Pakar Ingatkan Waspada FOMO dalam Investasi Emas di Tengah Gejolak Harga Global
Lonjakan harga emas memicu minat tinggi, namun pakar mengingatkan investor pemula untuk tidak terjebak fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dalam Investasi Emas dan memahami sifat jangka panjangnya.
Pakar ekonomi dari Universitas Mulawarman (Unmul), Felisitas Defung, mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak fenomena tak mau ketinggalan atau fear of missing out (FOMO) di tengah tren lonjakan harga emas. Kenaikan harga ini dipicu oleh kondisi geopolitik serta ekonomi global yang bergejolak.
Defung menekankan bahwa bagi investor pemula, kehati-hatian sangat diperlukan. Ia menyarankan agar tidak hanya terpicu oleh harga yang sedang bagus, sebab investasi emas memiliki sifat jangka panjang dan bukan untuk sekadar mengejar keuntungan sesaat.
Imbauan ini disampaikan di Samarinda pada Jumat, 30 Januari 2026, ketika harga emas di pasaran terpantau cukup tinggi. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat, khususnya di Kalimantan Timur.
Waspada FOMO dan Sifat Jangka Panjang Investasi Emas
Pakar ekonomi Felisitas Defung menegaskan bahwa lonjakan harga emas saat ini dipengaruhi oleh kondisi geopolitik dan ekonomi global yang bergejolak. Ia mengingatkan investor pemula untuk tidak mudah terpancing oleh harga yang sedang tinggi. Investasi emas sejatinya bersifat jangka panjang, bukan sekadar untuk mengejar keuntungan sesaat.
Minat generasi milenial dan Gen Z terhadap emas memang meningkat drastis. Hal ini tak lepas dari derasnya informasi di media sosial yang terus menampilkan grafik kenaikan harga harian secara masif. Namun, Defung menekankan pentingnya kehati-hatian agar tidak terjebak fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang dapat mendorong keputusan investasi impulsif.
Pada hari Jumat, 30 Januari 2026, harga emas di pasaran terpantau cukup tinggi. Produk Galeri24 dibanderol Rp3,26 juta per gram, sementara produk UBS menyentuh angka Rp3,27 juta per gram. Angka ini menunjukkan betapa menariknya pasar emas saat ini, namun juga potensi risiko bagi yang tidak berhati-hati dan hanya mengikuti tren.
Kemudahan Investasi Digital dan Keamanan Transaksi Emas
Kehadiran platform investasi digital telah mempermudah masyarakat untuk membeli emas. Investor bisa memulai dengan nominal kecil, misalnya Rp500 ribu, tanpa harus terpaku pada pembelian fisik seberat satu gram. Ini membuka akses lebih luas bagi masyarakat untuk berinvestasi, termasuk bagi mereka yang memiliki modal terbatas.
Meskipun menawarkan kemudahan, masyarakat diminta waspada terhadap aplikasi investasi bodong. Penting untuk memastikan platform yang digunakan telah terdaftar resmi di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Verifikasi legalitas platform adalah langkah krusial untuk melindungi aset dan menghindari kerugian finansial.
Investasi digital memang cocok bagi generasi muda yang mengutamakan kepraktisan. Namun, investasi fisik tetap memiliki keunggulan tersendiri bagi mereka yang merasa lebih aman memegang aset secara langsung, meskipun membutuhkan biaya penyimpanan tambahan yang perlu dipertimbangkan.
Strategi Investasi Emas yang Bijak dan Literasi Keuangan
Akademisi dari Unmul tersebut menekankan bahwa strategi terbaik dalam berinvestasi emas adalah tidak memaksakan diri membeli saat harga berada di puncak. Terlebih lagi, sangat tidak disarankan menggunakan modal dari pinjaman atau utang untuk investasi ini, karena dapat menimbulkan risiko finansial yang tidak perlu.
Edukasi yang komprehensif sangat diperlukan agar masyarakat Kalimantan Timur memiliki literasi keuangan yang mumpuni. Dengan literasi yang baik, masyarakat tidak hanya sekadar mengikuti tren, namun mampu mengelola aset untuk masa depan yang lebih stabil dan terencana.
Fokus pada pemahaman fundamental pasar dan tujuan investasi pribadi jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti euforia sesaat. Membangun portofolio investasi yang sehat memerlukan perencanaan matang, informasi yang akurat, serta pengambilan keputusan berdasarkan analisis yang cermat.
Sumber: AntaraNews