih dari Timnas Indonesia
John Herdman memberikan perlindungan kepada Ramadhan Sananta dari serangan kritik yang tajam dari warganet.
Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, memberikan dukungan penuh kepada penyerang Ramadhan Sananta di tengah kritik yang muncul setelah penampilan kurang maksimalnya pada final FIFA Series 2026.
Dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada hari Senin, 30 Maret 2026, Indonesia harus menerima kekalahan tipis 0-1 dari Bulgaria. Sorotan terhadap Sananta semakin mencolok karena penampilannya dianggap tidak sebanding dengan performanya saat melawan Saint Kitts and Nevis beberapa hari sebelumnya.
Meskipun tidak mencetak gol dalam laga tersebut, pergerakannya di lapangan dianggap sangat membantu dalam menciptakan ruang bagi rekan-rekannya.
Herdman bahkan menyamakan peran Sananta dengan Olivier Giroud di Timnas Prancis, menilai bahwa keberadaan striker berusia 23 tahun itu mampu mengganggu fokus lini belakang lawan. Hal ini memberikan peluang bagi pemain lain seperti Beckham Putra dan Ole Romeny untuk mencetak gol.
Namun, situasinya berbeda saat menghadapi Bulgaria, di mana Sananta mengalami kesulitan untuk menembus pertahanan lawan yang terkenal disiplin dan terorganisir dengan baik.
Minimnya kontribusi nyata dari Sananta di lini depan menyebabkan performanya kembali dipertanyakan, dan banyak yang berharap ia dapat segera menemukan kembali permainan terbaiknya.
Kesulitan saat Lawan Bulgaria
Pengamat sepak bola nasional, Alexander Saununu, menilai bahwa performa Sananta belum menunjukkan perkembangan yang signifikan sejak ia dipercaya untuk memperkuat timnas di bawah pelatih Shin Tae-yong.
"Di FIFA Series ini saya amati kemampuan Sananta tak ada peningkatan signifikan. Gaya main dan positioning masih tak banyak berubah. Dia hanya tampak lari-lari saja. Dia punya satu peluang, tapi naluri golnya rendah," ungkap Saununu.
Meskipun ia mengakui bahwa peran Sananta cukup efektif saat melawan Saint Kitts and Nevis, kualitas lawan yang berbeda membuat sang striker kesulitan untuk memberikan dampak yang sama.
"Sananta memang bisa merusak konsentrasi bek Saint Kitts and Nevis, karena kualitas mereka kurang. Tapi dia sulit menghadapi bek Bulgaria yang disiplin dan punya kemampuan bagus. Ini jadi bahan evaluasi," lanjutnya.
Dengan demikian, Saununu menekankan pentingnya evaluasi untuk meningkatkan performa Sananta di masa mendatang.
Bisa Tersisih
Sananta pernah menjadi pemain kunci di putaran awal Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, mencetak empat gol yang membuatnya sejajar dengan Mohamed Salah dan melampaui Lionel Messi dalam periode yang sama. Namun, masalah utama yang dihadapi adalah konsistensi dalam penampilannya.
Di fase selanjutnya, ia mulai tersisih dan kalah bersaing dengan pemain lain seperti Rafael Struick. Hal ini menunjukkan bahwa persaingan di lini depan Timnas Indonesia semakin ketat, dan jika Sananta tidak mampu meningkatkan performanya, ia berisiko kehilangan tempatnya di tim.
Saununu mengingatkan bahwa Sananta perlu melakukan introspeksi terhadap performanya.
"Seharusnya Sananta introspeksi. Saya kira dia sudah berubah, ternyata masih segitu-gitu saja mainnya. Dia bisa tersisih bila tak memperbaiki diri," tegasnya.
Pernyataan ini menegaskan pentingnya bagi Sananta untuk melakukan evaluasi diri agar bisa bersaing dengan lebih baik di level internasional. Tanpa adanya perbaikan yang signifikan, masa depannya di timnas bisa terancam, dan ia harus berusaha keras untuk kembali mendapatkan kepercayaan pelatih dan tempat di lini depan.