SRC Catat Kontribusi Rp251 Triliun ke Ekonomi Nasional, Digitalisasi Dorong UMKM Naik Kelas
Transformasi digital turut menjadi faktor pendorong pertumbuhan tersebut. Sebanyak 98,8 persen toko SRC telah terdigitalisasi.
PT SRC Indonesia Sembilan mencatat kontribusi omzet jaringan toko SRC mencapai Rp251 triliun per tahun atau setara 9,5 persen Produk Domestik Bruto (PDB) retail nasional 2025.
Capaian tersebut terungkap dalam riset "Bukti Nyata SRC untuk Indonesia" yang dilakukan Kompas Gramedia pada 2026. Nilai kontribusi itu meningkat Rp15 triliun dibandingkan capaian 2023 yang sebesar Rp236 triliun per tahun.
Memasuki usia ke-18 tahun, Sampoerna Retail Community (SRC) menegaskan komitmennya dalam memperkuat pemberdayaan UMKM dan retail tradisional di Indonesia.
Saat ini, jaringan SRC mencakup lebih dari 250.000 toko kelontong di seluruh Indonesia yang didukung lebih dari 6.300 Mitra SRC dan terhubung melalui 10.000 paguyuban.
Riset tersebut juga menunjukkan toko yang bergabung dengan SRC mengalami peningkatan omzet hingga 42 persen. Selain itu, sepanjang 2023–2026, omzet toko SRC tercatat tumbuh 27,5 persen melalui program pendampingan berkelanjutan.
Transformasi digital turut menjadi faktor pendorong pertumbuhan tersebut. Sebanyak 98,8 persen toko SRC telah terdigitalisasi, sementara 46 persen toko berhasil memperluas lini usaha melalui layanan produk digital dan pembayaran elektronik.
Di tingkat komunitas, toko SRC juga menjadi saluran distribusi bagi produk UMKM lokal melalui program Pojok Lokal. Program tersebut mencatat pertumbuhan omzet hingga 128 persen, dari Rp5,65 triliun per tahun pada 2023 menjadi Rp12,9 triliun per tahun pada 2026.
Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Uus Kuswanto, yang mewakili Wakil Gubernur DKI Jakarta, mengapresiasi kontribusi SRC dalam memperkuat ekosistem UMKM dan retail tradisional.
"Selama 18 tahun, SRC semakin menemukan perannya dalam mendukung pemberdayaan UMKM kelontong di seluruh penjuru Nusantara. Di Jakarta saja, jumlahnya telah mencapai sekitar 40.000 toko, sebuah pencapaian yang luar biasa. Kami berharap SRC terus berkembang, bukan hanya menjadi jaringan toko kelontong, tetapi juga melahirkan perusahaan-perusahaan besar kebanggaan Indonesia, seperti Sampoerna saat ini," ujarnya.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata Kemenko Perekonomian, Dida Gardera, mengatakan peran SRC relevan dalam memperkuat UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional.
"UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional. Dari sekitar 64 juta usaha di Indonesia, 99,7 persennya adalah usaha mikro. Ketika pandemi dan krisis, UMKM terbukti menjadi andalan perekonomian Indonesia. Karena itu, langkah SRC yang fokus membantu UMKM, khususnya toko kelontong, sangat tepat untuk mendorong usaha kecil naik kelas, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan kualitas usaha maupun SDM," katanya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Iqbal Shoffan Shofwan, menilai penguatan retail tradisional perlu terus dilakukan melalui modernisasi dan digitalisasi.
"Kontribusi sektor retail terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai 54,36 persen, termasuk di dalamnya retail tradisional seperti toko kelontong. Selama 18 tahun terakhir, SRC tidak hanya mengakselerasi usaha, tetapi juga membantu meningkatkan skala warung tradisional melalui penataan toko, manajemen keuangan, hingga memfasilitasi penyaluran barang dari prinsipal maupun distributor. Dampaknya, toko kelontong bisa memperoleh harga yang lebih baik, meningkatkan margin keuntungan, bahkan lebih dari 40 persen berhasil mengembangkan lini usahanya," ujarnya.
Pendampingan Berkelanjutan
Direktur Utama PT SRC Indonesia Sembilan, Romulus Sutanto, mengatakan pendampingan berkelanjutan menjadi kunci peningkatan daya saing UMKM dalam ekosistem SRC.
"Melalui pendampingan berkelanjutan, SRC membantu para pemilik toko meningkatkan pengelolaan usaha, mulai dari penataan toko yang lebih rapi, bersih, dan terang, hingga adopsi teknologi seperti AYO Toko dan digital payment. Transformasi ini membuat usaha mereka semakin relevan, lebih stabil, dan mampu berkembang mengikuti kebutuhan pasar," ujarnya.
Kolaborasi
SRC juga memperluas kolaborasi dengan sejumlah BUMN, seperti Perum BULOG, Bank Rakyat Indonesia, Pos Indonesia, Telkomsel, dan Pertamina Patra Niaga.
Pada momentum ulang tahun ke-18, SRC turut menandatangani kerja sama strategis dengan Bank Syariah Indonesia dan BRI Insurance untuk memperkuat akses pasar, distribusi, dan layanan bagi toko kelontong di seluruh Indonesia.