Perusahaan Logistik Gencar Perkuat SDM
Sumber daya manusia di sektor logistik mengalami tantangan. Dibutuhkan kolaborasi konkret mengatasinya.
Menurut laporan IMARC, pertumbuhan industri logistik nasional diproyeksikan menembus USD131,4 miliar pada 2033. Proyeksi serupa juga direkam oleh Mordor Intelligence.
Mereka justru memperlihatkan data potensi yang jauh lebih tinggi. Nilai industri “freight & logistics”, kata Mordor, akan meningkat menjadi USD178,1 miliar pada 2030 dengan pertumbuhan tahunan sekitar 6,29 persen.
Angka ini terang saja mendorong perusahaan-perusahaan logistik untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM).
Meski memiliki potensi ekonomi besar, namun harus diakui masih dibayangi kesenjangan keterampilan dan ketimpangan kualitas tenaga kerja antarwilayah.
Kesenjangan Keterampilan
Riset Asosiasi Logistik Indonesia bersama RMIT University, Universitas Indonesia (UI), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengungkapkan masih adanya kesenjangan keterampilan (skills gap) di sektor logistik nasional.
Dalam riset bertajuk “Closing The Gap: Tackling Indonesia’s Supply Chain Skill Challenge”, mereka mencatat kekurangan tenaga kerja dengan kompetensi logistics specialist skills, ICT skills, analytical thinking, serta soft skills seperti komunikasi dan pelayanan pelanggan.
Tak hanya itu saja, laporan OECD/ADB pun menyoroti adanya ketimpangan kualitas tenaga kerja antarwilayah.
Contohnya, kota besar dan kawasan industri di Pulau Jawa lebih unggul dalam kapasitas tenaga logistik dibandingkan wilayah luar Jawa. Tantangan ini yang kemudian harus diselesaikan oleh seluruh pihak.
Industri Perlu Turun Tangan
Sejumlah perusahaan mulai melakukan langkah konkret untuk memperkecil kesenjangan tersebut. Salah satunya adalah J&T Cargo.
Sejak 2024 aktif menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi seperti Universitas Bina Nusantara (BINUS), Universitas Bunda Mulia, Universitas Ma Chung, Universitas Universal, dan Universitas Prima Indonesia.
Kolaborasi ini mencakup sharing session, office tour, campus job fair, dan walk-in interview di berbagai kota besar.
Selama 2025, lebih dari 10 kegiatan kampus telah dilaksanakan, menghasilkan lebih dari 50 mahasiswa yang diterima melalui jalur Management Trainee, staf operasional, dan magang di perusahaan.
“Kami percaya membangun hubungan erat antara dunia pendidikan dan industri adalah kunci untuk menyiapkan SDM yang relevan dengan tantangan masa depan,” kata Shahin Maulana, Talent Acquisition & Employer Branding Manager J&T Cargo.
Penguatan Wawasan Karyawan
Selain rekrutmen, J&T Cargo juga menggelar pelatihan berkala bagi karyawan, antara lain Excel for Business, kursus bahasa Mandarin, fotografi, dan desain UI/UX.
Perusahaan juga memberikan kesempatan kepada karyawan berprestasi untuk mengikuti pelatihan langsung di Shanghai, guna memahami praktik global di industri logistik modern.
“Talenta muda adalah fondasi pertumbuhan berkelanjutan perusahaan. Kami ingin mereka tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki wawasan global dan etos kerja kuat,” ujar Shahin.
Perusahaan saat ini tengah menyiapkan program baru bertajuk “Talent Connect”, forum interaktif yang mempertemukan mahasiswa dengan praktisi industri logistik. Forum tersebut akan menjadi wadah berbagi pengalaman dan jejaring karier bagi generasi muda.
“Kami ingin menjembatani potensi lokal dengan kebutuhan industri global. Melalui berbagai inisiatif ini, J&T Cargo berkomitmen membangun ekosistem talenta logistik yang adaptif dan kompetitif,” tutur Shahin.