Realisasi Cetak Sawah Donggala Baru Capai 80 Hektare, Anggaran Turun Drastis
Realisasi Cetak Sawah Donggala baru mencapai 80 hektare dari target yang berubah drastis. Simak penyebab penurunan luasan lahan dan anggaran program ini yang mencapai Rp3 miliar.
Pemerintah Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, melaporkan bahwa realisasi program cetak sawah baru di wilayah tersebut baru mencapai 80 hektare. Angka ini jauh di bawah target awal yang direncanakan, serta mengalami perubahan signifikan dari luasan lahan yang dikontrak sebelumnya. Kondisi ini menjadi sorotan mengingat pentingnya program cetak sawah untuk ketahanan pangan daerah.
Bupati Donggala, Vera Elena Laruni, menjelaskan bahwa dari total lahan yang dikontrak seluas 112 hektare, pengerjaan cetak sawah baru terealisasi 80 hektare. Pernyataan ini disampaikan Vera saat ditemui awak media di Banawa pada Rabu, 28 Januari. Proses pengerjaan tersebut sudah mencakup penyewaan dan pembukaan lahan.
Perubahan luasan lahan ini juga berdampak pada anggaran yang dialokasikan untuk program tersebut. Dari usulan awal 800 hektare dengan anggaran Rp24,9 miliar, kini program cetak sawah hanya mengelola 112 hektare dengan total anggaran Rp3 miliar. Penyesuaian ini dilakukan setelah melalui berbagai pertimbangan dan kendala di lapangan.
Perubahan Luasan dan Anggaran Program Cetak Sawah Donggala
Program cetak sawah baru di Kabupaten Donggala mengalami perubahan luasan yang cukup drastis dari rencana awal. Semula, program ini ditargetkan untuk mencetak sawah seluas 800 hektare, namun kemudian direvisi menjadi 112 hektare. Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor yang tidak memungkinkan seluruh lahan awal untuk dikembangkan menjadi area persawahan baru.
Bupati Donggala, Vera Elena Laruni, menerangkan bahwa sebagian lahan yang semula diusulkan masuk dalam kawasan hutan lindung. Selain itu, terdapat pula lahan perkebunan milik masyarakat yang tidak dapat dialihfungsikan untuk program cetak sawah. Faktor-faktor ini menjadi kendala utama dalam mencapai target luasan awal yang telah ditetapkan.
Tidak hanya itu, beberapa lahan juga teridentifikasi masuk dalam sepadan sungai dan wilayah dengan kemiringan tertentu di area pegunungan. Kondisi geografis ini membuat lahan tersebut tidak ideal atau bahkan tidak memungkinkan untuk dijadikan sawah produktif. Oleh karena itu, penyesuaian luasan lahan menjadi 112 hektare merupakan langkah realistis yang diambil oleh Pemerintah Kabupaten Donggala.
Penurunan luasan lahan secara otomatis berimbas pada anggaran yang dialokasikan untuk program ini. Anggaran yang digunakan pada program cetak sawah baru tersebut kini mencapai Rp3 miliar. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan usulan awal sebesar Rp24,9 miliar jika program cetak sawah dapat terealisasi seluas 800 hektare.
Tantangan dan Lokasi Program Cetak Sawah Baru
Tantangan dalam realisasi program cetak sawah di Donggala cukup kompleks, terutama terkait dengan kondisi lahan. Adanya lahan yang masuk kawasan hutan lindung, perkebunan masyarakat, sepadan sungai, serta wilayah dengan kemiringan tertentu menjadi hambatan serius. Hal ini menunjukkan perlunya survei lahan yang lebih komprehensif di awal perencanaan program.
Meskipun menghadapi tantangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Donggala tetap berkomitmen untuk melanjutkan program cetak sawah di lokasi-lokasi yang memungkinkan. Program ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian dan mendukung ketahanan pangan di daerah. Upaya adaptasi terhadap kondisi lapangan menjadi kunci keberhasilan program ini.
Lokasi program cetak sawah baru di Kabupaten Donggala tersebar di beberapa kecamatan. Area-area yang menjadi fokus pengembangan sawah baru meliputi Kecamatan Sojol, Pinembani, Sirenja, Sindue Tombusabora, Labuan, dan Banawa Selatan. Penyebaran lokasi ini menunjukkan upaya pemerataan pembangunan pertanian di berbagai wilayah Donggala.
Pengerjaan cetak sawah ini melibatkan proses penyewaan dan pembukaan lahan yang intensif. Dengan realisasi 80 hektare dari 112 hektare lahan yang dikontrak, Pemerintah Kabupaten Donggala terus berupaya menyelesaikan sisa pengerjaan. Program ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi para petani dan masyarakat setempat.
Sumber: AntaraNews