Donald Trump Jadi Presiden AS Paling Banyak Menambah Utang

Utang AS tembus US$ 40 triliun. Data Yahoo! Finance menempatkan Donald Trump paling tinggi menambah utang. Bagaimana perbandingannya dengan presiden lain?

Cahya Alena Fauza
Oleh Cahya Alena Fauza - Reporter
Donald Trump Jadi Presiden AS Paling Banyak Menambah Utang
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, 6 Agustus 2026. (Dok. AP/Alex Brandon)

Rekor utang federal Amerika Serikat menembus US$ 40 triliun (sekitar Rp 708.680 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.717 per dolar AS) pada pertengahan Agustus 2026. Lonjakan ini kembali menyoroti siapa presiden yang paling banyak menambah utang.

Berdasarkan ulasan Yahoo! Finance (27/8/2026) atas data "Debt to the Penny" Kementerian Keuangan AS, Donald Trump berada di peringkat teratas penambah utang selama masa jabatannya yang terpisah. Akumulasi dari dua periode kepemimpinan Trump, yang dijumlahkan lintas masa jabatan, menempatkannya di puncak daftar tersebut.

Total penambahan utang di era Trump disebut mencapai US$ 11,63 triliun. Rinciannya, US$ 7,8 triliun pada periode pertama dan US$ 3,83 triliun selama 19 bulan pertama periode keduanya. Metode penggabungan dua masa jabatan yang tidak berurutan ini juga digunakan oleh Newsweek dalam analisis serupa.

Posisi Obama, Biden, Bush, dan Reagan

Di bawah Trump, Barack Obama berada di posisi kedua dengan penambahan utang sebesar US$ 9,32 triliun selama dua periode kepresidenan.

Joe Biden menempati urutan ketiga dengan total US$ 8,45 triliun dalam satu periode. Jika dihitung murni per satu masa jabatan, penambahan utang era Biden sejatinya melampaui periode pertama Trump.

George W. Bush tercatat menambah utang US$ 4,9 triliun, sementara Ronald Reagan sebesar US$ 1,86 triliun. Seluruh angka tersebut merujuk pada dataset kas harian "Debt to the Penny" dari Kementerian Keuangan AS.

Faktor Defisit Menurut CRFB

Committee for a Responsible Federal Budget (CRFB), lembaga nonpartisan, menekankan bahwa laju utang tidak semata-mata mencerminkan pemborosan oleh presiden. Defisit turut terdorong oleh pemotongan pajak, membengkaknya belanja wajib, turunnya penerimaan negara, serta lonjakan beban bunga.

CRFB mengestimasi kebijakan eksekutif dan undang-undang pada era Biden menyumbang sekitar US$ 4,7 triliun utang baru dalam horizon 10 tahun. Porsi terbesar berasal dari paket bantuan COVID-19 senilai US$ 2,06 triliun dan kebutuhan anggaran fiskal harian.

Perhitungan CRFB tersebut mengecualikan belanja wajib yang sudah ada serta bunga berjalan, sehingga hasilnya berbeda dari kalkulasi berbasis kas Kementerian Keuangan.

Kebijakan Donald Trump Periode Kedua

Pada periode keduanya, proyeksi undang-undang One Big Beautiful Bill Act diperkirakan menambah utang antara US$ 3,4 triliun hingga US$ 4,7 triliun dalam kurun 10 tahun.

Kondisi fiskal turut diperberat oleh penurunan penerimaan bea masuk, yang menekan sisi pendapatan pemerintah federal.

Defisit bulanan per Juli 2026 dilaporkan mencapai US$ 432 miliar.

Struktur Anggaran dan Respons Pejabat

Sekitar 60% dari total anggaran tahunan AS (sekitar US$ 7 triliun) terserap untuk belanja wajib seperti Jaminan Sosial, Medicare, dan Medicaid. Beban pembayaran bunga utang bahkan telah melampaui anggaran pertahanan Pentagon.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan keyakinannya bahwa pemerintah dapat mengatasi lonjakan utang tersebut.

Di sisi lain, Margaret Spellings dari Bipartisan Policy Center menyampaikan kekhawatiran bahwa penumpukan utang mulai membebani biaya hidup dan menekan ruang investasi negara.

Besaran utang juga dipengaruhi faktor di luar Gedung Putih: keputusan anggaran di Kongres, pengeluaran otomatis program jaminan sosial, dan dinamika suku bunga memegang peran sentral dalam pembentukan total utang.

Rekomendasi