PSIS Terancam Degradasi dari BRI Liga 1, Apa Masalah Utama di Klub?
Apakah klub asal Semarang ini masih memiliki peluang untuk bertahan, atau justru akan menghadapi akhir yang tragis?
PSIS Semarang mengalami kesulitan di BRI Liga 1 2024/2025. Tim Mahesa Jenar kini terancam terdegradasi dari liga tertinggi. Apakah klub asal Semarang ini masih memiliki peluang untuk bertahan, atau justru akan menghadapi akhir yang tragis? Tanda-tanda keterpurukan PSIS Semarang sudah terlihat sejak mereka membangun tim di awal musim. Belanja pemain asing yang dilakukan dalam bursa transfer menjadi penyebab utama masalah ini. Para legiuner yang didatangkan tidak dapat memberikan kontribusi maksimal karena mengalami cedera.
Di sisi lain, PSIS sebenarnya memiliki sejumlah pemain lokal yang memiliki potensi untuk bersaing dengan tim lain. Namun, dalam kompetisi yang sangat ketat ini, mereka tampak kesulitan menghadapi lawan-lawan yang lebih tangguh. Meskipun CEO Yoyok Sukawi mengumumkan pemberian bonus ratusan juta di media sosial setelah PSIS meraih kemenangan, situasi sebenarnya di klub ini tidak seindah yang dipublikasikan. Faktanya, klub ini tengah terjerat masalah finansial yang cukup serius.
Sejumlah masalah
Aib yang telah lama tersembunyi mulai terungkap pada saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Yoyok Sukawi dengan tegas menyatakan bahwa PSIS mengalami kerugian mencapai puluhan miliar rupiah. Meskipun demikian, Septian David Maulana dan rekan-rekannya tetap menunjukkan loyalitas yang tinggi dengan berjuang secara spartan dan militan. Namun, kesetiaan ini perlahan-lahan mulai memudar seiring berjalannya waktu, karena tim-tim lain juga berusaha keras untuk tidak terlempar dari persaingan di kasta teratas sepak bola Indonesia.
Kabar yang paling mengecewakan adalah lambatnya PSIS dalam memutuskan kerja sama dengan pelatih Gilbert Agius, yang tidak mampu menyelamatkan tim dari ancaman degradasi.
Saat ini, dengan sisa empat laga tanpa pelatih kepala, PSIS masih optimis bisa terhindar dari degradasi. Kita akan melihat bagaimana hasil akhirnya, apakah PSSI benar-benar dapat selamat atau justru menghadapi kehancuran yang lebih parah.
Mengalami pengalaman serupa
Seharusnya PSIS mengambil pelajaran dari dua kali pengalaman pahit yang dialami pada tahun 2000 dan 2009. PSIS pernah menunjukkan kekuatannya saat menjadi juara Liga Indonesia di musim 1998/1999. Namun, di tahun berikutnya, mereka langsung terdegradasi ke Divisi Satu. Pada musim ISL 2008/2009, PSIS mendapatkan kesempatan kedua dengan menggantikan Persmin Minahasa dan Persiter Ternate yang tidak lolos verifikasi untuk berkompetisi di ISL. Sayangnya, meskipun memiliki skuad yang terdiri dari pemain muda dengan kontrak yang terjangkau, mereka tetap gagal menghindari degradasi.
Dalam dua kesempatan terdegradasi tersebut, PSIS yang tidak memiliki dana yang cukup besar tetap memaksakan diri untuk berpartisipasi di kompetisi tertinggi. Masalah klasik terkait keuangan tampak kembali menghantui mereka di musim ini. Ketidakmampuan untuk mengelola anggaran dengan baik dan memperkuat tim dengan pemain berkualitas menjadi tantangan tersendiri. Seharusnya, pengalaman sebelumnya menjadi pelajaran berharga agar tidak terulang kembali di masa depan. Dengan demikian, PSIS perlu melakukan evaluasi menyeluruh agar bisa bangkit dan bersaing di level yang lebih tinggi.